Naga yang Menolak Tidur

Aroma serbuk gergaji dan bau cakwe goreng yang menguar dari dapur umum selalu menjadi penanda pagi di Tambak Bayan. Di sini, matahari tidak pernah benar-benar leluasa menyentuh tanah. Sinarnya harus berdebat dulu dengan atap-atap seng yang saling bertumpuk, jemuran pakaian yang melintang seperti bendera perang, dan tembok gedung hotel yang menjulang angkuh di sebelah barat.

Koh Bun (65) menyerut kayu jati londo di teras rumahnya yang selebar satu depa. Suara “srek-srek-srek” dari pasahnya beradu dengan deru motor yang dituntun perlahan oleh tetangganya melewati gang.

“Mangkat, Koh?” sapa tetangga itu, seorang pemuda Madura yang tinggal tiga pintu dari situ.
“Yo, hati-hati, Le,” sahut Koh Bun singkat.

Di kampung ini, sekat etnis setipis sekat triplek yang memisahkan kamar tidur mereka. Tionghoa, Jawa, Madura, semua lebur dalam nasib yang sama: menjadi warga yang “ada tapi tiada” di mata negara.

Koh Bun meletakkan pasahnya. Ia menatap langit-langit rumahnya yang rendah. Ratusan tahun lalu, ruangan 4×6 meter yang kini ia huni bersama anak dan cucunya ini adalah kandang kuda milik seorang meneer Belanda. Dulu, kuda-kuda itu tidur hangat dan kenyang. Kini, manusia-manusia yang tinggal di bekas kandangnya harus tidur dengan mata setengah terbuka, waspada jika sewaktu-waktu buldoser datang meratakan kenangan.

“Kung, nanti malam teman-teman kampus datang lagi. Mau benerin mural naga di tembok depan,” kata Meimei, cucu perempuan Koh Bun, memecah lamunan. Gadis itu baru pulang kuliah, menenteng tas kanvas yang penuh cat. Koh Bun mendengus, mengambil rokok klobot. “Buat apa di gambar lagi? Kalau besok hotel sebelah menang, tembok itu juga bakal rubuh.”

“Justru karena itu, Kung. Kita harus bersuara. Kalau nggak bisa lewat sertifikat, ya lewat cat tembok,” balas Meimei tegas. Matanya menyala, nyali khas Arek Suroboyo.

Dada Koh Bun sesak. Ia teringat desas-desus tentang oknum yang bermain mata dengan mafia tanah. Tentang mereka yang mengaku mewakili komunitas tapi menjual aset demi komisi. Naga makan ekor. Metafora yang menyakitkan, tapi jujur.

“Tapi Kung,” lanjut Meimei, “Naga ini juga simbol siklus yang nggak putus. Kita ditekan, kita bangkit. Kita digusur, kita tumbuh lagi. Kayak rumput liar di celah beton.” Seorang mahasiswa berjaket almamater menyodorkan kuas ke arah Koh Bun. “Mbah, mau ikut nambahin garis?”

Ragu-ragu, Koh Bun menerima kuas itu. Tangannya gemetar. Seumur hidup, tangannya hanya memegang pasah dan palu untuk membuat kursi pesanan orang. Ia terbiasa diam, menunduk, bekerja, dan menerima nasib sebagai minoritas ganda: sudah Cina, miskin pula.

Namun, malam ini, di bawah sorot lampu jalan yang remang dan bayang-bayang gedung hotel yang angkuh, Koh Bun merasa ada api yang menyala di ulu hatinya.

Ia menatap tembok rumah tetangganya yang rapuh. Rumah ini adalah saksi bisu kakek-neneknya bertahan hidup. Koh Bun menggoreskan kuas itu. Ia menebalkan garis mata sang naga, membuat tatapannya lebih tajam, lebih berani. “Biar dia tidak tidur, biar dia melek, jaga kampung kita ini kalau kita semua tidur ” gumam Koh Bun pelan.

Januari hampir berakhir. Imlek tinggal menghitung hari. Tidak ada pesta kembang api di Tambak Bayan. Uang warga lebih baik disimpan untuk iuran pengacara atau berjaga-jaga jika penggusuran benar terjadi.

Namun, pagi itu, pemandangan Tambak Bayan berubah. Di sepanjang lorong sempit yang lembab, lampion-lampion merah tergantung berbaris, bukan lampion mahal, hanya lampion kertas sederhana dan bekas tahun lalu yang dibersihkan. Cahaya merahnya memantul di dinding-dinding penuh mural.

Koh Bun duduk di depan rumahnya. Di atasnya, lampion bergoyang ditiup angin, sedangkan di depannya, mural naga yang ia tebalkan matanya seolah hidup, menjaga gang sempit itu. Suara riuh terdengar dari ujung gang.

Tampaknya, rombongan mahasiswa mulai berdatangan, mereka tidak datang sebagai turis yang berjarak, melainkan sebagai kawan. Beberapa dari mereka membawa buku catatan, duduk lesehan mendengarkan cerita para tetua tentang sejarah kandang kuda, sedangkan yang lain membantu warga memasang umbul-umbul, tertawa bersama seolah sekat tembok universitas dan dinding kampung telah runtuh.

Meimei keluar membawa nampan berisi kopi untuk teman-temannya. “Kung, lihat. Mereka datang lagi. Bukan cuma buat foto, tapi buat nemenin kita.”

Koh Bun tersenyum tipis. Ia menyesap kopinya. Pahit dan manis, seperti hidup di Surabaya. “Biar mereka tahu, Mei,” kata Koh Bun, matanya menatap lurus ke arah gedung hotel bertingkat yang menjulang menutupi matahari pagi. “Bahwa Tambak Bayan bukan cuma tanah sengketa seluas 3.000 meter.

Ini adalah tempat di mana jiwa Surabaya dibentuk. Tempat naga, kuli, tukang kayu, dan mahasiswa berbagi napas.” Mereka boleh punya sertifikat Hak Guna Bangunan, batin Koh Bun. Namun, kami punya hak guna kehidupan dan kami tidak akan pergi tanpa melawan. Di dinding bekas kandang kuda itu, sang naga merah tampak menyeringai, siap menelan siapa saja yang berani mengusik tidur warga Tambak Bayan.

_

Karya: Chintiya Devi seorang pejalan kaki yang sering tersesat di labirin kota Surabaya. Menulis untuk merekam jejak-jejak kemanusiaan yang sering luput dari sorotan kamera. Berharap tulisan ini bisa menjadi teman bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan ruang hidup.

Editor: Azkal

Foto: Unsplash.com/huangshunping

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya