Pulang Kerja, Kerja Lagi: Ketika Rumah Belum Menjadi Ruang yang Setara

Jika berbicara tentang kesetaraan gender, pikiran kita sering kali langsung tertuju pada isu-isu besar seperti keterwakilan perempuan di dunia politik, kesenjangan upah, atau akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Padahal, ketimpangan yang paling nyata justru sering tumbuh di tempat yang paling dekat dengan kehidupan kita, yaitu di dalam rumah. Tempat yang seharusnya menjadi ruang untuk berbagi beban, dalam banyak keluarga justru masih menjadi ruang di mana perempuan memikul tanggung jawab yang lebih besar. Kesadaran tersebut tidak saya peroleh dari berita ataupun media sosial, melainkan dari pengamatan terhadap kehidupan di sekitar lingkungan saya. 

Setiap sore, jutaan keluarga di Indonesia melakukan rutinitas yang hampir sama. Ayah dan ibu sama-sama pulang setelah bekerja seharian. Namun, ketika memasuki rumah, hari kerja mereka sering kali tidak benar-benar berakhir pada waktu yang sama. Bagi sebagian besar perempuan, pekerjaan justru berlanjut. Mereka masih harus memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, mencuci piring, hingga memastikan seluruh kebutuhan anggota keluarga terpenuhi. Sementara itu, laki-laki lebih sering memiliki kesempatan untuk beristirahat terlebih dahulu.

Pemandangan seperti ini begitu melekat sehingga sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Kalimat seperti “namanya juga perempuan” atau “urusan dapur memang tugas perempuan” masih sering terdengar pada kehidupan sehari-hari. Padahal, jika dilihat lebih dalam, hal tersebut menunjukkan bahwa ketidakadilan gender masih ada dan terus berlanjut, bahkan di lingkungan yang paling dekat dengan kita, yaitu keluarga.

Gender bukanlah sekadar perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, melainkan konstruksi sosial mengenai bagaimana seseorang berperan dalam masyarakat. Hanya saja, konstruksi tersebut masih menempatkan perempuan sebagai orang yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan domestik. Sehingga, walaupun perempuan sudah bekerja dalam perekonomian keluarga dengan pekerjaan di luar rumah, mereka tetap dibebani oleh tanggung jawab untuk mengurus rumah tangga.

Saya pernah mengamati sebuah keluarga di lingkungan tempat tinggal saya. Ayah dan ibunya sama-sama bekerja sebagai pegawai dengan jam kerja yang hampir sama. Akan tetapi, sepulang kerja, sang ibu masih harus memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, membantu anak belajar, sampai menyiapkan kebutuhan keluarga untuk keesokan harinya. Sementara itu, sang ayah lebih sering beristirahat atau menikmati waktu luang. Ketika ada pekerjaan rumah yang belum selesai, beban tersebut hampir selalu ditujukan kepada ibu ataupun anak perempuan. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pembagian pekerjaan rumah masih belum adil, dan masih beranggapan bahwa pekerjaan domestik memang merupakan tanggung jawab perempuan.

Hal tersebut memperlihatkan berbagai bentuk ketidakadilan gender. Salah satunya adalah stereotip bahwa perempuan dianggap lebih telaten, sabar, dan cocok mengurus rumah tangga. Stereotip ini kemudian berkembang menjadi subordinasi, yaitu anggapan bahwa pekerjaan domestik memiliki nilai yang lebih rendah dibanding pekerjaan yang menghasilkan pendapatan. Padahal, pekerjaan rumah tangga memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan keluarga.

Akibatnya, banyak perempuan mengalami beban kerja ganda. Setelah menyelesaikan pekerjaan profesional di luar rumah, mereka masih harus mengerjakan hampir seluruh pekerjaan domestik tanpa adanya pembagian tanggung jawab yang seimbang. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kelelahan fisik maupun mental, mengurangi waktu untuk beristirahat, bahkan membatasi kesempatan perempuan untuk mengembangkan diri, melanjutkan pendidikan, ataupun meningkatkan karier.

Di sisi lain, pembagian peran yang terlalu kaku juga berdampak pada laki-laki. Mereka sering kali dibentuk oleh budaya yang mengharuskan mereka menjadi pencari nafkah utama, sehingga keterlibatan dalam mengurus rumah dan mengasuh anak dianggap bukan bagian dari tanggung jawab mereka. Sehingga, kesempatan membangun kedekatan emosional dengan keluarga menjadi berkurang. Padahal, pengasuhan dan pekerjaan rumah bukanlah persoalan jenis kelamin, melainkan bentuk kerja sama dalam keluarga.

Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah budaya patriarki yang masih kuat dalam masyarakat. Dalam sistem tersebut, laki-laki diposisikan sebagai pemimpin sekaligus pencari nafkah, sedangkan perempuan ditempatkan sebagai pengurus rumah tangga. Cara pandang ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi melalui pola asuh di dalam keluarga. Sejak kecil, anak perempuan lebih sering diminta membantu memasak, mencuci, atau menyapu rumah, sedangkan anak laki-laki lebih banyak diberikan kebebasan bermain. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut membentuk keyakinan bahwa pekerjaan domestik memang merupakan tugas perempuan.

Media juga memiliki pengaruh yang terhadap hal ini. Iklan, tayangan televisi, maupun konten media sosial masih sering menggambarkan perempuan sebagai sosok yang identik dengan dapur, cucian, dan pengasuhan anak. Representasi seperti ini memperkuat anggapan bahwa pekerjaan rumah merupakan kodrat perempuan, padahal pembagian peran dalam keluarga seharusnya dibangun melalui komunikasi dan kesepakatan bersama.

Kesetaraan gender tidak hanya berbicara tentang kesempatan perempuan memperoleh pendidikan tinggi atau bekerja di ruang publik. Kesetaraan juga dimulai dari hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari di dalam rumah. Ketika pekerjaan domestik dipandang sebagai tanggung jawab bersama, perempuan tidak lagi memikul beban ganda sendirian, dan laki-laki pun memiliki kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam kehidupan keluarga. Rumah akhirnya bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang pertama untuk mempraktikkan keadilan dan kesetaraan.

Referensi

Fakih, M. (2013). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tong, R. (2009). Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction. Boulder: Westview Press.

Umar, N. (2014). Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Dian Rakyat.

Oakley, A. (2015). Sex, Gender and Society. London: Routledge.

Bionarasi

Diva Islamiah Putri merupakan mahasiswi PPKn yang memiliki ketertarikan pada isu sosial, pendidikan, dan kesetaraan gender. Ia percaya bahwa tulisan dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial melalui sudut pandang yang reflektif dan kritis.

Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya