Pramoedya Ananta Toer, yang sering dipanggil Pram, merupakan seorang sastrawan yang berasal dari Indonesia. Selain cerita-cerita fiksi yang diterbitkan oleh Pram, ia memiliki satu satunya buku nonfiksi yang menceritakan semasa Pram menjadi tahanan di Pulau Buru.
Buku itu berisikan surat menyurat untuk anak-anaknya, pengalamannya semasa menjadi tahanan politik rezim militerisme, juga sebagai pengarang. Buku itu berjudul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Diterbitkan pertama kali di Belanda 1988-1986 dengan judul Lied Van Een Stomme.
Dalam bukunya, Pramoedya ditahan karena dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September (G30S), meskipun tidak pernah terbukti secara sah atau dengan tuduhan yang tidak jelas adanya. Pram ditahan 14 tahun lamanya, sebagian besar waktunya dihabiskan di Pulau Buru.
Saat Pram ditahan, hal ini tidak membuat dirinya berhenti menulis juga membaca. Ia akan menulis jikalau ada kesempatan dan dengan kondisi yang tidak lelah. Salah satu momen menarik di buku ini, ketika Pram sempat menerima surat dari Presiden kedua Indonesia, yaitu Presiden Soeharto pada tanggal 10 Oktober 1973.
Jarang sekali terjadi di dunia, ketika seorang presiden meluangkan waktunya untuk menuliskan surat kepada seorang tahanan. Surat itu menceritakan Presiden Soeharto yang mendapatkan kabar dari PANGKOPKAMTIB Jenderal TNI Soemitro, tentang keadaan para tahanan. Kemudian, presiden mengakui bahwa kekhilafan adalah hal yang wajar bagi manusia. Namun, penting juga bagi manusia untuk memiliki kelanjutan yang wajar dari kesalahan “Kejujuran, keberanian dan kemampuan untuk menemukan kembali jalan yang benar dan dibenarkan.”
Yang paling menyentuh dari buku ini ada pada bagian “Kembali ke Wanayasa” di mana Pram bercerita bahwa ia tiba-tiba kehilangan kemampuan mendengar. Ia menjadi tuli, dan kepanikan langsung menyergapnya. “Adakah aku takkan pernah dengar suara anak-anakku untuk selama-lamanya?” tanyanya dalam hati.
Kalimat itu menggambarkan kerinduan, kecemasan, dan trauma yang bercampur menjadi satu. Ketuliannya perlahan membaik, meskipun tidak sepenuhnya pulih. Sejak saat itu, ia harus berbicara lebih keras agar lawan bicaranya pun berbicara dengan nada yang cukup keras untuk bisa ia dengar.
Melalui surat-suratnya kepada anak-anaknya kita melihat sisi lain dari Pram, bukan hanya sebagai intelektual dan pengarang, tetapi juga sebagai seorang ayah yang penuh kasih sayang dan rindu yang tak tersampaikan.

Nilai-nilai kemanusiaan sangat kental di buku ini. Karena Pram juga menggambarkan penderitaan sesama tahanan. “Hidup tanpa harapan adalah hidup yang kosong.” Kata Pramoedya Ananta Toer ini menjadi
salah satu kalimat yang saya sukai.
Saya setuju dengan kalimat ini karena memang, ketika harapan hilang, segalanya terasa sunyi. Tak ada cahaya, tak ada tujuan. Harapan, sekecil apapun, adalah cahaya yang membuat kita tetap percaya bahwa hidup layak untuk diperjuangkan.
Tetapi Pramoedya Ananta Toer juga pernah mengatakan “Bunuhlah aku bila tak dibutuhkan lagi oleh kehidupan.” dalam bukunya. Kalimat yang begitu getir keluar dari mulut Pram, kata-kata ini lahir dari pengalaman pribadi yang penuh luka dan penindasan yang dialaminya.
Baca juga: Dari Novel Rara Mendut ke Babad Tanah Jawi: Menyingkap Tradisi Setonan/Senenan di Istana Mataram
Penilaian Buku
Kelebihan dari buku ini menurut saya adalah kekuatan emosional dan kejujuran narasi yang terasa menyentuh nurani para pembaca. Keberanian dan kejujuran Pram dalam mengungkapkan luka sejarah bagi bangsa, menjadi kekuatan moral utama dalam buku ini.
Sayangnya buku ini kurang cocok untuk para pembaca yang mencari buku untuk hiburan atau cerita ringan. Membaca buku ini mungkin juga terasa berat secara emosional untuk beberapa orang karena kejujurannya yang menyayat. Kemudian struktur naratifnya yang tidak runtut, karena berisikan catatan harian Pram, surat pribadi dan esai yang ia tulis dalam konteks dan waktu yang berbeda-beda.
Pram menulis buku ini dengan apa adanya, sesekali juga kita dapati Pram menulis rangkaian kata dengan nada puitis. Namun, tidak ada kata yang berlebihan dan dramatisasi. Banyak dari isinya terasa personal, karena sebagian ia menulis surat untuk anak-anaknya, dan menuliskan kritik sosial yang tajam.
Pram menuliskan buku ini untuk melepas rindu kepada anak-anaknya juga sebagai bentuk perlawanan para tahanan yang menderita. Semua katanya selalu memiliki makna dan mengandung sejarah kemanusiaan.

Di akhir bagian buku ini juga menampilkan biodata dan riwayat-riwayat para korban yang menjadi tahanan serta alasan-alasan meninggalnya para korban.
Saya merekomendasikan buku yang memiliki 12 bagian dengan 6 lampiran ini kepada para pembaca yang gemar membaca hal-hal yang berbau sejarah dan politik. Karena buku ini tidak hanya menyajikan kisah kehidupan Pramoedya Ananta Toer selama masa pembuangan di Pulau Buru, tetapi juga menjadi saksi bisu dari sejarah kelam bangsa yang sempat dibungkam.
Melalui kata-kata ia menyuarakan penderitaan, ketidakadilan, dan pergulatan batin dengan begitu jujur dan tajam. Menjadikan buku ini lebih cocok untuk orang-orang yang ingin mencari tau sejarah, serta ingin bernostalgia bersama sejarah.
