Masa muda menjadi sebuah bara api yang harus tetap menyala di tengah sunyi dunia yang
penuh dengan intrik dan ketidakpastian. Layaknya seorang ksatrian di medan perang, pemuda
memiliki sebuah tekad yang tak terbantahkan, namun rentan rapuh. Representasi masa muda
mungkin dapat disematkan ke band asal Klaten yaitu The Jeblogs.
Pasalnya, mereka membuktikan bahwa perkumpulan karang taruna yang berisikan anak muda bisa
menggemparkan dunia musik Indonesia dengan membawa ritme energik ciri khas genre rock
dan lirik metafora reflektif yang mudah dicerna dan yang pasti relevan dengan fenomena kekinian.
Saya merasa band satu ini, setiap bait lagu yang diciptakan mengacu aliran filsafat
absurdisme yang sering digambarkan oleh kisah Sisifus dalam mitos Yunani.
Indah namun tragis begitulah kiranya mereka melukiskan kehidupan di dunia, sebab kepasrahan,
ketidakpastian, dan keresahan selalu menyelimuti. Lalu bagaimana Amir serta kawan-
kawan menyampaikan absurditas dunia melalui musik?

Kita awali dengan lagu Menari Resah yang dirilis pada tahun 2023. Dentuman semangat drum dan gesekan gitar agak kencang menghiasi 90% lagu ini. Pendengar diajak merasakan euforia resah yang sedang kita alami, tanpa penghakiman para pendengar dapat berimajinasi bahwa keresahan yang terafiliasi kepada suatu hal negatif dapat disatupadukan dengan gerakan positif seperti menari. Bait “menarilah bersama resah” menambah sedapnya lagu, karena menerima segala keresahan menjadi sebuah langkah berani menghadapi ketidakpastian dunia.

Lewat judul Atas Nama (2021) mereka seakan bersumpah bahwa solusi untuk melompati dinding tinggi tak berujung dunia perlu rekonstruksi kesadaran dari masa muda. Kenapa begitu? Sebab pondasi ketidaktakutan menghadapi kenyataan tak berujung berawal dari keberanian untuk bangkit kembali dari tekanan kegagalan.
Sekiranya hal itu ditunjukan dalam
bunyi bait:
“Menangis, tertawa sepuasnya
Bagai peluru tanpa tuan
Lompati pagar berduriJatuh dan bangun berkali-kali”
Jatuh bukan dijadikan sebuah alasan untuk menyerah, melainkan jadi batu loncatan berbenah menjadi lebih baik. Namun, pesan tetap mengedepankan etika di setiap perjuangan masih terasa sambil juga menyadarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Beranjak ke lagu yang sering menjadi anthem pada setiap panggung yaitu Sambutlah (2023). Lagu ini, masih membawa tajuk utamanya “masa muda” dengan sedikit mengubah sebutannya menjadi “generasi baru”. Berbeda dari sebelumnya dalam bait lagu ini mengisyaratkan bahwa manusia seperti sedang berjalan di tempat yang sama tanpa bergerak maju maupun ke belakang.
Kondisi stuck yang sedang dialami manusia perlu diberi kesegaran memuncak oleh generasi baru yang masih belum terkontaminasi pembatasan. Mereka digambarkan sebagai benih bertumbuh yang sedang mencari pembaruan secara bebas untuk keluar dari zona stagnasi.
Jelas hal ini dapat kita pahami dalam liriknya:
“Benih-benih bertumbuh di sela puing
Harapan mencari jalannya
Orang-orang muda berkobar menjelma cahaya
Lajunya tak terbendung, jadi bersiaplah, maka rayakanlah”
Namun, nuansa kemungkinan menemukan kegagalan dalam perjalanan pembaruan atau sebaliknya masih kental terasa, tetapi terpenting tugas manusia dalam menghadapi stagnasi dunia adalah tetap berjalan.
“Mungkin kita sampai
Mungkin saja tidak
Tugas kita hanyalah berjalan”

Pilu, tragis, dan ikhlas perlu dijalani oleh setiap insan dalam kehidupan yang digambarkan
pada Track 8 (2023). Lagu hasil kolaborasi bersama Trigga Coca berhasil membuat para pendengar bisa meresapi pahit-manis kehidupan dunia. Penggambaran manusia yang sedang mengalami frustasi akan situasi kehilangan jatidiri. Merasa dirinya adalah ampas, berakhir dengan kepasrahan untuk akhiri bercerita hidup. Terbesitnya keputusasaan itu karena adanya kesempitan berpikir mencari makna yang lebih luas mengenai arti hidup.
Puisi gelisah diri yang dibacakan dalam sela-sela lagu mengisyaratkan dialog antara diri sendiri yang mencoba mencari jalan keluar dari keputusasaan. Dengan membaca teks suci dan fenomena sekitar, menjadi alasan meyakini bahwa putus asa adalah hal yang tetap ada serta menyadarkan bahwa memori kelam adalah pelajaran untuk beranjak ke kehidupan yang lebih mapan.
Dalam liriknya mereka berpesan:
“Sampai kapan kau diam di kepala
Sedang dunia begitu luasnya
Jangan mati membusuk di sana Biarkan kakimu mengembara”
Lagu ini adalah pengakuan diri atas hidup yang tidak melulu tentang bahagia serta layak dijalani. Terkadang, keberhasilan manusia adalah memilih untuk tetap hidup sampai waktu yang ditentukan.

Beranjak kelagu yang cukup hits dikalangan anak muda sampai disebut dengan “lagune wong
kalahan”, yaitu Bersandarlah (2023). Lagu ini mengajak kita semua merefleksikan kehidupan
yang telah kita arungi. Pasalnya kenyataan dan kesepian dalam menjalani hidup adalah
sebuah keniscayaan yang harus dihadapi dan tak bisa dihindari. Dengan menepi sejenak
ditemani oleh sandaran bahkan pelukan, menjadi sebuah cara untuk mengistirahatkan tubuh
serta pikiran dari hantaman dunia yang disebabkan oleh perlombaan sukses tak berujung.
Ini disematkan dalam liriknya, berbunyi:
“Babak belur kau dihajar kenyataan
Darah segar menetes dari bibirmu
Dan waktu berlalu begitu cepat
Mengalir di tanganmu tak tergenggam
Tak terkejar tak terhentikan
Ada kalanya menepi
Menanti datangnya pagi”

Lagu ini menyatakan ketidakperluan merasa kalah dalam kehidupan dunia, sebab ketidaksempurnaan realita yang terhampar hanya membutuhkan perangkulan dan pemahaman, walau diakhiri lepasnya segala pencarian makna. Alasan untuk menerima bentuk absurd dunia adalah menyadari bahwa segala macam benda yang bernama dan setiap waktu bergerak manusialah yang mencari tafsirnya. Mereka menambahkan kesia-siaan dalam absurdnya dunia bukan suatu niscaya, malah perasaan sia-sia itu timbul karena merasa memiliki dan kehilangan suatu pencarian.

Ini adalah perayaan muram dari The Jeblogs dan Lelalona, sebuah balada untuk cinta yang gugur sebelum waktunya. Sebuah tanya yang tak terjawab, merenung mengapa perpisahan menjadi takdir yang kejam—di tapi terpaksa diterima. Rasa ikhlas merembes di setiap larik, menjadi perekat luka. Mereka berkisah, bahwa setiap letusan asmara yang membara harus direnungkan agar kita bisa menangkap wujud cinta yang hakiki. Melepaskan, pada akhirnya, adalah sebuah niscaya yang perlu dipeluk, karena hanya dengan begitu hati yang patah bisa tumbuh kembali, lebih bijak dan lebih utuh.
Perlu kita sadari bahwa, musik yang dilantunkan oleh musisi adalah sebuah pengingat, anjuran, atau pembatas yang berasal dari refleksi diri. The Jeblogs coba menyajikan sebuah pesan dengan memadukan isu masa muda dan teori absurditas dunia yang perlu anak muda pahami, sehingga tidak terjebak dalam keputusasaan karena kebuntuan yang mungkin belum ditemukan jalan keluarnya.
