Di kota-kota besar, orang sering bicara tentang perempuan hebat dengan cara yang indah. Tentang perempuan mandiri. Perempuan berpendidikan. Perempuan yang bisa bekerja, menghasilkan uang sendiri, lalu perlahan “menjadi versi terbaik dirinya.”Kalimat-kalimat itu terdengar bagus di seminar. Bagus di media sosial. Bagus dijadikan caption.
Tapi ada banyak perempuan yang bahkan tidak sempat memikirkan “menjadi versi terbaik dirinya” karena terlalu sibuk bertahan hidup.Mereka bangun sebelum subuh. Menyiapkan sarapan. Mengantar anak sekolah. Menjaga warung kecil. Menjadi buruh jahit. Menjadi pegawai toko dengan gaji yang habis bahkan sebelum tanggal tua datang. Ada yang bekerja sambil menyembunyikan rasa sakit di tubuhnya sendiri. Ada yang tetap tersenyum kepada pelanggan meski malam sebelumnya baru bertengkar hebat di rumah.
Perempuan-perempuan seperti itu justru sering luput dari perhatian. Padahal merekalah orang-orang yang diam-diam menjaga kehidupan tetap berjalan. Kita terlalu sering merayakan perempuan yang “berhasil terlihat.” Sementara perempuan yang hidupnya habis untuk menopang orang lain malah nyaris tidak punya ruang untuk didengar.
Saya pernah melihat seorang ibu penjual nasi di dekat stasiun yang tetap membuka warung kecilnya meski tangannya dibalut perban. Ketika ditanya kenapa tidak istirahat, ia hanya tertawa kecil lalu berkata, “Kalau saya berhenti sehari, dapur di rumah ikut berhenti.” Kalimat itu sederhana. Tapi sejak hari itu saya sadar, banyak perempuan tidak benar-benar diberi pilihan untuk lelah.
Mereka dipaksa kuat terlalu lama.Kita terlalu terbiasa melihat perempuan kuat seolah itu memang kewajiban mereka.Seolah perempuan memang harus tahan banting. Bisa mengurus rumah sambil bekerja. Bisa tetap lembut meski hidup berkali-kali memukulnya. Bisa tetap waras meski nyaris tidak pernah punya waktu sendiri.
Kita memuji perempuan karena kuat, tetapi jarang bertanya siapa yang selama ini memeluk mereka ketika hancur.Hal lain yang jarang dibicarakan adalah tentang perempuan-perempuan di kota kecil.Anak-anak muda di kota besar mungkin bisa bicara tentang passion, healing, atau work-life balance. Tetapi banyak perempuan di kota kecil tumbuh dengan pilihan hidup yang jauh lebih sempit.
Mereka sering diajarkan untuk tidak bermimpi terlalu tinggi karena dunia sudah lebih dulu mengatakan: “Perempuan nanti juga ujungnya di rumah.”Kalimat itu terdengar biasa. Tapi diam-diam membunuh banyak kemungkinan.
Ada perempuan yang sebenarnya ingin kuliah, tetapi diminta mengalah demi adik laki-lakinya. Ada yang ingin bekerja lebih jauh, tetapi dianggap “tidak pantas pulang malam.” Ada yang punya suara, tetapi sejak kecil dibiasakan diam agar dianggap baik.
Dan yang paling menyedihkan: banyak perempuan akhirnya percaya bahwa mereka memang tidak layak punya ruang sebesar itu.Padahal masalah terbesar bukan karena perempuan tidak mampu. Masalahnya adalah terlalu banyak pintu yang sejak awal tidak benar-benar dibuka untuk mereka.Karena itu saya selalu percaya bahwa pendidikan bukan cuma soal sekolah atau gelar. Pendidikan juga tentang keberanian membuat seseorang merasa hidupnya berharga.
Perempuan yang merasa dirinya berharga akan lebih sulit dibungkam.Ia akan tahu bahwa tubuhnya pantas dihormati. Pikirannya pantas didengar. Mimpinya tidak lebih kecil hanya karena ia lahir sebagai perempuan.
Tetapi hari ini, ruang aman bagi perempuan masih terasa seperti barang mewah.Masih banyak perempuan takut berjalan sendiri malam hari. Takut bicara karena khawatir dianggap berlebihan. Takut melapor karena pengalaman orang lain menunjukkan bahwa korban sering kali justru disalahkan.Lalu kita heran kenapa banyak perempuan memilih diam.
Kadang saya berpikir, mungkin yang paling melelahkan dari menjadi perempuan bukan hanya tentang rasa sakitnya, tetapi tentang keharusan untuk terlihat baik-baik saja di tengah semua itu.
Mereka harus tetap ramah. Tetap sopan. Tetap tenang.Bahkan ketika dunia tidak pernah benar-benar ramah kepada mereka. Di tengah semua hal itu, saya justru menemukan harapan dari komunitas-komunitas kecil yang sering dianggap biasa. Komunitas ibu membaca di kampung. Perempuan-perempuan yang mengajar anak jalanan. Kelompok kecil yang saling membantu menjual dagangan satu sama lain. Orang-orang yang mungkin tidak viral, tetapi diam-diam sedang menjaga harapan tetap hidup.
Mereka tidak selalu punya panggung besar. Tidak punya centang biru. Tidak punya ribuan pengikut. Tetapi mereka hadir. Dan kadang, perubahan memang lahir dari orang-orang yang tidak banyak dibicarakan. Mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat perempuan hanya sebagai simbol ketangguhan yang puitis. Perempuan bukan mesin penyintas yang harus terus kuat tanpa istirahat.
Mereka manusia. Mereka bisa takut. Bisa lelah. Bisa kecewa. Bisa ingin didengar tanpa dihakimi. Mungkin, kebangkitan dari pinggir sebenarnya dimulai dari hal sederhana: memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini dianggap terlalu kecil untuk penting.
Penulis: Tresnaning Diah, adalah penulis yang percaya bahwa cerita-cerita kecil juga layak didengar. Menulis tentang perempuan, luka, kota-kota kecil, dan manusia yang diam-diam sedang bertahan hidup. Karyanya tersebar di berbagai antologi, media, dan ruang-ruang sunyi yang sering luput dari perhatian. Instagram: @tresnaningdiah. Akun karya dan tulisan: @aksara.kata.naning
Editor & Ilustrasi: Hamimie
