Kesetaraan gender sering dipahami sebagai isu yang hanya berkaitan dengan perempuan. Padahal, pada hakikatnya kesetaraan gender adalah tentang bagaimana setiap manusia memperoleh kesempatan, penghargaan, dan perlakuan yang adil tanpa dibatasi oleh jenis kelaminnya. Kesetaraan bukan berarti menyamakan setiap orang dalam segala hal, melainkan memastikan bahwa setiap individu memiliki ruang untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
Dalam kehidupan sehari-hari, ketidaksetaraan gender sering kali hadir dalam bentuk yang tidak disadari. Misalnya, anggapan bahwa perempuan lebih cocok mengurus pekerjaan domestik, sedangkan laki-laki harus selalu menjadi pencari nafkah utama. Pandangan seperti ini telah diwariskan selama bertahun-tahun sehingga dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, ketika seseorang dipaksa memenuhi peran tertentu hanya karena jenis kelaminnya, kebebasan untuk menentukan pilihan hidup menjadi berkurang.
Di lingkungan pendidikan, mahasiswa dan mahasiswi sebenarnya memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berprestasi. Namun, masih ada stereotip yang memengaruhi cara pandang masyarakat. Perempuan kadang dianggap kurang mampu memimpin organisasi, sementara laki-laki dianggap tidak pantas menunjukkan sisi emosional atau memilih bidang yang identik dengan perempuan. Stereotip tersebut tidak hanya membatasi perempuan, tetapi juga membatasi laki-laki untuk menjadi diri mereka sendiri.
Kesetaraan gender juga dimulai dari cara kita berkomunikasi. Mendengarkan pengalaman orang lain tanpa menghakimi merupakan bentuk penghormatan terhadap martabat manusia. Ketika seseorang menceritakan pengalaman menghadapi diskriminasi, respons yang dibutuhkan bukanlah menyalahkan atau meremehkan, melainkan memahami dan mencari solusi bersama. Empati menjadi jembatan yang mampu memperkuat hubungan antarmanusia.
Media sosial memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap gender. Di satu sisi, media sosial membuka ruang bagi banyak orang untuk berbagi pengalaman dan menyuarakan pentingnya kesetaraan. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi tempat penyebaran stereotip, ujaran kebencian, hingga perundungan berbasis gender. Oleh karena itu, setiap pengguna memiliki tanggung jawab untuk menggunakan media sosial secara bijak dengan menyebarkan informasi yang benar, menghargai perbedaan pendapat, dan menghindari konten yang merendahkan kelompok tertentu.
Sebagai generasi muda, kita memiliki kesempatan untuk membangun budaya yang lebih inklusif. Langkah tersebut tidak selalu harus berupa gerakan besar. Menghargai pendapat teman tanpa memandang jenis kelaminnya, membagi tanggung jawab secara adil dalam kerja kelompok, serta menghindari candaan yang merendahkan perempuan maupun laki-laki merupakan tindakan sederhana yang membawa dampak nyata. Perubahan sosial sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Pada akhirnya, kesetaraan gender bukan hanya tentang memperjuangkan hak perempuan ataupun laki-laki, melainkan tentang menciptakan masyarakat yang menghargai setiap manusia secara setara. Ketika setiap orang diberi kesempatan yang sama untuk belajar, bekerja, memimpin, dan menentukan masa depannya, maka lingkungan yang lebih adil akan tercipta. Menjadi pendengar yang adil, menghormati pilihan hidup orang lain, dan berani menolak stereotip adalah langkah kecil yang dapat dilakukan siapa saja. Dari langkah-langkah sederhana itulah perubahan besar dapat tumbuh.
Referensi
• Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. Pembangunan Kesetaraan Gender di Indonesia.
• UN Women. Gender Equality: Women’s Rights in Review.
• United Nations. (2015). Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development (Goal 5: Gender Equality).
Penulis: Mubarak Habib Sidik merupakan mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada isu pendidikan, kesetaraan, dan kepenulisan. Ia percaya bahwa tulisan dapat menjadi sarana untuk membangun empati, memperluas wawasan, dan mendorong perubahan sosial yang positif.
Editor: Hamimie
