Perempuan Ketika Dididik Untuk Mengecilkan Diri

“Is there anyone who wants to answer?”

Kalimat itu masih aku ingat sampai sekarang. Waktu itu, aku sedang berada di kelas bahasa Inggris. Dosen melemparkan satu pertanyaan ke seluruh kelas, dan entah kenapa aku langsung tahu jawabannya. Bahkan, di dalam kepala aku sudah menyusun kalimat yang ingin aku ucapkan. Rasanya tinggal angkat tangan, lalu menjawab. Tapi ternyata, sesederhana itu pun rasanya sulit.Tanganku sempat ingin terangkat, tetapi berhenti di tengah jalan. Tiba-tiba pikiranku dipenuhi banyak hal.

“Kalau jawabanku salah gimana?”
“Kalau nanti teman-teman menganggap aku sok pintar?”
“Kalau pengucapan bahasa Inggrisku jelek?”
“Kalau mereka menertawakan aku?”

Padahal, belum ada satu pun yang benar-benar terjadi. Semuanya hanya ada di dalam kepalaku. Akhirnya aku memilih diam. Aku membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja. Beberapa menit kemudian, ada teman yang mengangkat tangan dan menjawab. Yang membuatku terdiam, jawabannya ternyata tidak jauh berbeda dengan jawaban yang sejak tadi kusimpan sendiri. Saat itu aku bukan kesal karena jawabanku tidak terdengar. Aku lebih kecewa karena aku tidak memberi diriku sendiri kesempatan untuk mencoba.

Sejak hari itu aku mulai sadar, ternyata aku sering melakukan hal yang sama. Bukan karena aku tidak tahu, bukan juga karena aku tidak punya pendapat. Aku hanya terlalu takut kalau ternyata aku salah, terlalu takut dengan penilaian orang lain, sampai akhirnya memilih diam. Dan setiap kali aku benar-benar memberanikan diri untuk berbicara, kalimat pertamaku hampir selalu sama.

“Maaf sebelumnya, Bu… saya mau bertanya.”

Padahal, aku hanya ingin belajar. Semakin aku memikirkannya, semakin aku sadar kalau kata maaf sudah seperti refleks. Keluar begitu saja, bahkan sebelum orang lain sempat menilai. Aku meminta maaf saat ingin bertanya, Meminta maaf ketika membutuhkan bantuan, Meminta maaf saat terlambat membalas pesan.

Bahkan, kadang meminta maaf hanya karena sedang lelah atau merasa tidak baik-baik saja. Seolah-olah keberadaanku selalu membutuhkan izin. Yang membuatku semakin berpikir, ternyata aku bukan satu-satunya. Aku melihat banyak perempuan di sekitarku melakukan hal yang sama.

Ada teman yang sebenarnya pintar, tetapi selalu merasa dirinya belum cukup mampu. Ada yang aktif berorganisasi, tetapi takut dianggap terlalu dominan. Ada juga yang punya ide-ide cemerlang, tetapi memilih diam karena khawatir dicap sok tahu. Padahal, orang-orang justru mengagumi kemampuan mereka.

Aku jadi bertanya-tanya, kenapa ya banyak perempuan seperti sudah akrab dengan rasa ragu pada dirinya sendiri?. Kenapa kita sering merasa harus berpikir berkali-kali sebelum berbicara, seolah-olah setiap kata yang keluar harus sempurna?

Lama-kelamaan aku menyadari bahwa mungkin rasa takut itu bukan muncul begitu saja. Bisa jadi, kami hanya terlalu lama tumbuh dengan berbagai pesan yang tanpa sadar mengajarkan perempuan untuk tidak mengambil terlalu banyak ruang. Karna sejak kecil, banyak dari kita akrab dengan kalimat-kalimat seperti,

“Jangan keras-keras.”

“Perempuan harus sopan.”

“Jangan membantah.”

“Jangan terlalu ambisius.”

“Perempuan yang baik itu sabar.”

Kalimat-kalimat itu memang terdengar biasa. Bahkan, sebagian mengandung nilai yang baik. Menghormati orang lain, berbicara dengan santun, dan memiliki empati tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, ketika pesan-pesan itu lebih sering ditujukan kepada perempuan, perlahan tumbuh pesan lain yang tidak pernah diucapkan secara langsung: jangan terlalu menonjol.

Sedikit demi sedikit, banyak perempuan belajar bahwa menjaga kenyamanan orang lain terasa lebih penting daripada menyampaikan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Kita belajar menjadi pendengar yang baik, tetapi lupa bagaimana rasanya didengarkan. Kita belajar memahami semua orang, tetapi sering lupa bertanya pada diri sendiri, “Aku sendiri sebenarnya sedang baik-baik saja atau tidak?”. Kita belajar meminta maaf lebih cepat daripada mengakui bahwa kita juga punya batas.

Lalu aku teringat pada ibuku. Beliau selalu memastikan semua orang sudah makan sebelum akhirnya mengambil piringnya sendiri. Kalau ada uang lebih, kebutuhan anak-anak selalu didahulukan. Kalau sedang sakit, jawabannya hampir selalu sama, “Nanti juga sembuh”. Dulu aku menganggap itu hanya bentuk kasih sayang seorang ibu. Namun, semakin dewasa, aku mulai bertanya-tanya. Berapa banyak perempuan yang terbiasa mendahulukan semua orang sampai lupa mendengarkan dirinya sendiri?. Berapa banyak perempuan yang merasa kebutuhan orang lain selalu lebih penting daripada kebutuhannya?

Aku tidak sedang mengatakan bahwa perempuan tidak boleh menjadi penyayang. Justru dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika lebih banyak orang memiliki empati. Tetapi empati seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Menjadi perempuan yang lembut bukan berarti harus selalu mengalah. Menjadi perempuan yang baik bukan berarti harus terus diam. Dan menjadi perempuan yang peduli bukan berarti harus meminta maaf hanya karena memiliki suara.

Kesetaraan, bagiku, bukan tentang siapa yang lebih hebat atau lebih berkuasa. Kesetaraan adalah ketika setiap orang memiliki ruang yang sama untuk belajar, berbicara, bermimpi, berpendapat, bahkan membuat kesalahan tanpa dibatasi oleh anggapan tentang bagaimana perempuan “seharusnya” bersikap.

Aku sendiri masih sering mengatakan maaf. Mungkin kebiasaan itu tidak akan hilang begitu saja. Tetapi sekarang aku sedang belajar menggantinya. Bukan lagi, “Maaf, Bu… saya mau bertanya.” melainkan, “Bu, saya ingin bertanya karena masih ada yang ingin saya pahami.” Bukan lagi, “Maaf merepotkan.” melainkan, “Terima kasih sudah membantu.” Bukan lagi, “Maaf kalau aku terlalu banyak bicara.” melainkan, “Terima kasih sudah mau mendengarkan.”

Andai aku bisa kembali ke kelas bahasa Inggris itu, mungkin aku masih akan gugup. Tanganku mungkin masih gemetar saat terangkat. Jawabanku mungkin saja salah. Namun sekarang aku tahu, tidak ada yang salah dengan mencoba. Tidak ada yang salah dengan bersuara. Karena perempuan tidak harus selalu benar agar layak didengar. Dan mungkin, bentuk keberanian yang paling sederhana adalah berhenti meminta maaf atas sesuatu yang sejak awal bukanlah sebuah kesalahan. Sebab selama ini, yang perlu dikecilkan bukanlah diri perempuan, melainkan rasa takut yang membuat perempuan terus merasa harus mengecilkan dirinya sendiri agar diterima.

Penulis: Nabila Hafshah

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya