Peta bagi Sebuah Becak

Jiwa sebuah kota tidak disimpan di balik kaca museum atau di dalam arsip pemerintah. Jiwa itu hidup di gang-gang sempit, melekat pada dinding bata yang lapuk, dan  tersimpan dalam ingatan orang-orang yang bahkan kota itu sendiri sering lupa. Kampung Pabean, adalah salah satu ruang penyimpanan jiwa Surabaya, dan Darmaji, seorang tukang becak, adalah sang penjaga arsipnya yang tak diangkat sumpah. 

Peta Darmaji tidak tercetak di atas kertas. Peta itu hidupny ada di otot betisnya yang  mengayuh becak hijau tua melewati lorong-lorong yang terlalu sempit untuk mobil, di  matanya yang membaca setiap perubahan pada fasad rumah, dan di telinganya yang  mengenal irama kampung. Dia tahu bunyi pintu besi warung kopi Bu Yanti berderit persis pada pukul empat pagi. Dia hafal suara batuk kering Pak Slamet, mantan buruh angkut, yang selalu terdengar sekitar pukul sembilan malam dari rumah panggungnya. Baginya, hal tersebut adalah penanda waktu yang  lebih akurat daripada jam tangan mana pun. 

Suatu pagi, seorang wanita muda bernama Maya, dengan rambut diikat rapat serta tas selempang penuh buku, tersesat di ujung gang Pabean. Dia sesekali melihat ponselnya, lalu memandang sekeliling dengan kebingungan. 

“Cari alamat siapa, Nona?” tanya Darmaji yang sedang membenahi rantai becaknya. “Saya cari rumah Mbah Wati, penjahit yang tunanetra,” jawab Maya, menunjukkan catatan dari ponselnya. “Katanya di sini”. 

“Mbah Wati. Rumahnya yang plafonnya bocor kalau hujan deras. Naik saja,” jawab Darmaji. 

Di atas becak, Maya bercerita tentang proyeknya, mendokumentasikan suara-suara dan cerita dari kampung kota sebelum semuanya berubah. Darmaji mendengarkan sambil mengayuh becak perlahan. 

“Jadi Nona mau mencatat kami?” 

“Iya, Mas. Agar tidak hilang.” 

“Kalau menurut Nona, apa yang akan hilang dari sini?” 

Maya pun terdiam sejenak.  

“Mungkin … cara hidup. Pengetahuan lokal. Cerita-cerita kecil yang tidak masuk sejarah resmi.” 

Darmaji mengangguk pelan. Dia paham, perubahan itu datang bukan dengan ledakan, tapi dengan sirine proyek pembangunan dan suara mesin yang perlahan menenggelamkan  obrolan warga. Dia mengantar Maya ke Mbah Wati. Di teras rumah yang sempit, Maya merekam suara mesin jahit manual Mbah Wati yang masih mendengkur, dan cerita-cerita  perempuan tua itu tentang Surabaya masa pendudukan.

Pertemuan itu pun membuka sesuatu dalam diri Darmaji. Malam itu, di rumahnya yang sepi, anak satu-satunya, Satrio, menghilang di Jakarta lima tahun lalu, Darmaji pun mengambil buku catatan tua miliknya. Bukan untuk menulis puisi atau cerita panjang. Namun, untuk mencatat detail-detail kecil yang bisa saja hilang besok hari. Tangannya yang kasar terbiasa menggenggam stang becak, tidak dengan pulpen. Tulisan tangannya besar dan goyah. 

Hari ini, 12 Maret. Bau kali lebih anyir dari biasa. Pak Slamet bilang, ada saluran pabrik baru buang limbah diam-diam. 

Bu Yanti cerita, anaknya yang di TKW Taiwan telat kirim uang lagi. Dia jual perhiasan  terakhir, kalung emas tipis, ke tukang loak. 

Setiap entri adalah jangkar. Upaya kecil untuk menambatkan realitas yang rapuh ke atas  kertas. 

Keesokan harinya, Darmaji mengajak Maya bertemu Pak Slamet. Pria tua itu duduk di  kursi plastik, memandangi kali yang hitam. 

“Dulu, airnya bisa buat mandi,” kata Pak Slamet, suaranya parau.  

“Sekarang, bau nya aja bikin pusing. Dulu saya kuat angkat karung beras 100 kilo. Sekarang,  angkat gelas kopi aja tangan gemetar.” 

Darmaji mencatat diam-diam. Pak Slamet. Ingat masa jayanya. Sekarang hanya punya  kenangan dan penyakit paru-paru. 

Minggu demi minggu berlalu. Maya menjadi pemandu sekaligus murid. Darmaji  menunjukkan kepadanya jaring-jaring hubungan yang tak terlihat.  Bagaimana para janda tua saling membagi lauk, bagaimana informasi tentang lowongan kerja  serabutan tersebar dari mulut ke mulut di warung kopi, bagaimana anak-anak diajari  menghormati orang tua bukan dengan ceramah, tetapi dengan disuruh mengantarkan  makanan ke rumah tetangga yang sakit. 

Namun, peta ingatan Darmaji juga menyimpan satu titik yang paling sakit. Sebuah ruang  kosong bernama Satrio. Hingga suatu sore, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal  membawa suara yang hampir tak dikenalnya. 

“Yah… ini saya.” 

Suara itu penuh getaran, seperti menahan malu dan sesal yang terlalu besar. “Di mana?” tanya Darmaji, singkat. 

“Di terminal. Saya… mau pulang.”

Satrio pulang bukan dengan koper berisi sukses, tetapi dengan mata cekung dan bau  rokok murah. Jakarta telah mengunyahnya dan memuntahkan kembali. Dia mengaku kerja  serabutan, tertipup modus investasi, dan akhirnya mengemis pada teman untuk ongkos  pulang. Dia berdiri di depan ayahnya, seperti anak kecil yang menunggu dihukum. 

Darmaji tidak menghukum. Dia memasak. Menyiapkan nasi panas dan telur dadar, makanan  kesukaan Satrio kecil. Dalam diam yang terasa berat, Satrio makan sambil menahan isak. “Maaf, Yah. Saya nggak jadi apa-apa.” 

“Kamu sudah pulang. Itu sudah jadi sesuatu.” 

Tapi hidup memerlukan biaya. Warung kecil, pekerjaan, harapan baru. Darmaji  memandang sekeliling rumahnya. Hanya ada satu benda yang mungkin berharga. Mesin jahit  Singer tua peninggalan almarhumah istrinya, ibunya Satrio. Benda itu diam selama bertahun tahun, tapi adalah saksi bisu dari segala yang telah diberikan wanita itu untuk keluarga. 

Dengan hati yang terasa dingin, Darmaji menjualnya. Kepada seorang kolektor yang  memuji kelangkaannya, bukan ketabahan yang diwakilinya. 

“Yah, untuk apa uangnya?” tanya Satrio ketika tahu. 

“Untuk kita. Untuk mulai lagi.” 

Mereka membuka warung kopi sederhana di depan rumah. Hanya beberapa bangku  dan kompor arang. Tapi Darmaji mengundang peta ingatannya untuk datang. Pak Slamet, Bu  Yanti, tetangga-tetangga. Warung itu menjadi ruang hidup baru, di mana suara-suara yang  hampir hilang kembali bergema, direkatkan oleh aroma kopi pahit. 

Maya menyelesaikan proyeknya. Hasilnya adalah sebuah zine sederhana, fotokopian  dengan jilid spiral. Di halaman terakhir, ada foto Darmaji sedang menulis di buku catatannya,  dengan caption, “Sang Penjaga Peta yang Tak Tercetak.” 

Dia memberikan satu eksemplar pertama kepada Darmaji. “Terima kasih, Mas Ji. Tanpa Bapak, cerita-cerita ini hilang.” “Terima kasih kembali, Nona Maya. Tapi yang paling penting bukan bukunya,” kata Darmaji,  menunjuk ke arah warung di mana Satrio sedang tersenyum mendengarkan celoteh Pak  Slamet.  

“Yang penting, ruangnya masih ada. Suaranya masih ada,” sambungnya.

Pada suatu senja, Darmaji duduk sendiri di bangku dekat kali. Dia memegang buku  catatannya yang sudah hampir penuh. Ada kelegaan. Satrio pulang. Suara-suara itu  terdokumentasi. Sebuah ruang komunitas lahir. Tapi ada juga kepedihan yang dalam dan  sunyi, seperti arus kali di bawah sana. Mesin jahit istrinya telah pergi untuk selamanya,  sebagai harga yang harus dibayar. Kenangan tentang anaknya yang percaya diri dulu mungkin  tak akan kembali. Dan di kejauhan, suara mesin konstruksi terus bersautan, mengingatkan  bahwa perubahan besar itu tak terelakkan.

Namun, ketika lampu warungnya menyala, memancarkan cahaya hangat ke jalanan  gelap, dan tawa kecil terdengar dari sana, Darmaji tahu. Dia mungkin tidak bisa  menghentikan waktu. Tapi hari ini, dengan becaknya, dengan buku catatannya, dengan  warung kopi sederhananya, dia telah berhasil mengayuh melintasi peta ingatan itu sekali lagi,  dan memastikan tidak ada satu pun titinya yang terlupakan sepenuhnya. Itu bukan  kemenangan mutlak. Tapi itu cukup. Itu adalah jenis keberaniannya sendiri, yang sunyi dan  gigih, seperti Surabaya itu sendiri. 

_

Penulis: Alya Khanza Ramadhani Yuwono, Siswi MAN 1 Pasuruan yang menjadikan tulisan dan imajinasi sebagai ruang petualangan untuk memahami diri dan merangkai mimpi.

Editor: Azkal Azkia Nurrohmat

Foto: Unsplash.com/Muhammad Tanri

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya