Perempuan (Bukan) Pengurus Rumah

“Ririn, tolong cuci piring dulu.” Kalimat seperti itu mungkin terdengar tidak asing lagi bagi banyak keluarga di Indonesia. Bahkan, hampir setiap hari kita mendengar kalimat tersebut. Kalimat tersebut lebih sering ditujukan kepada anak perempuan dibanding anak laki-laki. Misalkan ada tamu datang, pasti yang akan disuruh menyambut tamu dan menyiapkan makanan adalah perempuan. Setelah tamu pulang, anak perempuan juga yang disuruh membereskan meja, mencuci piring, ataupun menyapu lantai. Sementara itu, anak laki-laki sering kali hanya duduk santai, bermain handphone, atau mengobrol bersama tamu.


Kondisi ini dianggap sebagai suatu hal yang wajar oleh masyarakat atau keluarga-keluarga di Indonesia. Kondisi ini lahir dari streotip gender yang di kontruksikan oleh masyarakat. Perempuan dianggap memang lebih cocok dan telaten dalam mengurus rumah, sedangkan laki-laki diajarkan dan dipersiapkan untuk mencari nafkah. Jika kita pikirkan lebih jauh, kebiasaan seperti inilah yang menjadi awal dari munculnya ketidaksetaraan gender. Ketidaksetaraan gender tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan atau diskriminasi yang terang-terangan. Terkadang, ketidaksetaraan gender muncul dari kebiasaan atau anggapan yang kita anggap sepele tetapi menimbulkan ketidakadilan. Salah satunya adalah pembagian pekerjaan rumah yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan.


Pekerjaan rumah bukanlah kemampuan yang dimiliki oleh Perempuan atau laki-laki sejak lahir. Tidak ada bayi Perempuan maupun Laki-laki yang lahir dengan kemampuan memasak atau mencuci pakaian. Semua hal itu diajarkan dan dipelajari melalui proses belajar dan kebiasaan. Artinya, perempuan dan laki-laki pun sebenarnya mampu melakukan hal yang sama jika diberi kesempatan dan dibiasakan sejak kecil. Tetapi sayangnya, dalam lingkungan keluarga perempuanlah yang diajarkan untuk bisa memasak, mencuci, menyapu dan sebagainya. Lingkungan masyarakat sering kali menyamakan antara kodrat dan peran gender. Kodrat perempuan memang berkaitan dengan fungsi biologis, seperti hamil dan melahirkan. Namun memasak, mencuci, menyapu, atau membersihkan rumah bukanlah kodrat. Semua itu adalah pekerjaan yang bisa dilakukan siapapun tanpa memandang jenis kelamin.


Fenomena ini dikenal sebagai double burden atau beban ganda. Beban ganda adalah partisipasi perempuan menyangkut peran tradisi dan transisi. Peran tradisi atau domestik mencakup peran perempuan sebagai istri, ibu dan pengelola rumah tangga. Sementara peran transisi meliputi pengertian perempuan sebagai tenaga kerja, anggota masyarakat dan manusia pembangunan. Pada peran transisi perempuan sebagai tenaga kerja turut aktif dalam kegiatan ekonomis (mencari nafkah) di berbagai kegiatan sesuai dengan keterampilan dan pendidikan yang dimiliki serta lapangan pekerjaan yang tersedia (Randall dan Scott 1987).


Seorang perempuan bekerja atau bersekolah dari pagi hingga sore, menghadapi situasi yang sama beratnya dengan laki-laki. Namun ketika pulang ke rumah, pekerjaan perempuan belum selesai. Mereka masih harus membereskan rumah, memasak makan malam, mencuci pakaian, hingga menyiapkan kebutuhan keluarga untuk keesokan harinya. Sementara itu, laki-laki sering kali dianggap sudah menjalankan kewajibannya hanya dengan bekerja di luar rumah. Jika sesekali laki-laki membantu mencuci piring, masyarakat sekitar langsung memberikan pujian yang luar biasa.


Kondisi ini menyebabkan perempuan mengalami kelelahan fisik dan mental karena harus menjalankan dua peran sekaligus. Ketika kondisi rumah berantakan, perempuanlah yang pasti lebih dulu disalahkan dan dikatakan tidak becus. Ketika anak tidak terurus, mereka dianggap sebagai ibu yang gagal. Namun sebaliknya, ketika laki-laki tidak ikut mengurus rumah, masyarakat sering kali hanya memakluminya. Kenyataan mirisnya, perempuan sendiri juga terkadang ikut menormalisasikan budaya tersebut.

Tidak sedikit ibu yang hanya mengajarkan anak perempuannya memasak atau mencuci, sementara anak laki-lakinya dibebaskan dari pekerjaan rumah. Tanpa disadari, pola ini terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Selain itu, media sosial juga memiliki peran besar dalam memperkuat stereotip gender. Masih banyak konten-konten yang menggambarkan perempuan ideal sebagai sosok yang mampu mengurus rumah tanpa mengeluh, selalu tampil rapi, pandai memasak, serta tetap sukses dalam karier. Di sisi lain, laki-laki yang sekadar mencuci piring selama beberapa menit sering dianggap sebagai “suami idaman”. Standar seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat masih menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama pekerjaan domestik.
Rumah adalah tempat tinggal yang dihuni Bersama baik laki-laki dan perempuan.

Membagi pekerjaan rumah secara adil bukan berarti semua tugas harus dibagi sama persis. Yang lebih penting adalah adanya kesepakatan dan rasa tanggung jawab bersama serta tidak merugikan satu sama lain. Jika salah satu anggota keluarga sedang sibuk bekerja, anggota keluarga lain dapat mengambil alih sebagian pekerjaan. Dengan cara ini, maka tidak ada satu pihak yang merasa terbebani sendirian. Yang menjadi masalah sebenarnya bukan terletak pada pekerjaannya, tetapi pada pembagian tugas yang tidak adil.


Perubahan yang sebenarnya dapat dimulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang anak mengenai kesetaraan gender. Anak laki-laki perlu diajarkan memasak, mencuci pakaian, menyapu, dan membersihkan rumah sejak kecil, sama halnya seperti anak perempuan. Sebaliknya, anak perempuan juga perlu diberi kesempatan untuk mengasah dan mengembangkan cita-cita tanpa dibatasi oleh anggapan bahwa tugas utama mereka hanyalah menjadi ibu rumah tangga.


Pekerjaan rumah bukanlah simbol perempuan, sebagaimana mencari nafkah bukan hanya tanggung jawab laki-laki. Dunia telah berubah dan modern. Banyak perempuan yang menjadi pemimpin perusahaan, ilmuwan, guru, dokter, maupun pejabat publik. Di sisi lain, semakin banyak laki-laki yang memilih terlibat aktif dalam mengasuh anak dan mengurus rumah tangga. Perubahan ini menunjukkan bahwa kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya, melainkan oleh kemauan, kesempatan, dan tanggung jawab yang dimilikinya.

Sudah saatnya kita berhenti mengatakan bahwa perempuan “wajib” mengurus rumah, sementara laki-laki hanya “membantu”. Rumah adalah milik bersama, sehingga seluruh pekerjaan di dalamnya juga merupakan tanggung jawab semua anggota keluarga. Mengubah cara pandang ini memang tidak mudah dan mungkin tidak akan langsung menghapus ketidaksetaraan gender dimasyarakat, tetapi setidaknya dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat, saling menghargai, dan lebih adil bagi semua anggota keluarga.


Perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari kebijakan pemerintah atau gerakan sosial yang masif. Terkadang, perubahan itu dimulai dari hal-hal sederhana: seorang ayah yang mengajarkan anak laki-lakinya mencuci piring, seorang ibu yang tidak membedakan tugas rumah berdasarkan jenis kelamin, atau sebuah keluarga yang percaya bahwa tanggung jawab tidak ditentukan oleh apakah seseorang lahir sebagai laki-laki atau perempuan. Ketika kebiasaan kecil itu mulai dilakukan di banyak rumah, maka perlahan-lahan kita sedang membangun masyarakat yang lebih setara. Dan mungkin, suatu hari nanti, pertanyaan seperti “Kenapa hanya anak perempuan yang diminta membereskan meja?” tidak lagi terdengar karena jawabannya sudah jelas: pekerjaan rumah adalah tanggung jawab semua orang.

Rujukan

Fitriani, H. (2020). Konflik Wanita Karir dengan Beban Kerja Ganda (Double Barden). SETARA : Jurnal Studi Gender dan Anak
Hidayati, N. (2025). Beban Ganda Perempuan Bekerja (Antara Domestik dan Publik). Muwazah , 7 (1), 108-119.
Sari, R. P, Agustang, A. (2022). Peran Ganda Ibu Rumah Tangga (Studi Kasus Pada Tukang Cuci Mobil/Motor). https://doi.org/10.31219/osf.io/db93n


Penulis: Ririn Zaskia Metha adalah mahasiswi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Padang (UNP). Ia sangat tertarik pada isu perempuan dan kesetaraan gender. Saat ini ia sedang memperdalam pemahamannya mengenai berbagai persoalan gender sebagai bagian dari proses belajar. Ririn percaya bahwa tulisan dapat menjadi sarana untuk menyuarakan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan. Mari terhubung dan berbagi perspektif melalui Instagram @rrnzskiamtha.

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya