Rangga pulang sekolah dengan wajah cemberut. Bocah kelas tiga SD itu iri setengah mati dengan teman-teman sekelasnya yang sudah memamerkan seragam macam-macam di pawai kemerdekaan pekan depan. Ada yang pakai seragam tentara, istri tentara, seragam polisi, istri polisi. Pokoknya macam-macam. Sedangkan Rangga masih belum bisa pamer. Ia ingin menggunakan seragam kakaknya yang bekerja sebagai pramugari di kereta api.
Mendengar idenya, guru agamanya malah mengatai, “Kalau pake seragam perempuan, nanti kamu malah jadi banci.” Teman-temannya pun ikut mengolok, “Banci, banci, banci! Sudah tiga hari dan ia mulai muak.
“Ya nanti kakak bawain seragam teman kakak, ya. Ada yang laki, kok,” kata kakaknya menenangkan. “Kakak pulang hari ini.”
Tapi Rangga lebih senang dengan seragam kakaknya. Ia kagum setengah mati. Kalau kakaknya ganti baju dengan seragam batik biru itu, ia duduk anteng di atas kasur. Roknya terlihat anggun, atasan yang menunjukkan pinggang kurusnya, hingga topi yang menutup sebagian dahi. Betapa anggunnya. Alangkah indahnya, pikir Rangga. Ia berkali-kali mencoba seragam itu di rumah, meski sang ibu dan kakaknya tertawa. Kebesaran, kata mereka.
Sepulang sekolah hari itu, Rangga menunggu di perempatan, di pos penjaga palang yang ada penjual mie ayamnya. Meski marah, ia tidak bisa menahan lapar. Sepiring mie tanpa sayur ia habiskan dengan uang jajannya hari itu. Rumahnya tak jauh dari stasiun. Tapi jauh juga kalau harus berjalan kaki. Melihat kereta melewati belakang rumahnya membuatnya merasa tenang. Ia seperti melihat kakaknya pulang.
“Semoga kakak menepati janjinya, membawa seragam teman kerjanya,” harap Rangga. Harapan itu begitu dalam sehingga ia tidak minat main HP. Ia hanya akan menunggu kakaknya. “Tunggu saja,” batinnya, “aku akan tampil paling keren. Teman-teman sekelas akan kalah.”
***
Anita murung di ruang tunggu Stasiun Pasar Turi. Biasanya ia akan mengobrol dengan rekan-rekannya sesama pramugari atau atasannya, tapi kini ia memilih duduk di luar, di ruang tunggu. Ingin sekali ia mengeluarkan sebatang rokok rasa mangga dari kantongnya, tapi peraturan perusahaan melarang. “Jaga nama baik perusahaan,” begitu ucap atasannya ketika pertama kali di-training sebagai train attendant. “Masyarakat akan berpikir buruk kalau kalian merokok. Kalau pun merokok, setidaknya jangan di stasiun dan jangan pakai seragam.” Meski ditutup hoodie sekalipun, orang-orang masih akan melihat seragam pramugari di baliknya.
Kereta Jenggala yang ia pesan masih akan berangkat dalam sepuluh menit, tapi ia sudah bosan setengah mati. Kemarin ia bolak-balik Surabaya-Jakarta dalam rangkaian Argo Bromo Anggrek, menghabiskan masing-masing delapan jam perjalanan. Di Ibu Kota pun ia
juga tidak sempat istirahat. Seorang atasan mengajak seluruh anggota tim ke resto mahal, padahal Anita hendak menghemat. Makan malamnya memang ditraktir karena atasan itu merayakan ultah, tapi untuk hadiahnya dia harus patungan. Maka hilanglah dua lembar foto Soekarno-Hatta dari dompetnya. Dua lembar yang ia rencanakan untuk menyewa seragam pawai untuk adiknya.
“Sekarang sewa baju pawai aja mahal sekali,” begitu keluhnya pada sang pacar. Pacarnya, yang sudah dua minggu ini tak mau menemuinya, hanya membalas, “Mau gimana lagi, Nit. Ekonomi lagi sulit. Tapi kau sayang adikmu, kan?”
Hmmm, itu pertanyaan yang aneh.
Anita sedikit iri dengan sang adik. Usia mereka beda 13 tahun dan sang adik hadir di kehidupannya ketika ia menginjak kursi SMP. Awalnya ia merasa senang, punya adik lucu yang gembrot, bisa dijahili dan dicubit-cubit pipinya tanpa merasa risih. Tapi, ketika hendak lulus dan memimpikan SMA favorit di seberang rumah sakit, ibunya menghantam dengan kabar buruk.
“Mahal di situ, Nita. Kamu SMA dekat pengadilan aja.” Padahal SMA itu sudah hampir bangkrut. Dan benar, selepas ia lulus tiga tahun kemudian, sekolah itu tutup dan adik-adik kelasnya diminta pindah ke SMA lain. Kuliah di Surabaya pun ibunya juga melarang, “Mahal di situ, Nita. Adik kamu juga sudah mau TK.”
“Ah, andai tidak ada si gembrot.” Anita tidak mau berpikir seperti itu tapi sulit untuk mencegahnya. Kadang lewat saja di dalam hati, kadang di kepala. Terutama di masa-masa sulitnya seperti ini. Hingga akhirnya Anita memilih tidak lanjut kuliah Akuntansi setelah semester ketiga. Lowongan train attendant lewat di beranda Instagram. Sudah setahun sejak ia lolos dan bekerja di atas ular besi. Ular besi yang membawanya kesana kemari. Ular besi yang membawanya pulang untuk kesekian kali.
Jenggala sudah siap dan baru berangkat pukul enam malam. Anita duduk di samping jendela di gerbong kedua dan menundukkan kepala sepanjang perjalanan. Ia berharap bisa tidur dan bangun sejam kemudian ketika sudah sampai.
***
Rendra sudah dua minggu radang tenggorokan, bolak-balik puskesmas, rumah sakit, sampai klinik dan apotek. Semua tempat berbau obat sudah ia datangi. Dari yang paling ramai sampai yang paling sepi. Yang penting tidak mahal, pikirnya. Obatnya pun menumpuk dari antibiotik sampai sirup, tapi tubuhnya tidak kunjung membaik. Awalnya ia hanya merasakan gatal di tenggorokan, lalu panas esok harinya, lalu pusing di hari ketiga. Makan tidak nikmat, minum dingin tidak disarankan. Kepanasan di siang hari di ruangan tanpa AC adalah neraka. Kamarnya itu neraka.
Untung, hari ini kondisinya sudah membaik. Pacarnya ulang tahun besok dan ia memang memutuskan akan merayakan sejak dini hari. Keputusannya beristirahat total didasari dua alasan; agar sang pacar tidak tertular, juga agar dia bisa merayakan hari spesial ini.
Sejak sore, ia sudah pergi ke toko roti, membeli satu slice kue tart berbalut selai merah. Pacarnya pasti senang sekali. Juga dua lilin masing-masing angka dua dan satu. Meski sedikit pucat, wajah Rendra berbinar-binar. Ia sedang membayangkan ciuman. Ia akan segera berciuman lagi setelah dua minggu ini hanya berbaring di kasur dan melihat geal-geol perempuan di tiktok. Ciuman saja sudah cukup. Ia tak berharap lebih.
Setelah pesanannya dibayar dan dibungkus, ia naik motor dan pergi. Jam menunjukkan pukul enam dan ia sudah tak sabar menikmati malam yang panjang.
***
Sabil berharap ia tidak pulang dengan tangan kosong. Tapi apalah daya. Usaha kecilnya di ibukota bangkrut dan kekasihnya berselingkuh. Perempuan yang bersamanya sejak lima tahun terakhir, perempuan yang menjadi alasannya kabur dari rumah dan bertengkar dengan ayahnya, ia dapati tersenyum lebih lebar dan tertawa lebih keras dengan lelaki lain. Lelaki itu membawa kekasihnya kemanapun ia mau. Lelaki itu pula yang lalu mengusirnya dan meminta Sabil untuk menyerah.
“Kau punya apa untuk membuatnya bahagia?”
Sabil tidak punya apapun, tapi setidaknya ia punya teman di kepolisian. Kepada rekan polisinya, ia memberitahu dimana perempuan itu dan kekasih barunya menginap. Sudah lima bulan lamanya, dan keduanya baru diciduk dalam razia di hotel bintang tiga pekan lalu. “Sorry, Bil. Atasanku baru respon hari ini. Ia emang lagi nyari kasus buat naik pangkat. Kasus-kasus kayak gini udah ga terlalu laku di media. Kalah pamornya.”
Setidaknya Sabil tidak pulang dengan hati kosong. Ia merasa senang dalam hati. Senang sekali. Rasanya ia bisa melompat keluar dari rangkaian kereta Argo Bromo Anggrek, membuka pintu tiba-tiba dan terjun bebas. Tapi ia urungkan niat itu karena takut masuk neraka. Padahal, ayahnya dulu menentang hubungannya dengan perempuan itu karena mereka beda agama. Mereka mempercayai Tuhan yang berbeda. Hahaha. Lucu sekali dirimu, Sabil. Kau pasti di antrian paling depan masuk surga. Kau pasti berdiri di belakang nabi ketika pintu surga terbuka.
Ia duduk di gerbong terdepan ketika Jenggala siap berangkat. Entah apakah ayahnya menyambutnya dengan tangan terbuka ketika ia sampai di rumah atau tidak.
***
Lastri sudah sampai di Gubeng sejak sore, makan sepiring rawon dahulu di depot sebelah Hotel Sahid, lalu beranjak 30 menit sebelum keretanya datang. Tidak setiap hari ia seperti itu. Mungkin dua atau tiga kali seminggu, terutama ketika ia musti pergi ke desa yang ia advokasi untuk mendapat hunian layak.
Lastri bergiat di NGO yang advokasi isu perkotaan. Tujuannya hari ini adalah desa pinggir rel yang tanahnya hendak diserobot perusahaan kereta api karena masuk dalam peta lama masa penjajahan. Memang belum ada gugatan ke pengadilan atau pengerahan preman. Tapi Lastri tetap harus datang untuk merencanakan pawai kemerdekaan pekan depan. Bayangan senyum anak-anak desa itu membuatnya bahagia. Bayangan itu pula yang membuatnya bertahan hampir sepuluh tahun di bidang yang sama.
Lastri memang tumbuh besar di kampung tepi rel, tapi di Ibukota Jakarta. Cerita masa kecilnya yang suram membuatnya lolos S2 Perencanaan Wilayah dan Kota di kampus Malang, mendapat beasiswa, hingga direkrut oleh pendonornya untuk bekerja di NGO mereka. Proyek terbarunya di kota satelit ini sudah berjalan hampir enam bulan. Pawai yang ia rencanakan bukan hal baru, tapi setidaknya ia bertemu orang-orang baru yang menyenangkan. Anak-anak yang akan meraih masa depan indah. Anak-anak yang senyumnya membuat dia juga bahagia.
Salah satu anak itu, adalah Rangga.
Ibu Rangga hanya lulusan SMA sebagaimana anak pertamanya, seorang putri yang kini bekerja sebagai pramugari kereta api. Ia mendengar dari sang Ibu betapa Rangga sangat kagum dengan kakaknya, dan berharap bisa mengenakan seragam yang sama. Lucunya, Rangga seumuran dengan Adelia, putri Lastri yang juga duduk di kelas tiga SD. Untuk itu, ia membawakan sepasang seragam train attendant yang ia jahit sendiri. Ia membawa keduanya, kalau-kalau bocah itu mau seragam pramugari, alih-alih pramugara.
Lastri tak peduli kalau Rangga laki-laki. Ia hanya peduli untuk memenuhi impiannya. Untuk melihat senyum lebarnya.
Ketika Jenggala datang dari utara, ia mendapat kursi di gerbong kedua. Ia minta izin duduk di samping perempuan yang mengenakan hoodie abu-abu. Perempuan itu menundukkan kepalanya. Perempuan itu tidak meresponnya.
***
Dari pos penjaga palang kereta, Rangga dapat melihat Rendra melambaikan tangan dari seberang rel. Pacar kakaknya itu akhirnya datang lagi. Rangga si bocah tidak terlalu mengharapkan kedatangannya, tapi ia melambai balik. Rangga mencoba bersikap ramah sebagaimana sang kakak mengajarinya.
Palang pintu kereta api turun dan penjaga membunyikan bel. Tapi Rangga merasa ada yang aneh. Dua cahaya datang dari arah berlawanan. Suara gemuruh rel lebih kencang dari biasanya. Lelaki tua penjaga palang meminta semua orang mundur dari palang. Rangga tak mampu merespon ketegangan yang memancar dari wajah lelaki tua itu. Ia bingung setengah mati. Rangga tak mendengar Rendra memanggil-manggilnya dari seberang. Sebelum menyadari keadaan sebenarnya, di pelupuk matanya terlihat kereta hijau dari Utara, juga sebuah kereta merah dari Selatan. Bukankah kereta merah itu bertuliskan Pertamina?
Rangga tak sempat berpikir. Kedua kereta melaju kencang dan bertabrakan. Tubuh Rangga kecil terhempas ke udara.
Sidoarjo, 15 Januari 2026
Penulis: Fariduddin Aththar
Editor: Zidansad
Gambar: Pinterest
