Nahasnya Suami Pekerja Migran: Sebuah Stereotip di Lagu Tarling Pantura

Wong wadon lagi kerja, wong lanangé sanja, kula ning kéné kengélan, sampéan dolanan wadonan.”

(Perempuannya mencari rezeki, lelakinya memadu kasih, aku di sini kesulitan, kamu main perempuan)

Kata-kata di atas adalah penggalan lirik dan terjemah bebas lagu tarling pantura berjudul Dermayu Hong Kong yang dipopulerkan artis lokal dari wilayah kultur Cirebonan, Dian Anic. Selain lagu tersebut, ada sejumlah lagu lainnya yang menceritakan dinamika hubungan rumah tangga keluarga pekerja migran Indonesia (PMI).

Migran ialah fenomena yang melekat dalam masyarakat Kabupaten Indramayu, salah satu wilayah kultur Cirebonan di Provinsi Jawa Barat. Hal ini dibuktikan dengan data Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pada 10 Juni 2026 bahwa sepanjang Januari-Mei tahun ini, Indramayu menjadi kabupaten pengirim PMI terbanyak dengan 7.318 orang.

Ironisnya, fenomena migran tersebut turut melahirkan stereotipe terhadap suami di Indramayu yang ditinggal istrinya menjadi PMI. Saya pribadi menyaksikannya secara langsung ketika menghabiskan masa kecil dan remaja di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Fenomena ini turut direproduksi melalui lagu-lagu tarling pantura yang populer tersebut.

Stereotipe Suami yang Ditinggal Istri jadi PMI

Ahli Kajian Budaya Chris Barker dalam The SAGE Dictionary of Cultural Studies (SAGE, 2004) mendefinisikan stereotipe sebagai representasi sederhana yang mereduksi seseorang menjadi karakter yang dilebih-lebihkan. Ia berupa atribusi negatif, bersifat esensial, dan ditujukan pada orang yang dianggap berbeda dengan kita.

Stereotipe ini melekat pada gambaran suami dari pekerja migran di lagu-lagu tarling pantura. Setidaknya terdapat enam karakter suami yang dikategorikan stereotipe karena beratribusi negatif dan mereduksi karakter pria seolah-olah itu berlaku pada semua suami yang ditinggal istrinya menjadi PMI. Berikut karakter tersebut:

  1. Suami gemar berbohong dan selingkuh dari istri, tidak kasihan ke istri yang susah payah menjadi PMI (Dermayu Hong Kong)
  2. Laki-laki mengaku lajang ke perempuan lain, padahal memiliki istri seorang PMI (Duda Araban)
  3. Menghabiskan kiriman uang dari istri padahal istri masih jadi PMI (Kiriman Entok)
  4. Dibenci mertua dan tetangga (Kiriman Entok)
  5. Suami “hilang” karena tidak menjadi tempat curhat istri (Jeritan TKW)
  6. Suami “hilang” karena tidak digambarkan perannya dalam rumah tangga (Kepaksa Pisahan)

Stereotipe terhadap para suami ini sudah seperti demonisasi. KBBI VI Daring Kemendikdasmen mendeskripsikan istilah itu dengan penggambaran orang atau hal sebagai sesuatu yang jahat dan mengancam. Karakter para suami seolah sudah sedemikian rusak dan sulit diubah pada saat muncul masalah ekonomi yang menyebabkan istrinya harus menjadi PMI.

Penggambaran itu menyiratkan posisi suami yang sudah seperti subaltern atau golongan terpinggirkan yang tidak mampu menyuarakan aspirasinya (KBBI VI Daring, 2026). Ini sejalan dengan pernyataan Gayatri Spivak yang dimuat buku Cultural Studies Theory and Practice (SAGE, 2016) yang mempopulerkan istilah tersebut meski terdapat perbedaan konteks.

Spivak menyebut subaltern cannot speak untuk merujuk pada perempuan miskin yang tidak memiliki bahasa konseptual untuk menyuarakan keresahan di era kolonialisme Inggris di India. Sedangkan suami dari seorang PMI tidak memiliki kuasa untuk berkeluh-kesah mengenai kesulitan berperan menjadi suami, ayah, dan pencari nafkah di era ‘kolonialisme’ stereotipe.

Para suami seolah hanya menjadi objek dari lagu-lagu tarling pantura di atas. Pengalaman dan kesulitan mereka tidak mendapat tempat sehingga tidak tercipta narasi alternatif. Identitas para suami ini direduksi menjadi sosok yang bermasalah tanpa ada pihak yang bisa membela kepentingan mereka termasuk oleh akademisi.

Sepertinya akademisi kita jarang mengkaji kondisi para suami ini. Sejumlah penelitian terbaru tentang keluarga pekerja migran hanya fokus pada si istri yang memulai bisnis sepulang jadi PMI serta KDRT terhadapnya (Jurnal of Ethnic and Migration Studies, 2024), orang tua PMI yang kesepian dan depresi (Social Science & Medicine, 2021), dan dampak psikologis bagi anak yang ditinggalkan (International Journal of Environmental Research and Public Health, 2024).

Potret stereotipe di atas bisa menjadi basis argumen bagi negara khususnya pemda dan pemdes untuk setidaknya bisa mengurangi keparahan fenomena tersebut. Negara bisa berperan sejak sebelum keberangkatan istri melalui edukasi tentang tantangan hubungan jarak jauh, pelatihan pengasuhan anak bagi ayah, pengelolaan keuangan, dan strategi komunikasi yang tepat.

Para suami ini juga perlu diberi wadah kelompok dukungan berisi konseling keluarga, kesehatan mental, dan mediasi jika terjadi konflik. Tak lupa pendampingan ekonomi agar mereka tetap berdaya tanpa menanti kiriman istri. Kampanye soal bahaya stereotipisasi dan stigmatisasi juga penting untuk mencegah munculnya “suami bermasalah” sebagaimana representasi lagu tarling pantura tersebut.

Peran negara di atas diharapkan bisa menghentikan praktik stereotipe tersebut terhadap para suami. Lebih jauh diharapkan kita akan jarang menjumpai lagu yang mendiskreditkan para suami dari pekerja migran tanpa analisis mendalam mengenai kondisi mereka. Dengan langkah-langkah itu, perjalanan menuju keadilan gender bagi semua layak dinantikan di masa depan.

Referensi

Barker, C. (2004). The SAGE Dictionary of Cultural Studies. London: SAGE Publications.

BP2MI. (Juni 2026). Data Layanan Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mei 2026. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.

Chan, Y. W., Piper, N. (2024). Home-bound precarity: home violence on return Indonesian migrant domestic workers. Jurnal of Ethnic and Migration Studies 50(2): 5029-5044. https://doi.org/10.1080/1369183X.2024.2346617.

Fauk, N.K., Seran, A. L., Aylward, P., Mwanri, L., Ward, P. R. (2024). Parental Migration and the Social and Mental Well-Being Challenges among Indonesian Left-Behind Children: A Qualitative Study. International Journal of Environmental Research and Public Health 21: 1-15. https://doi.org/10.3390/ijerph21060793.

Kumar, S. (2021). Offspring’s labor migration and its implications for elderly parents’ emotional wellbeing in Indonesia. 276(C). Social Science & Medicine. DOI: 10.1016/j.socscimed.2021.113832.

Sawai, S., Bose, C. (2024). Indonesian domestic workers: Hong Kong migrants’ activism, value creation, and post-migration entrepreneurship. Jurnal of Ethnic and Migration Studies 51(9): 2375-2392. https://doi.org/10.1080/1369183X.2024.2415403.

Penulis: Akhmad Jauhari bergiat di Cirebon-Indramayu Studies. Tulisannya fokus pada kultur Indramayu dan Cirebon seperti WBTb 2026 dan Problem Klaim Orisinalitas Budaya: Kasus Cirebon dan Indramayu (Semut Api Media, 2026), Hari Tatar Sunda dan Potensi Tersisihnya Kultur Pinggiran Jawa Barat (Kompas.com, 2026), Ibu sebagai Benteng Bahasa Minoritas: Refleksi Basa Cerbon dan Basa Dermayu (Buletin Linguistik Gadjah Mada, 2026). Penulis bisa disapa via Instagram @ari_aj33.

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya