Penikmat film thriller seperti film Gone Girl, Jennifer’s Body atau film terbaru yang cukup meledak di jagat sinema layar lebar terbaru yaitu Obsession. Di film Gone Girl ada karakter Amy Dunne juga di Jennifer’s Body yang keduanya memiliki beberapa persamaan, bukan? Nah. ketiga film ini sama-sama menggambarkan Perempuan Perempuan yang terlihat “gila” atau biasa disebut Perempuan psikopat.
Bahkan saking serunya melihat mereka menjalani aksi gilanya, kita cuman terfokus sama aksi mereka, tanpa repot repot membedah kenapa mereka bertingkah atau bereaksi seperti itu. Disini kita bisa melihat bahwa kita penonton film, atau penikmat media hingga para ktritikus film memiliki standar ganda yang berbasis gender. Yang dimaksudkan disini adalah bahwa dari standar ganda tersebut, menghakimi emosi seperti misalnya amarah, represi laki-laki di layar kaca menjadi validasi sebagai bentuk keadilan atau kepahlawanan.
Nah jika disebutkan persoalan amarah dan bentuk perlawanan yang dilakukan oleh Perempuan, maka biasanya disebut sebagai “kegilaan atau histeria”. Representasi Perempuan dalam ketiga film contoh tersebut bukanlah bentuk cacat moral bawaan para karakter melainkan akibat refleksi ekstrem yang disebabkan kekerasan reaktif (reactive abuse) juga manipulasi psikologis (gaslighting) yang tentunya sikap mereka ini juga akibat tidak mendapatkan keadilan di dunia nyata.
Setelah melihat dan mencoba memahami karakter mereka, ada bias representasi serta standar ganda yang terlihat timpang dalam menonton dan menilai film itu sendiri. Saat misalnya kita melihat karakter pria, contoh di film John Wick atau film Taken. Dalam film itu kita bisa mendapati kesamaan kalau tokoh utama membantai banyak orang akibat membalas dendam. Mereka juga bahkan disebut sebagai tokoh yang heroik dan beralasan.
Namun ketika kita kembali ke film Perempuan tadi, dengan mengambil contoh Amy Dunne dari Gone Girl, disaat dia harus membalas manipulasi suaminya dengan manipulasi yang cerdas, ia bahkan disebut psikopat atau juga seorang monster. Bahkan tidak jauh juga dengan film Jennifer’s Body. Disaat ia berubah menjadi monster, ia dicap sebagai Perempuan berbahaya yang menjadi monster.
Sebagai penonton, dampak nyata tontonan ini mengakibatkan langgengnya media menciptakan steorotip bahwa Perempuan yang histeris, gila, marah, hanya untuk membela dirinya adalah hal yang salah dan berlebihan atau juga tidak pantas. Bahkan di dunia nyata pun, Perempuan jadi takut mengekspresikan ketidakadilan yang mereka alami karena takut dicap dengan label yang negatif..
Jika kita mau membahas lebih lanjut dan mau menelusuri karakter di film film ini, kita akan mendapati bahwa kegilaan yang diciptakan oleh Amy maupun Jennifer dalam film tersebut merupakan karena adanya relasi yang timpang. Amy disini dijelaskan jika ia Adalah korban finansial dan kekerasan emosional juga korban perselingkuhan suaminya sendiri.
Sedangkan Jennifer, ia berubah menjadi monster mengerikan akibat ditumbalkan bahkan sebelumnya ia harus mengalami kekerasan seksual ekstrem. Di film obsession, Nikki pun berubah menjadi orang yang mengerikan akibat kutukan sihir. Sebabnya karena cowoknya yang terlalu pengecut sehingga memanfaatkan sihir dan menciptakan konsekuensi yang mengerikan sehingga Nikki yang menanggung akibatnya.
Karakter karakter ini mengalami hal dalam psikologi yang disebut kekerasan reaktif. Para karakter Perempuan ini meledak karena system di sekitar mereka seperti pernikahan, hukum, Masyarakat yang abai melindungi mereka. Kemarahan mereka yang ekstrem sebagai bentuk “pertahanan diri” dan bukanlah kejahatan yang beralasan.
Pada akhirnya, sesuai materi sektor pekerjaan dan media,kritik untuk industry film agar berhenti untuk melakukan objektifikasi gender yang timpang serta simplifikasi terhadap emosi Perempuan. Karakter Perempuan di layar kaca berhak digambarkan secara kompleks, bukan hanya pemuas tontonan atau monster yang menakutkan.
Tidak lupa, kritikan ini bukan hanya berlaku untuk industry film semata, tapi kita juga sebagai penonton, untuk menggunakan kacamata sensitive gender. Dengan dimaksudkan agar tidak menghakimi berbagai reaksi para tokoh Perempuan, alih alih kita memahami aksi atas apa yang terjadi pada mereka sebelumnya. Ini juga harus berlaku di dunia nyata, bukan hanya di layar kaca saja.
Sebagai penutup, untuk membongkar standar ganda di layar kaca, bukan berarti kita membenarkan pembunuhan, emosi yang berlebihan, sikap yang tidak terkontrol atau segala manipulasi yang dialami oleh Amy, Jennifer hingga Nikki. Justru ini menjadi ajakan dan bahan renungan buat kita agar berhenti mengadili amarah Perempuan dan lebih berani untuk mengadili apa ketidakdilan yang tersembunyi. Jika kita membiarkan dan menuntut Perempuan agar diam terhadap ketidakadilan yang terjadi pada mereka baik di layar kaca hingga dunia nyata, maka bisa saja kita menciptakan kegilaan untuk mereka.
Penulis: Amelia Novita Gosal adalah calon mahasiswi pascasarjana Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Bosowa Makassar yang menekuni dunia kepenulisan dari tahun 2020. Saat ini, Amelia aktif dalam berbagai kegiatan Duta, menulis, hingga aktif di beberapa komunitas. Keterlibatannya di Komunitas SustainHER, komunitas yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan dan menciptakan ruang aman untuk para Perempuan, serta ia secara aktif menjadi bagian yang terlibat langsung didalamnya. Tidak hanya di SustainHER, ia juga aktif di komunitas Pendidikan dan literasi seperti di Yayasan GSB. Ia percaya, dalam berbagai tulisan hingga keteribatannya di berbagai peran di komunitas akan memberikan dampak nyata yang posiif. Ingin salam sapa, bisa mampir di instagramnya di @journal_cloud31 serta email [email protected].
Editor: Hamimie
