Ada kampus hijau yang berdiri megah, tapi kantinnya tidak pernah benar-benar ada. Setiap pagi, aku dan mahasiswa lain melewati pagar belakang, ke warung papan milik warga kampung Gunung Anyar setempat. Seringkali, kopi lebih jujur daripada janji pembangunan.
***
Hari ini, Yanda sumringah menyambut perkuliahan di kampus setelah satu semester belajar dalam jaringan. Untuk yang kesekian kali, Yanda bertemu teman-teman kuliahnya setelah hanya bertegur sapa di ruang pesan digital.
“Halo, Yanda! Kelihatannya sudah sangat siap menerima kuliah hari ini!” sapa Aly.
Yanda dan Aly sama-sama pers mahasiswa. Mereka sudah saling mengenal semenjak kegiatan diklat jurnalistik dasar di organisasi pers kampus.
Aly melanjutkan sapaannya, “Boleh lah kita ngopi dulu di warung belakang. Sebat dulu sebatang dua batang biar makin fokus belajarnya,” ajak Aly.
Aly adalah senior satu tingkat di atas Yanda. Dengan kesenjangan tersebut, ajakan Aly sulit untuk di tolak. Kurang lebih, demikianlah budaya yang masih lestari di kampusya.
“Boleh, Bang,” ucap Yanda.
“Nah, bagus itu. Kita diskusi tipis-tipis sebelum masuk kelas,” tutup Aly.
Sesampainya di warung belakang, Yanda terkejut melihat kondisinya. Ini tidak seperti yang dibayangkan oleh Yanda. Kampus baru nan megah, namun tidak memiliki kantin, lebih mirip dengan warung pegawai proyek.
“Ini warungnya, bang?” tanya Yanda.
“Betul. Ini warung paling favorit disini. Ada warung lain, tapi harus keluar dulu sekitar satu sampai dua kilometer dari kampus,” jawab Aly.
Yanda hanya diam, memikirkan kampus yang ia tempati ternyata tidak memiliki kantin. Yanda bergeming bahwa itu juga akan menyulitkannya ketika membutuhkan makanan ringan jika jam kelas kuliah agak lengang.
“Sudah… nikmati saja dulu, nanti juga bakal terbiasa. Wajar kalau begini, namanya juga kampus baru,” sahut Aly saat Yanda hanya terdiam mendengar jawabannya.
Karena Aly lebih senior, tentu saja ia lebih banyak mengetahui apa yang telah terjadi. Aly bercerita banyak tentang kampus yang tidak menyiapkan desain khusus untuk para mahasiswa membeli jajanan.
“Aku tahu beberapa dari orang dalam yang ku kenal. Kampus ini memang tidak menyiapkan kantin sedari awal. Jadi, kita sebagai mahasiswa tidak punya pilihan lain kecuali beli jajan disini bersama para pegawai proyek dan pegawai kampus yang lain,” ujar Aly.
Yanda merasa aneh, karena masih banyak pegawai proyek yang berkeliaran. Jika memang kampus ini sudah diresmikan, seharusnya tidak ada lagi banyak pegawai proyek yang mondar-mandir, paling hanya supervisi dari para mandor proyek.
“Emang kampus ini belum resmi selesai, ya? Atau bagaimana, Bang?”, tanya Yanda. “Betul, setahuku begitu ya,” jawab Aly.
Notifikasi masuk memecah riuh diskusi pagi hari, menandakan bahwa kelas akan dimulai. Yanda pun bergegas masuk menuju kelas.
“Lho kemana, Mas? Ini kopimu baru saja diseduh,” tanya buk WB.
Jawaban Yanda tak terdengar oleh Buk WB, yang akhirnya diteruskan oleh Aly. “Mau kelas itu, Buk. Biasalah mahasiswa baru, lagi semangatnya kuliah,” terus Aly.
“Halo, Buk WB… Halo juga, sayangku, cintaku, gantengku…. Halo, semuanya!” sapa Vanya.
Vanya adalah pacar Aly, ia lebih lama mengenal Buk WB. Karena keaktifan dan kecentilannya, Vanya dikenal oleh banyak orang.
***
Setahun berlalu…
Seketika dengan kedatangan Vanya yang memecah suasana, Buk WB pun juga menyapanya. Sembari menanyakan kabar, Buk WB menggerutu kepada Vanya, “Iki piye ya, Nya? Aku dapat kabar dari satpam bahwa gerbang penghubung antara kampus dengan warung-warung ini akan ditutup.”
“Loh serius, Buk? Terus aku kalau mau ngopi jadi kejauhan dong?” sahut Aly.
“Wah kabarnya sudah sampai telinga Buk WB, ya. Aku sebenarnya sudah tahu dari lama sih buk, cuma masih menunggu kebenaran informasinya saja,” jawab Vanya.
“Iya. Piye ya, Nya? Orang-orang wes kadung buka warung disini. Arek-arek mahasiswa yo wes mulai terbiasa,” sahut Buk WB.
Selain sebagai penjual, Buk WB juga seorang warga kampung Gunung Anyar yang memiliki tanah di belakang kampus. Buk WB lebih memilih mendirikan warung karena banyak permintaan dari para pegawai proyek. Namun dengan upayanya menambah penghasilan keluarga melalui berjualan, beliau mulai terganggu dengan adanya kebijakan kampus menutup gerbang penghubung.
“Dari informasi yang tak dapat, beberapa wilayah kampus baru ini masih ada yang bersengketa dengan beberapa petak tanah warga Gunung Anyar, Buk. Katanya sih supaya cepet selesai, kampus meneken kontrak perjanjian dengan beberapa kepala kampung dan pemilik tanah yang bersengketa,” tambah Vanya.
“Buk, tumbas kopi hitam dua bungkus!” suara pegawai kampus.
“Iyo, Nya. Kasihan orang-orang yang baru membuka usaha warung disini,” tutup Buk WB.
Sementara itu, Aly yang merasa dirinya mempunyai tanggung jawab sebagai ketua organisasi pers kampus, mencoba menelaah apa sebenarnya masalah utama dari keresahan Buk WB.
“Kalau rugi sih pasti, iya. Buk WB sendiri sudah bangun warung yang tentunya memakai modal. Begitu pun warung yang lain. Belum juga dari sisi pembeli seperti mahasiswa dan pegawai kampus. Tapi memang ada perjanjian ya antara pihak kampus dengan warga sekitar?” tanya Aly.
“Betul, cintaku. Jadi kalau dari informasi yang tak dapat, ada perjanjian timbal balik dari kampus untuk warga sekitar, salah satunya membuka ruang ekonomi di Gunung Anyar,” jawab Vanya.
“Baiklah. Menarik ini untuk dijadikan investigasi. Kita tunggu Yanda datang, baru kita eksekusi,” tutup Aly.
Hari demi hari pun berganti, keresahan Buk WB atas bayang-bayang penutupan gerbang kampus belum menemukan jawabannya.
***
“Buk WB pesan kopi dua, minum disini. Yang satu gulanya normal, yang satu gulanya sedikit,” suara Yanda.
“Halo, gantengnya kampus! Dari mana saja kok baru kelihatan,” sapa Vanya.
“Hai kak, bagaimana kabarnya? Ini kenalkan, aku bawa teman dari kelas lain namanya Chatib, kebetulan juga satu angkatan,” jawab Yanda.
Chatib adalah seorang anak salah satu tokoh penting parlemen di tingkat kota. Ia lebih banyak mengetahui proses politik dari belakang meja, yang biasanya disebarluaskan di meja perkopian. Hal ini umum, terutama bagi anak-anak yang kuliah di jurusan Ilmu Politik.
“Bagaimana, Yanda? Ternyata kita semua kuliah di tanah sengketa,” sahut Aly.
“Wah serius, Mas? Masa kampus baru dan sebagus ini ternyata masih sengketa? Tidak mungkin itu,” sela Chatib.
“Emangnya kenapa, Bang? Bisa kan diceritain dulu awal mula masalahnya,” jawab Yanda.
“Tanya aja tuh si Vanya, si paling tahu informasi segala hal. Bisa juga ditanyakan ke Buk WB, soalnya beliau yang paling terdampak,” jawab Aly.
Buk WB dan Vanya yang sedang ngobrol seru tentang hal lain sembari melayani pembeli pun menoleh. Yanda tidak langsung menghampirinya, karena memahami bahwa itu akan mengganggu percakapan mereka.
“Kok bisa, ya? Harusnya kampus memastikan dulu sih sebelum membeli tanah,” ujar Chatib.
Sambil menyebat rokok di tangannya, Aly juga merespon, “Normal itu, dan tergantung kesepakatan antara dua belah pihak aja.”
“Bagaimana yan? Tidak bisa ini kita diam saja. Harusnya sebagai anak pers mahasiswa, kita bisa bantu menyuarakan lewat tulisan,” tambah Aly.
“Benar juga sih bang. Tapi nanti kita akhirnya juga bakal terlibat banyak dalam masalah ini,” jawab Yanda.
“Wajib, Yan. Wajib hukumnya kita terlibat. Kalau bisa kita usahakan pihak warga Gunung Anyar yang menang, karena mereka dijanjikan pertumbuhan ekonomi di daerahnya,” tandas Aly.
“Bentar bang, ini otomatis nama ku juga tercantum ya nantinya? Apa tidak beresiko? Takut berdampak panjang ke proses kuliah bang,” seru Yanda.
“Udah itu urusan gua, nanti bakal gua bantu semaksimal mungkin,” jawab Aly.
Tidak lama kami berbincang, seorang kepala satpam kampus pun datang. Satpam tersebut memberikan informasi kepada Buk WB jika minggu depan gerbang penghubung antara warung dengan kampus akan ditutup total.
“Mbak, alamat, Mbak. Minggu ngarep gerbang e wes di tutup total,” ujar Kepala Satpam.
“Loalah pak, temenan ta iki? Aku gung omong-omongan karo pak RT padahal,” sahut Buk WB.
“Iyo, Mbak. Arep yaopo maneh, perintah pimpinan. Kopi ireng siji, Mbak,” jawab Kepala Satpam sembari memesan segelas kopi.
“Wah, telat kita mas,” sahut Chatib.
Dengan percaya diri Aly menjawab singkat, “Masih bisa, setidaknya untuk menegaskan posisi warga kampung.”
Buk WB dan para pemilik warung pun tidak mau kalah dengan keputusan pimpinan kampus. Mereka tetap berjualan meskipun terhalang pagar setinggi dua meter.
Para mahasiswa dan pegawai kampus pun juga tidak punya pilihan untuk tetap mendukung dengan membeli, karena tidak adanya kantin kampus.
“Pihak rektorat menyarankan kami mengirim surat ke pihak pusat bisnis di kampus, Mas,” keluh Buk WB sambil melayani pembeli.
“Aman Buk WB, saya juga sudah menghubungi teman-teman BEM untuk membuat pernyataan sikap,” sahut Aly.
Aly bersama teman-temannya di BEM mendesak digelarnya mediasi antara pihak kampus dengan warga kampung sekitar. Aly juga mengupayakan investigasi lebih lanjut oleh organisasi pers kampus.
“Yanda, besok bakal ada mediasi antara perwakilan dari rektorat dengan para tokoh masyarakat. Ajak teman-temanmu gabung. Pertemuan ini harus dijadikan berita khusus,” perintah Aly.
“Siap bang, insyaallah teman-teman siap dikerahkan,” jawab Yanda.
Dua hari setelahnya, mediasi pun digelar di balai Kampung Gunung Anyar. Mediasi ini dihadiri oleh perwakilan rektorat dan pusat bisnis kampus bersama ahli hukumnya. Sementara, warga Kampung Gunung Anyar mendatangkan para pedagang warung di sekitar kampus bersama pakar ahli pembangunan dari ITS.
“Ini bagaimana, Pak? Jangan seenaknya sendiri. Tiba-tiba menutup pagar penghubung yang akhirnya membuat mahasiswa tidak bisa berkunjung ke warung kami,” sorak salah satu pedagang.
“Wes ta, kalem-kalem ae cak, iki onok moderator e. Ojok angger nyeplos ae. Sing sabar, aku yo mangkel iki,” jawab Buk WB yang berusaha menenangkan.
“Gak usah kesuen, awak dewe iki wes dikhianati karo kampus,” sahut pedagang. “Wes angel wes,” sahut pedagang yang lain.
“Iya betul. Dulu katanya ketika membangun kampus ini akan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar, kok sekarang malah memblokade akses mahasiswa, yang benar aja pak,” pedagang lain ikut menimpal.
Cekcok dan keresahan tersebut merupakan hal yang benar karena hampir satu bulan mereka tidak mendapatkan kejelasan dari kampus. Para pedagang harus bolak-balik menuju kampus utama untuk mengirim surat dan berkoordinasi dengan pihak pusat bisnis.
“Sudah bisa dicukupkan terlebih dahulu. Ini adalah ruang mediasi, kita harus mencari solusi terbaik untuk kemaslahatan bersama,” redam Pak RT.
Perwakilan dari kampus pun menjawab, “Jadi begini pak RT….”
Mediasi pun selesai dengan perwakilan pedagang dan warga yang bertanda tangan bersama perwakilan pihak kampus dalam perjanjian. Sayangnya, mediasi itu tidak membuahkan hasil positif bagi para pedagang dan warga kampung Gunung Anyar. Para pedagang diharuskan menyewa gerai di tempat yang telah disediakan oleh kampus. Jika tidak mau menyewa, warung-warung yang berhimpitan dengan pagar penghubung kampus akan dibongkar dengan dalih merusak estetika kampus.
Sementara itu, para warga yang sedang bersengketa pun juga tidak punya pilihan. Mereka harus bertolak sejauh dua sampai tiga kilometer untuk mencapai sisi utama kampus, karena gerbang penghubungnya sudah di tutup total.
“Kita gagal membantu warga kampung, Bang, para pemilik warung harus menyewa gerai dengan harga yang mahal,” celetuk Yanda.
“Iya betul. Tetapi setidaknya berita terkait permasalahan ini sudah mengudara. Semoga bisa menjadi refleksi bagi para pembaca,” jawab Aly.
Permasalahan ini membuat Yanda semakin dekat dengan warga kampung Gunung Anyar. Terutama Buk WB yang juga lahir dan besar di tanah yang disengketakan oleh kampus baru ini. Yanda dengan kebiasaannya menelisik masa lampau pun mulai tertarik untuk mengulas lebih jauh tentang kampung Gunung Anyar. Ia mencoba berbicara lebih banyak dengan Buk WB agar terhubung dengan warga kampung yang lain.
“Sudah berapa tahun tinggal di Gunung Anyar Buk WB?” tanya Yanda.
“Wes kaet cilik mas, kaet lahir sampek saiki, hampir 50 tahun,” jawab Buk WB.
“Wah, sampean berarti sudah mengalami Gunung Anyar jaman sek asri ya buk,” timpal Yanda.
“Iyo mas. Ket jalan kampung e sek sempit, sampek saiki wes onok MERR sing semunu ambane,” jawab Buk WB.
Percakapan yang intens membuat Buk WB mulai memahami karakteristik Yanda yang suka menelisik sejarah. Ia pun menyarankannya untuk bertemu seseorang. Karena menganggap Yanda memiliki dampak baik yang signifikan, Buk WB pun mencoba untuk membantu menghubungkan dengan orang tersebut.
“Iki lho, Mas, sampean lek seneng sejarah, onok satu orang sing bisa di ajak ngobrol ngalor-ngidul. Mulai ket jaman Mataram pas babat alas nang Gunung Anyar, sampek modelan koyok saiki,” timpal Buk WB.
“Nang Gunung Anyar iki uakeh ceritane, Mas. Sampek kepikiran goro-goro adanya masalah wingi, masalah yang agak mengusik ketenteraman warga kampung Gunung Anyar, dadi iling jaman 65’an biyen,” cerita Buk WB.
“Loh, mosok, Buk? Cerito temenan ta yaopo, Buk?” Timpal Yanda.
“Loalah mas. Mangkane daerah Gunung Anyar iki lek bengi rodok suwung, mergane biyen dadi lokasi pembunuhan orang-orang PKI. Akeh wong wedi lek liwat Gunung Anyar,” jawab Buk WB.
“Kok suangar ngunu, Buk. Asik iki lek di buat panggung diskusi sama arek mahasiswa lain,” sahut Yanda.
“Aku yo sek tembung jarene, Mas. Ceritone wong-wong tuo, wong lawase Gunung Anyar. Wes lek sampean kosong ae langsung kabari, tak antarkan ke rumah salah satu orang yang tahu persis sejarahnya,” tutup Buk WB.
“Wah, boleh-boleh. Maturnuwun informasinya, Buk,” tutup Yanda.
Dengan informasi terbaru yang didapat dari Buk WB, Yanda merasa masih banyak yang harus ia ketahui tentang Gunung Anyar. Tentang kampus yang tetap terang dan ragam cerita yan ada di dalamnya. Warga kampung tidak pernah kalah, setidaknya mereka sudah melawan.ra
Penulis: Al Ghozaly Irzha Bagus Syahput
Editor: Zidansad
Gambar: Pinterest
