Belajar Aman Digital: Sebuah Catatan dari Pelatihan Keamanan Digital
Poster Pelatihan Keamanan Digital

Di era digital seperti sekarang ini, kita diuntungkan oleh kemudahan segala hal hanya melalui layar–ngobrol, kerja, berbelanja, bahkan menyimpan rahasia pribadi di sana. Dibalik kemudahan itu, ada risiko yang sering kita anggap remeh dan diabaikan begitu saja. Kemudahan akses teknologi juga memiliki ancamannya sendiri, seperti pencurian data, akun kena retas, penipuan online, atau serangan siber yang tidak kelihatan tapi nyata. 

Bukan hanya kita sebagai individu, namun perusahaan media dan pembuat konten pun tidak luput dari ancaman digital. Mereka dihadapkan pada berbagai risiko yang serupa–peretasan akun, serangan malware, pencurian data hingga ancaman Distributed Denia-of-Service (DDos). 

Berangkat dari kekhawatiran itu, MenulisID sebagai media dan komunitas literasi digital berpartisipasi dalam program Fellowship Keamanan Digital yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Program ini juga didukung oleh European Union – International Media Support (EU-IMS) sebagai langkah strategis memperkuat kapasitas tim dan sistem kami dalam menghadapi ancaman digital masa kini. 

Minggu (27/07) MenulisID sukses menggelar pelatihan pertamanya secara daring melalui Zoom Meeting. Pelatihan berlangsung mulai dari pukul 13.00–15.00. Narasumber yang hadir adalah seorang praktisi Nazhier Rijalana, yang saat ini bekerja sebagai Security & Threat Detection Engineer di Tiket.com

Dokumentasi Pelatihan Keamanan Digital

Peserta pada pelatihan keamanan digital ini adalah (1) redaktur, (2) kontributor penulis, (3) admin teknologi/website, dan (4) manajer komunitas dan media sosial. MenulisID juga melibatkan 2 orang kontributor yang paling aktif merilis tulisannya di website MenulisID untuk turut serta dalam pelatihan ini. 

Ada beberapa agenda pelatihan yang disampaikan Mas Nazhier selaku pembicara. Berikut daftar agenda yang kami pelajari selama mengikuti pelatihan ini.

Dasar-Dasar Keamanan Digital

Sekarang ini penting sekali untuk melakukan pengamanan digital. Hal ini beralasan untuk melindungi data sensitif, menjaga reputasi dan kepercayaan publik, serta memastikan kelangsungan operasional. 

Mas Nazier menambahkan, “Keamanan digital ini penting karena kita perlu mengantisipasi data-data kita terancam.” Ancaman umum yang kerap terjadi di antaranya malware (spyware yang merusak sistem), phising (penipuan untuk mencuri data pribadi), dan ransomware (mengunci data untuk tujuan meminta tebusan). 

Sandi Kuat & Password Manager

Sandi adalah benteng pertama untuk melindungi data pribadi (akun media sosial, email, hingga rekening online). Maka dari itu, untuk meminimalkan risiko akun diretas adalah membuat sandi yang kuat. “Hindari banget buat sandi yang mencantumkan info pribadi, seperti nama dan tanggal lahir, kata umum berupa urutan angka atau keyboard. Itu mudah sekali diretas oleh hacker.”

Sandi yang kuat adalah sandi yang kompleks (kombinasi), panjang (minimal 12 karakter), dan unik. 

Mas Nazier juga menyarankan untuk membuat sandi yang berbeda untuk setiap akun yang kita punya. Namun, keterbatasan ingatan kita terkadang lupa untuk mengingat sandi-sandi setiap akun yang berbeda. “Aku bisa sarankan kalian pakai aplikasi password manager,” katanya. 

Password manager adalah aplikasi digital untuk semua sandi. Kita hanya cukup mengingat satu kata sandi utama (master password) untuk mengakses semua akun. Hal ini membuat kita bisa membuat password yang panjang, rumit, dan berbeda-beda untuk tiap layanan tanpa takut lupa. “Hindari untuk simpan password dalam note handphone, ya,” tambahnya. 

Pentingnya Two Factor Authetication (2FA)

Langkah penting selanjutnya adalah dengan menghidupkan Two-Factor Authentication (2FA). 2FA adalah lapisan keamanan digital untuk akun yang mengahruskan kita melewati dua tahap verifikasi sebelum bisa masuk. 

Langkah pertama biasanya dengan memasukkan kata sandi seperti biasa, lalu tahap kedua bisa berupa kode unik yang dikirim melalui SMS, email, atau aplikasi autentikator. Kita harus mengaktifkan 2FA di semua akun penting karena peretas akan jauh lebih sulit mengakses akun kita, meskipun mereka sudah tahu sandi akun kita. 

Mengenali Phising dan Rekayasa Sosial

Phising adalah salah satu bentuk kejahatan siber di mana pelaku menyamar sebagai pihak atau institusi yang tepercaya untuk memancing korban memberikan informasi pribadi, seperti password, nomor kartu kredit, atau kado OTP. 

“Singkatnya, phising itu ‘memancing’ korban untuk memberikan informasi pribadi,” jelas Mas Nazier.

Ciri-ciri pesan mencurigakan misalnya, terkesan mendesak, pengirimnya aneh atau mencurigakan, dan kerap mencantumkan tautan palsu. Isi pesan terkesan sopan, seperti menggunakan “Yth. Pelanggan, Salam Hangat” dan sejenisnya.

Praktik Aman Media Sosial & Cloud

Mas Nazier mengingatkan kepada kita untuk selalu mengamankan akun-akun penting. Di pelatihan kali ini ada dua praktik aman yang diajarkan, yaitu media sosial dan layanan cloud. 

Praktik aman di media sosial, di antaranya (1) atur privasiakun ke “Friends” atau “Private”, (2) pikirkan sebelum posting (hindari posting KTP, alamat, tiket), serta (3) waspada terhadap kuis & tag dari orang asing.

Selanjutnya, praktik aman di layanan cloud, di antaranya (1) gunakan sandi yang kuat & aktifkan 2FA, (2) pahami izin berbagi (“view” vs “edit”), dan (3) logout setelah digunakan di perangkat publik. 

Strategi Backup & Pemulihan Data

Kita perlu untuk melindungi data dari kerusakan, serangan ransomware, atau human error. Maka dari itu, kita harus selalu rajin untuk menyalin data, menduplikat data ke media berbeda, misalnya di laptop, hardisk eksternal, dan Cloud. “Perlu kiranya untuk melakukan backup dan pemulihan data secara rutin dan uji coba pemulihannya,” tutup Mas Nazier. 

Pelatihan diikuti oleh 12 peserta membuat suasana terasa lebih intim dan akrab. Peserta bisa bertanya dan berdiskusi satu per satu. Meskipun materi yang disampaikan begitu padat, namun tidak membuat peserta kebingungan. Sesi tanya-jawab berjalan alami di setiap sesinya. Penyampaian narasumber cenderung santai dan mudah dimengerti oleh para peserta. 

Kehangatan interaksi ini membuat pelatihan bukan sekadar sesi belajar, tapi juga momen bertukar cerita dan membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga keamanan digital. 

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya