Perempuan yang Tidak Pernah Cukup Baik untuk Internet

“Di media sosial, menjadi perempuan sering kali berarti harus siap diadili oleh orang yang bahkan tidak mengenalmu.”

Beberapa hari terakhir, linimasa kembali dipenuhi sebuah peristiwa yang sebenarnya bukan hal baru. Seorang perempuan mengunggah pendapat. Tidak lama kemudian, wajahnya menjadi bahan olok-olok. Cara berpakaiannya diperdebatkan. Bentuk tubuhnya dikomentari. Status perkawinannya dipertanyakan. Bahkan, kehidupan pribadinya ikut diseret seolah menjadi bukti apakah pendapatnya layak didengar atau tidak. Ironisnya, sebagian besar komentar itu sama sekali tidak membahas gagasannya yang diserang justru dirinya. Begitulah internet bekerja hari ini. Ia tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi juga arena penghakiman yang berlangsung tanpa jeda. Lucunya, kita sudah begitu terbiasa sehingga menganggapnya normal Padahal tidak.

Ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput kita ajukan. Mengapa ketika laki-laki berbicara, publik lebih banyak membahas isi pikirannya, sedangkan ketika perempuan berbicara, publik justru sibuk menilai tubuhnya? Mengapa kompetensi perempuan sering kali kalah penting dibandingkan penampilannya? Mengapa perempuan harus terlihat pintar, tetapi jangan terlalu vokal; cantik, tetapi jangan terlalu percaya diri; mandiri, tetapi jangan terlalu sukses; tegas, tetapi jangan terlihat galak? Seolah-olah menjadi perempuan selalu disertai daftar syarat yang tidak pernah selesai. Di sinilah pemikiran Julia Kristeva menjadi menarik. Kristeva berpendapat bahwa bahasa tidak pernah netral. Bahasa selalu membawa ideologi, kekuasaan, dan cara masyarakat memandang seseorang. Setiap kata yang kita pilih sebenarnya sedang membangun realitas sosial, bukan sekadar menggambarkannya. Ketika media sosial dipenuhi komentar seperti,

“Perempuan kok begitu.”, “Sudah tua masih cari perhatian.”, “Pantas saja belum menikah.”

“Karier tinggi tapi gagal jadi istri.”, Kalimat-kalimat tersebut tampak sederhana.

Media sosial yang seharusnya menjadi ruang ekspresi justru berubah menjadi cermin yang terus mengatakan bahwa mereka belum cukup baik. Belum cukup cantik. Belum cukup  langsing. Belum cukup sukses. Belum cukup layak dicintai. Belum cukup menerima penghargaan dan lainnya. Namun sesungguhnya hal tersebut merupakan bagian dari jaringan teks sosial yang diwariskan turun-temurun. Kristeva menyebut bahwa setiap teks selalu berdialog dengan teks lain. Tidak ada kalimat yang lahir sendirian namun membawa sejarah, budaya, dan cara pandang masyarakat sebelumnya. Konsep inilah yang dikenal sebagai intertekstualitas. Artinya, komentar seksis di internet bukan muncul begitu saja tapi gema dari budaya yang telah lama menganggap perempuan sebagai objek penilaian.

Media sosial mempercepat proses itu. Dulu gosip berhenti di warung kopi. Hari ini ia berhenti ketika algoritma selesai bekerja. Setiap komentar yang menghina memperoleh balasan. Setiap balasan menghasilkan impresi. Setiap impresi menghadirkan keuntungan ekonomi bagi platform semakin ramai orang menghakimi seseorang, semakin tinggi pula peluang konten tersebut direkomendasikan kepada pengguna lain dan kita menyebutnya engagement.

Padahal mungkin yang sedang dipanen adalah rasa malu seseorang yang lebih menyedihkan, pelaku penghakiman digital tidak selalu laki-laki. Sering kali perempuan ikut menjadi hakim bagi perempuan lain. Mereka mengomentari bentuk tubuh. Menyalahkan korban. Mengolok usia. Mengukur keberhasilan hidup dari status pernikahan. Seolah-olah perempuan harus memenuhi standar yang bahkan mustahil dipenuhi. Hari ini terlalu kurus. Besok terlalu gemuk. Hari ini terlalu diam. Besok terlalu cerewet. Hari ini terlalu sederhana. Besok terlalu glamor. Apa pun yang dilakukan, selalu ada alasan untuk dianggap salah. 

Kristeva juga berbicara mengenai konsep abjection, yaitu kecenderungan masyarakat untuk menyingkirkan sesuatu yang dianggap mengganggu keteraturan simbolik. Dalam konteks digital, perempuan yang berbeda pendapat, berani bersuara, atau tidak sesuai dengan standar sosial sering diposisikan sebagai “yang harus disingkirkan” melalui ejekan, pelecehan, atau perundungan daring. Laporan berbagai organisasi internasional menunjukkan bahwa perempuan mengalami pelecehan berbasis gender secara daring dalam bentuk penghinaan seksual, ancaman, penyebaran informasi pribadi tanpa izin, hingga intimidasi yang berdampak pada kesehatan mental dan partisipasi publik, mungkin karena itulah internet sering terasa lebih kejam kepada perempuan yang percaya diri, bukan karena mereka salah melainkan karena keberanian mereka mengganggu kenyamanan stereotip lama dan yang lebih mengkhawatirkan adalah dampaknya, banyak perempuan akhirnya memilih diam. Tidak lagi menulis. Tidak lagi berpendapat. Tidak lagi membuat konten. Tidak lagi melamar pekerjaan tertentu. Tidak lagi menunjukkan prestasi. Bukan karena mereka tidak mampu. Melainkan karena lelah menghadapi komentar yang tidak pernah selesai. Fenomena ini dikenal dalam berbagai studi komunikasi digital sebagai silencing effect, ketika tekanan sosial membuat seseorang memilih bungkam demi menghindari serangan publik. Padahal diam bukan berarti mereka tidak memiliki gagasan. Diam sering kali merupakan strategi bertahan. Kita kehilangan banyak suara bukan karena mereka tidak mampu berbicara, tetapi karena ruang publik gagal memberikan rasa aman.

Di Indonesia, fenomena ini juga terlihat dalam berbagai kasus yang melibatkan figur publik maupun masyarakat biasa. Perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual sering kali justru diperiksa moralitasnya. Pertanyaan seperti, “Mengapa baru melapor?”, “Pakai baju apa?”, atau “Kenapa mau bertemu dengannya?” masih lebih sering muncul dibandingkan pertanyaan mengenai tindakan pelaku. Budaya menyalahkan korban (victim blaming) memperlihatkan bahwa perhatian masyarakat lebih mudah diarahkan kepada perilaku korban daripada tanggung jawab pelaku. Narasi seperti ini tidak muncul begitu saja tapi dipelajari, diulang, diperkuat lalu diwariskan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampaknya terhadap generasi muda. Remaja perempuan tumbuh dalam budaya digital yang terus mengatakan bahwa nilai dirinya ditentukan oleh jumlah likes, komentar, bentuk tubuh, warna kulit, atau standar kecantikan yang diproduksi media. Tidak sedikit yang kemudian mengalami kecemasan, membandingkan diri secara berlebihan, hingga kehilangan rasa percaya diri.

Media sosial yang seharusnya menjadi ruang ekspresi justru berubah menjadi cermin yang terus mengatakan bahwa mereka belum cukup baik. Belum cukup cantik. Belum cukup langsing. Belum cukup sukses. Belum cukup layak dicintai. Padahal setiap kali kita mengetik komentar, kita sedang memilih akan menjadi manusia seperti apa. Komentar bukan sekadar rangkaian huruf  melainkan tindakan sosial, bisa menjadi pelukan, bisa juga menjadi luka yang terus diingat seseorang selama bertahun-tahun. Mungkin kita tidak pernah mengetahui siapa yang membaca komentar kita. Mungkin kita tidak pernah melihat air mata di balik layar. Namun ketidaktahuan bukan alasan untuk kehilangan empati, sebagai pengguna media, kita memiliki tanggung jawab etis. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan aplikasi atau memahami teknologi. Literasi digital juga berarti mampu membedakan kritik dengan penghinaan, perbedaan pendapat dengan serangan personal, serta kebebasan berekspresi dengan kekerasan verbal.

Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang semua orang sepakat. Melainkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa saling merendahkan martabat. Perempuan tidak membutuhkan ruang digital yang selalu memuji mereka. Yang mereka butuhkan hanyalah ruang yang adil. Ruang di mana gagasan dinilai berdasarkan kualitas argumennya. Ruang di mana keberhasilan tidak dipandang sebagai ancaman. Ruang di mana keberanian berbicara tidak dibayar dengan penghinaan dan ruang di mana menjadi perempuan tidak berarti harus selalu membuktikan bahwa dirinya layak dihormati, karena penghormatan terhadap manusia seharusnya tidak pernah menjadi hadiah tapi merupakan hak.

Barangkali revolusi terbesar yang kita butuhkan hari ini bukanlah kecerdasan buatan yang semakin canggih atau algoritma yang semakin cepat membaca preferensi pengguna. Revolusi terbesar justru dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: memilih kata. Julia Kristeva mengingatkan bahwa bahasa membangun realitas. Kata-kata dapat memperkuat ketidakadilan, tetapi juga dapat meruntuhkannya. Bahasa dapat mengasingkan, tetapi juga dapat memulihkan. Setiap komentar yang kita tulis sesungguhnya sedang ikut menentukan wajah masyarakat yang ingin kita wariskan. Maka, sebelum menekan tombol kirim, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kalimat ini sedang memperluas ruang kemanusiaan? Ataukah justru sedang mempersempitnya? Karena sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang berkuasa tapi juga ditulis oleh jutaan komentar kecil yang setiap hari memenuhi ruang digital kita dan mungkin perubahan besar bagi perempuan di internet tidak selalu dimulai dari kebijakan negara atau teknologi baru tapi bisa dimulai dari keputusan paling sederhana yang kita ambil hari ini: memilih untuk tidak ikut menghakimi.

Ironisnya ruang yang katanya demokratis justru menghasilkan banyak orang yang takut berbicara tapi mungkin kita memang tidak bisa mengendalikan seluruh isi internet tapi kita masih bisa memilih menjadi pengguna seperti apa. Apakah ikut menambah luka seseorang demi beberapa detik hiburan? Ataukah menjadi orang yang mengingatkan bahwa di balik setiap akun, ada manusia yang sedang berusaha menjalani hidupnya. Kadang kita lupa. Komentar yang kita tulis dalam lima detik bisa tinggal bertahun-tahun di kepala seseorang. Kata-kata tidak selalu meninggalkan bekas di layar. Sering kali ia menetap di hati. Barangkali sudah saatnya kita berhenti bertanya,

“Mengapa perempuan begitu sensitif?” dan mulai bertanya, “Mengapa kita begitu mudah menghakimi perempuan?” Karena sesungguhnya, ukuran kemajuan sebuah masyarakat bukan ditentukan oleh seberapa cepat internetnya, melainkan oleh seberapa manusia cara mereka memperlakukan orang lain ketika tidak ada yang mengenalnya secara langsung dan mungkin, revolusi terbesar di media sosial bukanlah teknologi baru. Melainkan keberanian kita menggunakan bahasa untuk merawat martabat manusia, bukan untuk meruntuhkannya.

sebagai pengguna media, kita memiliki tanggung jawab etis. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan aplikasi atau memahami teknologi. Literasi digital juga berarti mampu membedakan kritik dengan penghinaan, perbedaan pendapat dengan serangan personal, serta kebebasan berekspresi dengan kekerasan verbal.

Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang semua orang sepakat. Melainkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa saling merendahkan martabat. Perempuan tidak membutuhkan ruang digital yang selalu memuji mereka. Yang mereka butuhkan hanyalah ruang yang adil. Ruang di mana gagasan dinilai berdasarkan kualitas argumennya. Ruang di mana keberhasilan tidak dipandang sebagai ancaman. Ruang di mana keberanian berbicara tidak dibayar dengan penghinaan dan ruang di mana menjadi perempuan tidak berarti harus selalu membuktikan bahwa dirinya layak dihormati.

Barangkali revolusi terbesar yang kita butuhkan hari ini bukanlah kecerdasan buatan yang semakin canggih atau algoritma yang semakin cepat membaca preferensi pengguna tapi justru dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana seperti memilih kata. Julia Kristeva mengingatkan bahwa bahasa membangun realitas. Kata-kata dapat memperkuat ketidakadilan, tetapi juga dapat meruntuhkannya. Bahasa dapat mengasingkan, tetapi juga dapat memulihkan. Setiap komentar yang kita tulis sesungguhnya sedang ikut menentukan wajah masyarakat yang ingin kita wariskan. Maka, sebelum menekan tombol kirim, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kalimat ini sedang memperluas ruang kemanusiaan? Ataukah justru sedang mempersempitnya? Karena sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang berkuasa. Ia juga ditulis oleh jutaan komentar kecil yang setiap hari memenuhi ruang digital kita. Dan barangkali, perubahan besar bagi perempuan di internet tidak selalu dimulai dari kebijakan negara atau teknologi baru. Ia bisa dimulai dari keputusan paling sederhana yang kita ambil hari ini: memilih untuk tidak ikut menghakimi.

Referensi

  1. Julia Kristeva. Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art. Columbia University Press, 1980. 
  2. Julia Kristeva. Powers of Horror: An Essay on Abjection. Columbia University Press, 1982. 
  3. Pierre Bourdieu. Masculine Domination. Stanford University Press, 2001. 
  4. UN Women. Online and ICT-facilitated Violence against Women and Girls
  5. UNESCO. The Chilling: Global Trends in Online Violence against Women Journalists, 2021. 
  6. Dewi Candraningrum. “Pemberontakan Linguistik Kristeva: Gender, Agama, Politik.” Jurnal Perempuan
  7. Nasri, D. “Kajian Intertekstual dalam Perspektif Julia Kristeva.” Jurnal Kandai.

Penulis: Fitri S.I
Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya