Pukul Tiga Sore di Tunjungan Plaza 

Pukul tiga sore di Tunjungan Plaza selalu punya ritmenya sendiri. Bukan jam sibuk, bukan pula jam lengang. Cahaya matahari memantul di dinding kaca gedung, membuat lantai-lantai mengilap terlihat seperti sedang memamerkan diri. Orang-orang berjalan santai, sebagian baru keluar kantor, sebagian lagi sekadar mengisi waktu sebelum macet sore mengunci jalanan kota. 

Aku masuk lewat pintu utama dengan perut kosong dan kepala penuh perhitungan. Bukan soal menu apa yang ingin kumakan, tapi soal promo mana yang masih berlaku hari ini. 

Sejak beberapa tahun terakhir, makan di mal bukan lagi perkara mampu atau tidak mampu. Semua orang bisa terlihat “makan enak” asal tahu cara memutar angka. Voucher digital, diskon kilat, hingga potongan harga dari aplikasi, semuanya menjanjikan sensasi menang kecil yang membuat dompet terasa lebih ringan, tapi hati seolah puas. 

Aku hafal betul pola itu dan juga termasuk anak yang senang jajan di mal, tapi jarang benar-benar membayar harga penuh. 

Hari itu aku sudah mengincar satu gerai di lantai bawah. Aku berdiri di antrean, menyiapkan ponsel, memastikan sinyal stabil. Ketika giliranku tiba, aku menyodorkan layar pada kasir, seorang perempuan muda dengan wajah lelah tapi senyum terlatih. 

Ia menatap layar sebentar. Lalu menggeleng pelan. 

“Maaf, Kak. Promonya sudah habis,” ujarnya.

Aku refleks membuka ulang aplikasi, menunjukkan syarat dan waktu. 

“Ini masih jam tiga, Mbak”.

Ia tetap menggeleng. Nada suaranya sopan, tapi tak memberi celah. Di belakangku, antrean mulai bergeser, tubuh-tubuh saling mendekat, seolah tak sabar melihatku selesai dari percakapan yang bagi mereka tak penting. 

Aku mengangguk, menyingkir dan ponsel pun kumasukkan ke saku. Namun, Perutku masih kosong.

Di sekelilingku, orang-orang tetap makan. Ada yang memotret hidangan sebelum menyuap, ada yang tertawa kecil, ada yang sibuk memilih saus. Tak satu pun dari mereka peduli pada promoku yang gagal atau laparku yang tertunda. 

Di dalam mal, lapar adalah masalah kecil. Selalu ada pilihan lain. Tapi entah kenapa, langkah kakiku justru membawaku keluar melewati pintu samping Tunjungan Plaza yang jarang dipilih pengunjung. 

Begitu keluar, kota berubah wajah. 

Gang sempit itu terhampar di sisi gedung, seperti ruang yang lupa dipoles. Aspalnya tak rata, bau minyak goreng bercampur asap kendaraan. Di sepanjang gang, gerobak-gerobak berdiri rapat, terlalu rapat, bahkan seolah saling berlomba mencuri perhatian di ruang yang terbatas. 

Di kiri-kanan, beberapa gerobak berjajar, sebagian masih tertutup terpal, sebagian baru dibuka setengah hati, seolah ragu apakah sore ini akan ramai atau kembali sunyi. 

Sebagian besar dari mereka menjual hal serupa: nasi, lauk, gorengan, dan jajan-jajanan. Saingannya bukan cuma mal, tapi juga sesama penjual di gang itu sendiri. 

Aku berhenti di satu gerobak nasi bebek, Nasi Bebek Palapa. Tulisan spanduknya sudah pudar, tapi bersih. 

Seorang bapak paruh baya berdiri di belakangnya, merapikan lauk dengan gerakan tenang. Di sampingnya, seorang anak laki-laki, mungkin duduk di bangku SMP sedang mengelap meja plastik, berkali-kali, seperti ingin memastikan semuanya benar-benar siap. 

“Sudah buka, Pak?” tanyaku. 

Bapak itu menoleh cepat, matanya langsung berbinar. 

“Sudah, Nak. Silakan.” 

Aku melihat jam di ponsel. 

Pukul tiga lewat sepuluh. 

Aku memesan satu porsi nasi bebek. Ketika mendengar harganya, aku sempat terdiam. Angka itu bahkan tak cukup untuk membeli minuman di dalam Tunjungan Plaza. 

Bapak itu tertawa kecil melihat ekspresiku. 

“Ini pembeli pertama hari ini,” katanya, seperti sedang membagi rahasia. 

Aku duduk di bangku plastik sambil mengamati sekitar. Di ujung gang, seorang sopir becak sedang makan sendiri. Di dekat tembok, dua pengemudi ojek daring duduk sambil menunggu pesanan masuk. Selain mereka, gang itu sepi.

Bapak itu menyiapkan makananku perlahan. Gerakannya hati-hati, seperti seseorang yang tahu bahwa setiap porsi tak bisa dianggap biasa. Anaknya membantu, sesekali melirik ke arah jalan, mungkin berharap ada orang lain yang masuk ke gang ini. 

Aku menyuap nasi bebek itu. 

Hangat. Mengenyangkan. Nyata. 

“Sekarang sepi, ya, Pak?” tanyaku pelan. 

Ia mengangguk. 

“Sejak orang-orang bisa pesan makanan dari aplikasi.” 

Ia tak menyebut merek, tapi aku tahu maksudnya. Aplikasi itu membuat makanan datang tanpa kaki harus melangkah. Tanpa mata harus menengok ke gang sempit. Tanpa harus melihat siapa yang memasak. 

“Biasanya yang beli ya karyawan mal,” lanjutnya, “sama tukang becak, kadang ojol yang nunggu order.” 

Aku mengangguk. Aku baru sadar betapa kecil lingkaran pembeli mereka. 

Di sepanjang gang, semua orang berjualan. Artinya, meski ada pembeli, keberuntungan tetap berperan besar. Siapa yang lebih dulu dilihat, siapa yang kebagian hari itu. Tidak ada algoritma yang mengatur giliran. Tidak ada promosi yang bisa ditebus dengan klik. 

“Bapak nggak masukin ke aplikasi?” tanyaku hati-hati. 

Ia tersenyum kecil. 

“Bapak nggak bisa, Nak. Sudah tua.” 

Ia mengatakan itu tanpa malu, tanpa keluhan. 

“Pakai HP aja masih sering salah pencet. QRIS juga nggak punya.” 

Aku pun terdiam. 

Di seberang gerobaknya, ada satu penjual yang menempelkan kode QR besar di spanduk. Ada pula yang sibuk melayani pesanan dari ponsel. Gang ini tidak sepenuhnya tertinggal. Sebagian sudah mencoba mengikuti zaman, sebagian lain tertinggal bukan karena malas, tapi karena usia dan keterbatasan. 

“Anak saya bisa, sih,” katanya sambil melirik anaknya. “Tapi belum cukup buat urus semuanya.” 

Aku memandang gedung Tunjungan Plaza di ujung gang. Di sana, pembayaran serba cepat, serba digital. Di sini, uang tunai masih berpindah tangan dengan pelan.

Aku menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhitunganku. Aplikasi makanan membuat hidupku mudah, tapi tanpa sadar juga membuat tempat seperti gang ini semakin sepi. Orang-orang tak lagi tersesat ke sini. Tak lagi duduk di bangku plastik. Tak lagi melihat wajah-wajah yang memasak makanan mereka. 

Aku menghabiskan makananku pelan-pelan. Setiap suapan terasa seperti pengingat. 

Sebelum pergi, aku membayar dan mengucapkan terima kasih. Bapak itu membalas dengan senyum yang lama, seolah ingin menyimpan momen itu. 

Aku teringat penolakan promo tadi. Di dalam mal, satu transaksi yang batal tak mengubah apa pun. Di gang ini, kehadiranku membuat seseorang tersenyum lebih lama. 

Saat melangkah keluar gang, aku menoleh sekali lagi. Gerobak-gerobak itu masih berjajar, menunggu keberuntungan masing-masing. Menunggu jam berganti. Menunggu seseorang keluar dari jalur utama. 

Aku melangkah pergi dengan langkah yang berbeda. Tak lagi terburu-buru. Tak lagi sibuk menghitung promo. 

Sejak hari itu, aku tak lagi melihat Tunjungan Plaza hanya sebagai tempat makan. Aku melihatnya sebagai bayangan yang di sampingnya selalu ada kehidupan lain, yang tak bisa bersaing dengan promo, algoritma, atau aplikasi, tapi tetap bertahan dengan kesabaran. 

Jam tiga sore di gang sebelah Tunjungan Plaza mengajarkanku satu hal: bahwa kemajuan tak selalu memberi ruang yang sama bagi semua orang. Dan hal sesederhana memilih makan, kadang juga soal memilih berpihak. 

_

Penulis:  Nola Amalia Rosyada, lahir di Kota Batu pada Rabu, 2 April 2003 dan hingga saat ini masih di Kota Batu. Ia adalah seseorang yang hobi menulis, yang memiliki ketertarikan pada dunia sastra maupun nonsastra. Mulai menulis sejak sekolah dasar, karyanya pernah dimuat di situs pers mahasiswa kampus, dan aktif menulis di Medium. Bagi Nola, menulis adalah sarana untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, serta menjalin hubungan batin dengan pembaca melalui kata-kata.

Editor: Azkal Azkia Nurrohmat

Foto: Unsplash.com/Alexander Fae

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya