Cewek mana paham ganti oli? Taunya cuma isi bensin sama jajan seblak.
Lelucon semacam ini rasanya sudah begitu akrab di telinga. Tak hanya perkara itu saja, perempuan seringkali dicap sebagai pengendara yang ceroboh—belok kiri tapi sein ke kanan, parkir sembarangan, dan masih banyak lagi.
Sebagai perempuan, saya mengakui keteledoran ini. Sudah beberapa kali saya salah pasang sein ketika belok—biasanya karena kurang fokus ketika naik motor. Saya pun merasa tak lihai bekendara seperti pembalap. Karenanya saya percaya, mungkin stereotip itu ada benarnya.
Suatu hari saya mengobrol dengan beberapa teman perempuan saya tentang cerita mereka pertama kali belajar berkendara motor.
Dari cerita mereka, saya menemukan pola menarik. Mereka dibelikan motor lalu diajari caranya berkendara, namun setelah itu tidak diajari dasar-dasar perawatan mesin, seperti kapan harus ganti oli dan bagaimana membaca tanda-tanda kerusakan. Bahkan ada juga yang langsung dibelikan motor oleh orang tuanya tanpa diajari sama sekali. Mereka belajar sendiri atau minta diajari teman. Alasannya, ada yang yang karena tidak dekat dengan ayahnya, ada yang karena ayahnya tidak tega melihat anaknya bergelut dengan mesin
Pola yang serupa juga terjadi pada teman-teman perempuan dari Ibu saya. Mereka hanya diajari berkendara motor oleh suami tanpa disertai pengetahuan dasar merawatnya—karena tugas perawatan ini diserahkan ke suami. Bahkan ada yang belajar sendiri karena statusnya sebagai single mother.
Dari situ saya punya hipotesis, jangan-jangan bukan perempuan yang tak pandai berkendara dan merawat motornya melainkan sejak awal tidak diberi kesempatan mempelajarinya?
Pola Asuh yang Berbeda Sejak Awal
Pola yang saya temukan dari cerita lingkungan saya ternyata cukup selaras dengan analisis Lytton dan Romney (1991) terhadap puluhan penelitian pengasuhan. Mereka menemukan bahwa orang tua cenderung memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara berbeda dalam hal tugas dan keterampilan tertentu termasuk dalam hal-hal mekanis.
Dalam studi kasus yang berbeda, Mesman dan Groeneveld (2018) pun mengemukakan bahwa orang tua yang mengaku memperlakukan anak laki-laki dan perempuannya sama saja pun dalam praktiknya tetap membuat keputusan-keputusan kecil berdasarkan jenis kelamin anak. Misalnya, mainan seperti apa yang dibelikan—boneka atau mobil, lalu keterampilan apa yang perlu diajarkan berdasarkan jenis kelamin anak.
Orang tua mungkin tidak sadar sedang melakukannya bahkan ketika mereka merasa pola pengasuhannya sudah setara.
Ketika seorang ayah mengajak anak laki-lakinya membongkar mesin motor sejak kecil, sementara anak perempuannya hanya diajari cara mengendarainya, bisa jadi ia tidak merasa sedang membedakan mereka. Ia merasa mengikuti “insting”—yang sebenarnya merupakan hasil konstruksi sosial yang diwariskan tanpa sadar—untuk mengajarkan hal-hal yang cocok untuk anak laki-laki dan perempuan.
Jadi, Benarkah Kodrat Perempuan Tidak Paham Mesin?
Harusnya begitu perempuan diberi kesempatan belajar yang sama, “ketidakmampuan” itu ikut menghilang.
Yeung dan von Hippel (2008) mengumpulkan beberapa perempuan dengan kemampuan mengemudi yang setara untuk melakukan eksperimen simulator berkendara untuk. Mereka membagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah perempuan yang sebelum simulasi sengaja diingatkan tentang stereotip perempuan pengendara yang buruk. Kelompok kedua adalah perempuan yang tidak diingatkan.
Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan yang diingatkan pada stereotip tersebut lebih dari dua kali lipat kemungkinannya menabrak pejalan kaki dibanding perempuan yang tidak diingatkan sama sekali.
Konteks dari studi ini memang tentang kemampuan berkendara daripada perawatan mesin kendaraan.
Namun coba kita pikirkan sejenak. Jiika hanya dengan diingatkan pada stereotip saja bisa membuat kemampuan seseorang menurun secara signifikan, bagaimana dengan perempuan yang sejak kecil terus-menerus dibesarkan dengan persepsi bahwa mesin dan perbengkelan bukan ranahnya perempuan?
Laki-Laki yang Tidak Paham Motor Kenapa Tidak Ditertawakan?
Saya belum menemukan studi yang mengukur langsung perbedaan perlakuan ini. Tapi dari yang saya lihat dan alami, memang ada laki-laki yang sama sekali abai ganti oli rutin, bahkan berkendara asal-asalan, namun nyaris tidak pernah dijadikan bahan lelucon seperti perempuan.
Sebaliknya, ketika ada satu perempuan yang tak paham pentingnya ganti oli atau tidak bisa berkendara dengan benar kerap kali langsung dilabelkan kepada seluruh kaum perempuan.
Ketidaktahuan laki-laki diperlakukan sebagai kasus perkasus tapi ketidaktahuan perempuan diperlakukan sebagai representasi. Sungguh tidak adil.
Putus Stereotip, Mulai dari Rumah
Saya termasuk beruntung karena ayah saya dulu mengajarkan dasar-dasar merawat kendaraan, meski waktu itu saya menganggapnya membosankan dan kurang relevan dengan minat saya. Baru belakangan saya sadar bahwa hal itu merupakan bekal kemandirian yang seharusnya jadi hak semua anak, baik laki-laki maupun perempuan.
Merawat dan menggunakan kendaraan dengan baik harusnya setara pentingnya dengan bisa memasak. Di kehidupan saat ini yang menuntut mobilitas yang tinggi, baik bagi laki-laki maupun perempuan, mampu mengendarai dan merawat motor sudah selayaknya menjadi keterampilan dasar dalam hidup.
Karena akar permasalahan ini bermula di rumah, solusi yang paling setimpal pun perlu dimulai dari rumah. Kita bisa ajak anak perempuan ikut ke bengkel sejak dini. Beri mereka kesempatan mencoba dan salah, sama seperti yang biasa diberikan pada anak laki-laki. Sama halnya seperti kita mengajak anak laki-laki membantu di dapur agar keterampilan domestik juga tidak lagi dianggap eksklusif milik perempuan.
“Perempuan hanya perlu diberi kesempatan dari rumah untuk belajar, mencoba salah, lalu belajar lagi, sampai mahir.”
Referensi:
Lytton, H., & Romney, D. M. (1991). Parents’ differential socialization of boys and girls: A meta-analysis. Psychological Bulletin, 109(2), 267–296.
Mesman, J., & Groeneveld, M. G. (2018). Gendered parenting in early childhood: Subtle but unmistakable if you know where to look. Child Development Perspectives, 12(1), 22–27.
Yeung, N. C. J., & von Hippel, C. (2008). Stereotype threat increases the likelihood that female drivers in a simulator run over jaywalkers. Accident Analysis & Prevention, 40(2), 667–674.
Penulis: Tiara Wahyu H.
Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest
