| Judul novel | The Way I Used to Be |
| Penulis | Amber Smith |
| Penerbit | Simon & Schuster |
| Tahun terbit | 2016 |
| Halaman | 367 halaman |
Saat novel ini pertama kali ditulis, penulis buku ini tidak berniat mempublikasikannya karena buku ini terinspirasi dari pengalamannya sendiri terhadap kekerasan. Namun, setelah berbagi sedikit tentang buku ini dengan teman-temannya, ia memutuskan bahwa lebih banyak orang perlu membaca buku ini dan lebih sadar terhadap kekerasan serta berani untuk bersuara.
Tokoh utama novel ini bernama Eden McCorey yang mengalami kekerasan. Parahnya, itu dilakukan oleh teman kakaknya sendiri yang bernama Kevin. Tak lama setelah kejadian naas itu terjadi, ibunya bertanya tentang apakah ada sesuatu yang salah. Ia yang telah diancam dan dibungkam pun tidak tahu bagaimana harus menceritakannya. Bagian tersebut yang memicu banyak pertanyaan karena pada saat itu ibunya memotong pembicaraannya, jika saja ibunya memilih untuk mendengarkannya mungkin banyak hal buruk dapat dicegah. Sayangnya, hal itu telah terjadi dan itu hanyalah permulaan dari kekacauan di hidupnya. Tidak ada seorang pun yang mengerti apa yang telah terjadi padanya bahkan orang tua, kakak, dan teman dekatnya sekalipun.
Ia ingin berubah menjadi seseorang yang baru, meninggalkan hidup lamanya di masa lalu. Mulai dengan penampilan baru yang didukung oleh teman dekatnya, Mara. Tetapi, itu semua hanya pelarian untuk menutupi kejadian tersebut. Pada hari pertamanya di sekolah, ia juga mulai dilirik oleh seorang pemain basket terkenal bernama Joshua Miller atau yang biasanya dipanggil Josh.
Eden mencoba tak menghiraukannya, ini justru memicu Josh untuk bersih keras mencoba untuk mendapatkan Eden. Suatu hal yang Eden sadari adalah Josh sangat berbeda dari Kevin walaupun berada di tim basket yang sama.
Walaupun Eden tidak menceritakan apa yang terjadi pada dirinya, mereka mencoba mengerti satu sama lain. Eden selalu berlagak seakan ia tak peduli pada Josh meski di dalam hatinya ia sebenarnya sangat peduli padanya. Sekeras apa Josh mencoba untuk mengerti Eden tetap saja ada hal aneh yang mengganjal di benaknya.
Akhirnya, hubungan mereka harus berakhir. Setahun setelah itu, lingkungan Eden semakin parah dan Mara justru semakin memperburuknya dengan mengajaknya ke pesta-pesta serta mencoba obat terlarang.
Hubungan Eden dengan orang tuanya juga tak kunjung membaik. Puncaknya adalah saat ia kelas 12, ia justru dijauhi oleh Mara, teman dekatnya sendiri yang kecewa atas kelakuan dan kata-kata Eden yang kasar. Pada akhirnya, pihak kepolisian datang untuk mewawancarai orang yang mengenal Kevin karena ada laporan terlibat dalam tindak kekerasan.
Eden yang kecewa kepada dirinya sendiri merasa cemas dan takut. Dia ingin melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, namun nyalinya ciut. Dia pun memutuskan menemui Josh setelah sekian lama. Dia percaya Josh adalah orang yang dapat mengerti apa yang ia alami. Ia menceritakan semua yang telah terjadi padanya kepada Josh dan kakaknya melalui sebuah tulisan karena ia masih saja kebingung mengekpresikan dirinya secara lisan. Eden juga memutuskan untuk melaporkan kejadian itu pada polisi dan berniat meminta maaf pada temannya.
Baca juga: Review Novel Sisi Tergelap Surga Karya Brian Khrisna
Penilaian Karya
Setiap novel tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, begitu juga dengan novel ini. Novel ini dibuka dengan kejadian setelah kekerasan terjadi sehingga dari awal pembaca sudah merasakan empati terhadap Eden, sang tokoh utama dan tertarik untuk membaca lebih lanjut.
Novel ini membuka pikiran pembaca dan menunjukkan perspektif baru bagi pembacanya. Novel ini menggambarkan cara-cara orang menghadapi traumanya, dapat terlihat dari perilaku Eden yang semakin berani untuk membangkang supaya dianggap lebih keren dan berbeda dengan dirinya yang dulu. Sudut pandang orang pertama dalam buku ini memperlihatkan seberapa kecewa Eden terhadap dirinya serta rasa keterpurukannya yang mendalam.
Gaya bahasa pada novel ini juga tergolong cukup mudah untuk dimengerti serta cocok untuk pembaca yang bahasa ibunya yang bukan bahasa Inggris. Tokoh utama dalam buku ini terkadang melakukan hal-hal yang membuat saya sebagai pembaca kebingungan saking impulsifnya hal-hal yang dilakukan. Tetapi, saya juga belajar memahami perspektif tokoh utama ini. Akhir dari cerita ini termasuk cerita terbuka sehingga terdapat banyak peluang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Adapun kekurangan dari buku ini ialah tema yang dibahas di novel ini bisa dibilang berat. Tema utama di buku ini yakni trauma setelah terjadinya kekerasan. Maka buku ini dapat menguak kembali trauma bagi sebagian pembaca terutama pembaca yang memang telah memiliki trauma sebelumnya. Karena walaupun pembaca tidak pernah merasakan apa yang telah dialami Eden, hati pembaca akan berkecamuk saat melihat keadaan Eden terutama di bagian akhir di mana ia tetap bingung dan ragu untuk menyampaikan apa yang telah terjadi padanya setelah sekian lama.
Apalagi jika ada pembaca yang sudah memiliki pengalaman serupa membaca buku ini dapat mengingatkan mereka kembali akan masa lalu mereka sehingga dapat mengganggu pengalaman membaca mereka. Selain itu, alur pada bagian tengah buku ini lebih lambat dibandingkan awal maupun akhir.
Buku ini cocok untuk pembaca yang ingin lebih terbuka dan ingin membaca buku dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan buku. Buku ini menginspirasi orang-orang agar berani beraksi dengan tulisan, menceritakan trauma, dan tidak berlarut-larut terjebak dalam trauma secara bertahap.
