Memulung Kembali Surabaya: Antara Tunjungan, Kampung Budaya, dan Yang Tenggelam dalam Terbelahnya Kota

Lampu Neon dan Dialek Arekan

Seperti cara orang muda Jakarta mencari Blok M, saya juga mencari Tunjungan setibanya di Surabaya.  Pikir saya, kota ini bakal soal Pakuwon atau Tunjungan Plaza saja, sebagaimana kota ini ngetop karena mallnya. Saya melewati Kampung Ketandan, Hotel Majapahit, dan Siola. Terdengar dialek arekan dimana-mana, yang kini sudah familiar di telinga sebab sekarang Tenxi, pemuda asal Sidoarjo itu punya lagu “Bayangno Awakmu”, dan beberapa waktu lalu saya datang ke konsernya di kota ini. Manfaatnya, setidaknya saya boleh pede sedikit menggunakan imbuhan ‘rek’ atau ‘ta’ di akhir kalimat pada teman-teman Surabaya.

Tapi, sudahlah bermain turisnya. Jadi begini, di Tunjungan, saya berjumpa dengan seorang pemulung dan anaknya, katakanlah Pak Radit dan Zaki, yang sedang duduk beralas trotoar bersama botol-botol pungutan orang-orang yang lagi malmingan. Karena saya sedang riset tentang anak jalanan di Surabaya –sebagai kota layak anak global satu-satunya di Indonesia, saya rasa rasa keberadaan bapak-anak ini menimbulkan pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan obrolan langsung bersama mereka.

Tunjungan yang Pandai Bersolek dan Luka Kampung Narkoba yang Menganga

Saya mulai berkenalan dengan mereka seraya duduk bersila di seberang FamilyMart. Melihat saya terlihat kepo, Pak Radit menyambut saya dengan sapaan hangat, “Gimana, Mba? Gak apa Mba, saya tadi lihat sampean sapa anak saya,” katanya sembari menengok saya memberikan risol yang saya beli dari pekerja anak lainnya di Jalan Tunjungan. “Saya sedang meneliti soal anak jalanan di Surabaya, karena Surabaya dikenal ramah anak, juara satu berturut-turut hingga tahun 2024,” sahut saya begitu. “Oh, kalau disini mah banyak, Mba. Misal, di Jalan Kunti, Kampung Narkoba itu, Mba. Sudah pernah kesana?” katanya sembari menghidupkan rokoknya. Sontak saya heran, sebab disini saya datang dengan dibekali pengetahuan bahwa anak jalanan Surabaya sudah nihil, tetapi dengan mudahnya ia menunjukkan nama-nama kampung dengan variasi masalah anak di setiapnya.

Dari pandangan saya, jika Tunjungan adalah wajah koin Surabaya yang bersolek, Kunti adalah luka yang menganga dibalik koin ibukota yang sama. Di sana, predikat “Kota Layak Anak” terasa seperti dongeng pengantar tidur yang tidak pernah sampai ke telinga anak-anaknya. Di labirin gang sempit itu, anak-anak tumbuh besar dengan pemandangan yang tak seharusnya, transaksi di sudut gelap, kejar-kejaran dengan aparat, dan kemiskinan yang seakan diwariskan lewat garis darah.

Walau tak banyak bicara, Zaki bilang kepada saya bahwa dirinya yang berusia sepuluh tahun tidak pernah merasakan sekolah. Hanya kakaknya yang pernah, itupun putus. Jadi Zaki dan adiknya hanya mengandalkan pengajaran otodidak dari orangtua dan kakaknya dirumah. Rasanya getir, lagi, karena saya melihat begitu banyaknya sekolah internasional mewah di kota ini. Selama percakapan kami berlangsung, beberapa pemulung bersama anaknya juga berseliweran dan menyapa Pak Radit. Banyaknya pemulung menggendong atau menggandeng anak bolak-balik membongkah pikiran saya berkali-kali, menggaungkan fakta bahwa pernyataan layak anak-nya Surabaya itu sayangnya belum betul merata.

Jalan Kunti dekat dengan kesakralan Wisata Religi Ampel. Doa-doa yang melangit di Ampel dan nasib yang terpuruk di Kunti hanya dipisahkan oleh beberapa blok bangunan. Di sini, saya menyadari bahwa marginalisasi di Surabaya bukan hanya soal ekonomi, tapi soal spasial. Pemerintah kota sibuk memoles fasad bangunan kolonial di pusat kota, sementara banyak kampung seperti “Kampung Narkoba” yang dibiarkan menjadi lubang hitam nan menyedot masa depan anak-anak di dalamnya.

Saya jadi teringat saat ikut walking tour di Bersukaria Walk yang menarik garis lurus dari sejarah, bahwa Tunjungan yang ada di tengah kota itu terus menjadi primadona sejak awal dan tanpa akhir. Bahkan sejak dulu. Tepatnya di ujung kota dimana Kampung Tionghoa mengalami histori kelam, Kya-Kya Kembang Jepun, masa dimana areanya diisi kembang-kembang Jepang yang menjadi pelayan seks.

Saya kemudian menyimpulkan, Surabaya telah menempuh perjalanan panjang dalam menjadi persimpangan budaya, yang sekalian membawa konsekuensinya yang lagi-lagi merugikan populasi paling marjinal, perempuan dan anak. Menyebut Surabaya layak anak tanpa menyentuh akar masalah sama saja dengan mengecat tembok rumah yang fondasinya sudah keropos oleh rayap. Di Kunti, anak-anak tidak butuh taman bermain yang estetik untuk difoto, mereka butuh jaminan bahwa lingkungan mereka bukan lagi menjadi sekolah bagi calon kriminal, melainkan ruang aman yang memanusiakan mereka tanpa embel-embel stigma “anak kampung narkoba.”

Saat Tunjungan Boleh Jadi Milik Jalanan

Percakapan kami berlanjut dengan lebih personal. Pak Radit lanjut bercerita soal bagaimana ia dan keluarganya menyambung hidup setelah bantuan tunai dari Program Keluarga Harapan berhenti diterimanya. Mendengarkan Pak Radit bercerita, saya tersadar bahwa Tunjungan sedang mengalami apa yang oleh Phil Hubbard dan Dawn Lyon (2018) sebut sebagai pergeseran sosiologi jalanan. Dalam artikel mereka, Streetlife, jalanan seharusnya menjadi laboratorium sosial yang inklusif, sebuah ruang pertemuan tempat berbagai kelas bersinggungan tanpa rasa terancam. Namun, Tunjungan hari ini lebih menyerupai panggung teater bagi kaum borjuis baru. Pak Radit sadar bahwa kondisinya bisa lebih baik. Ia juga sudah berusaha banyak untuk merubah kondisi keluarga. 

Ada kepedihan yang terselip saat Pak Radit bertanya, “Apa diterima saya pakai baju gini ke kantor Dinsos?”. Pak Radit memakai kaos lengan panjang, celana panjang, beserta topi yang sama-sama lusuhnya. Tapi apa deskripsi outfit beliau bisa dipahami bila pemerintah belum berhasil membuatnya aman untuk menikmati haknya sebagai warga dalam mencari bantuan.

Predikat “layak” dalam Kota Layak Anak ini seolah-olah menjadi kondisional. Hanya berlaku bagi anak yang sanggup membeli es krim di waralaba, tapi menjadi ambigu bagi Zaki yang harus menunggu dini hari untuk makan apa adanya. Hubbard dalam artikelnya juga menyinggung bahwa di kota-kota besar, kelompok marjinal seperti pemulung seringkali dilenyapkan secara halus lewat kebijakan agar tidak mengganggu pemandangan para pelancong. Seperti halnya Tunjungan yang baru menerima keluarga Pak Radit setelah para pengunjung  pulang.

Pak Radit menengok ke arah cahaya terang dari gerai modern di seberang kami. “Gini Mbak…  jam satu malam nanti pegawai-pegawai FamilyMart mulai buang sisa makanan yang enggak habis hari ini. Kalau ada yang ngasih, kayak Mbak tadi, kami terima. Kalau enggak, ya nunggu itu,” katanya tenang. Kalimat itu membuat saya tertegun memandangi logo hijau-biru yang bersinar terang di tengah kegelapan Tunjungan.

Secara literal, FamilyMart menjadi simbol jarak yang paling nyata. Begitu jarum jam menyentuh angka satu pagi, status makanan itu berubah dari barang dagangan menjadi limbah, dan pada titik itulah, akses bagi yang disingkirkan oleh Tunjungan, terbuka.

Tunjungan untuk Semua, Apa Akan Bisa?

Saat perjalanan pulang, aku membayangkan Pak Radit dan keluarga yang akhirnya bisa makan malam bersama. Pak Radit bersepedah menikmati Tunjungan pada subuhnya, karena ia bilang itulah satu-satunya cara untuk membuang rasa suntuknya.

Suasana yang kian sunyi membuat saya teringat satu pecahan lirik lagu legendaris dari Dara Puspita.

“Surabaya Oh Surabaya… S’ribu insan, s’ribu hari, berpadu satu.”

Mendadak lirik itu terasa getir. Memang benar Surabaya adalah titik temu antara kelompok Eropa yang berakulturasi lewat arsitektur bangunan di Tunjungan, budaya Tionghoa yang berdagang di Peneleh dan Kembang Jepun, hingga napas Kampung Arab di Ampel. Kaum yang dulu disebut pribumi pun menyebar di mana-mana. Namun, apakah mereka benar-benar sudah berpadu?

Jika Tunjungan hari ini diposisikan sebagai wajah Surabaya dengan pusat perbelanjaan, hotel, dan kafe yang rapi, maka ada banyak cerita lain yang sengaja ditinggalkan di belakang panggungnya. Narasi metropolitan sering kali diringkas paksa lewat mal dan gaya hidup urban yang seragam. Seperti halnya kita melihat Tunjungan Plaza, Park Shanghai PCM, atau megahnya Pakuwon, semua itu lebih mudah diingat daripada kawasan kumuh dan kampung-kampung yang ada persis di belakang mall-nya.

Pada akhirnya, Surabaya memang tidak pernah menawarkan satu cerita tunggal. Cerita-cerita bergerak melalui lapisan yang bersinggungan dan berdempetan, membentuk ruang pertemuan yang cair pun penuh negosiasi. Kota ini memperlihatkan dirinya sebagai hasil pergulatan terus-menerus antara sejarah yang luhur, ekonomi yang rakus, dan praktik hidup warga seperti Pak Radit yang tetap bertahan di celah-celah kemegahannya.

Penulis: Tarida Gitaputri Butar Butar
Editor: Zidansad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya