Marlena pada Suatu Malam

Malam telah larut. Hawa dingin membalut. Wanita itu mondar-mandir di bawah sinar lampu jalanan. Jaket tipisnya kontras dengan rok mini yang memamerkan dua kakinya nan jenjang. Untunglah stoking sewarna kulit itu sedikit menghangatkan.

Dulu ia masih bisa membeli rokok mint. Sekadar penghangat tenggorokan di temaram malam nan jahanam. Setelah virus Corona melanda, jangankan beli rokok; bayar kos saja susah.

Dari kejauhan, terdengar suara sayup dari radio. Entah milik siapa. Mungkin radio tukang parkir di kafe remang-remang yang kini tutup lebih awal.

Lamat-lamat wanita itu mendengar lagu itu: “Dolly, yang menyala-nyala di puncak kota, yang sembunyi di sudut jalang jiwa  pria Surabaya. Dulu, di temaram jambon gang sempit itu, aku mursal masuk, keluar, dan utuh sebagai lelaki.”*

Ah, Dolly sudah bubar. Wanita itu terkenang pada masa jayanya sebagai balon idola. Para lelaki hidung belang takluk pada pelukannya. Terpesona oleh caranya memanjakan mereka.

“Marlena, ayo kita nikah saja,” kata pria gendut itu. “Aku rela ceraikan istriku yang bawel itu demi kamu,” rayu laki-laki yang pada siang hari hanya bisa tertunduk di hadapan istrinya. Anggota ISTI: Ikatan Suami Takut Istri!

Marlena waktu itu tertawa. “Kau bisa beli dua jam waktuku, tapi tidak cintaku,” katanya serius. Tetapi lelaki itu justru ikut tertawa gembira. “Lena, kamu memang primadona. Tak mampu aku menyaingi laki-laki lain yang lebih ganteng dan berduit.”

Semalam sampai dini hari di Dolly, bisa sampai enam lelaki Marlena temani. Entah ke mana uang hasil keringatnya saat itu kini. Lenyap tak berbekas.

Oh, ternyata habis disikat si mami, gincu, dan serbuk putih yang ia hirup sambil menari-nari ke langit ketujuh. Ralat. Bukan langit. Mungkin lebih tepatnya neraka lantai minus tujuh. Paling laknat.

Tetiba sebuah sedan berhenti. Membuyarkan lamunan Marlena. Si pengendara menurunkan kaca pekat. Sesosok pria berkumis. Pasti rasanya gelay jika kumis itu mendarat di pipi.  “Berapa short time, Mbak?”

Marlena berjalan mendekat. Tiba-tiba sebuah mobil pikap datang. “Hei, kamu. Mana maskermu?” bentak suara dari mobil petugas pamong praja itu.

Si pria berkumis segera tancap gas. Marlena buru-buru membuka tas mungilnya. Meraih masker yang entah terselip di mana.

“Maaf, Pak…tadi habis minum. Lupa pakai lagi,” kata Marlena.

“Ah, banyak alasan. Kalau kedapatan lagi, denda lima ratus ribu!” ancam lelaki berjaket hitam itu.

“Aih, Bapak…tega amat. Semalam belum tentu aku dapat segitu,” sahut Lena.

“Ha..ha..ha..”, seringai petugas itu. “Emang short time berapa, sih?” tanyanya.

“Huh, dasar. Lelaki sama saja kalau nggak di depan istri. Nakal,” seloroh Lena.

“Cuma tanya aja, Mbak. Kalau yang di kafe-kafe itu ada yang berani pasang sejuta, loh,” kata pria muda bertubuh tegap itu.

“Pak, kalau udah tua kayak aku mana berani pasang tarif tinggi. Yang penting bisa bawa uang untuk bayar kos sama kirim uang untuk anakku di kampung,” jawab Lena sambil merapikan rambutnya.

“Oh, punya anak. Kelas berapa?”

“Kelas satu SMP. Cewek.”

“Pasti cakep, ya. Seperti ibunya,” goda si petugas.

“Aih, ambyar juga nih si Bapak. Sempat-sempatnya godain aku sambil patroli,” celoteh Lena.

“Ha…ha…ha… Aku jujur. Untuk ukuran usia Mbak, sepertinya memang Mbak yang paling kelihatan masih bening,” aku Pak PolPP yang sepertinya masih usia 25 tahun itu.

“Hush, jangan keras-keras. Nanti istrimu tahu. He…he…he..,” tukas Lena.

“Kok patroli sendiri, Pak?”, lanjutnya.

“Iya, temanku sakit. Mungkin cuma batuk biasa. Tapi gara-gara si Covid ini kami juga harus waspada. Sakit sedikit langsung disuruh istirahat di rumah. Kamu nggak takut ketularan, Mbak?” selidiknya.

“Duh, Bapak ini gimana, sih. Aku udah alami sakit aneh-aneh. Untung HIV enggak. Mau ada Covid-20 atau 30 pun aku bisa apa, Pak? Kerjaku ya cuma ini,” tutur Lena.

“Oh, dulu di Dolly ya. Terus uang modal usaha itu nggak kamu pakai usaha, Mbak?”

“Huh…udah habis untuk bayar SPP anak sama bayar utang. Lagian di kampung mau usaha apa? Tetanggaku aja pada merantau ke kota. Mau jualan di warung? Sepi!” keluh Lena.

“Iya ya. Tapi aku tahu ada jualan yang tetap laris di tengah pandemi,” komentar pria itu.

“Apa, Pak? Jual diri?”

“Ha…ha…ha…benar, kan tebakanku?”

“Idih, Bapak. Nakal betul. Kan udah kubilang, jual diri pun sepi. Pada takut keluar rumah. Mungkin wabah ini juga peringatan biar kami tobat, ya Pak?”

Si petugas terdiam.

“Loh, kok nggak jawab, Pak? Ngantuk?”

“Emm…bukan karena ngantuk. Aku jadi sedih dengar ceritamu, Mbak. Masih beruntung aku yang makan gaji rutin walau tak besar,” tutur si pria dengan nada bergetar.

Marlena menghela nafas panjang. Angannya melayang ke masa silam.

“Dulu aku sekolah diploma akademi pariwisata, Pak. Ingin kerja di kapal pesiar atau hotel. Separuh jalan, ayahku meninggal. Serangan jantung. Nyusul ibuku yang pergi tiga tahun sebelumnya. Kanker payudara. Aku anak pertama. Adikku masih SMP kelas tiga. Jadi aku putus kuliah demi hidupi aku dan adikku itu,” kenang Lena.

“Terus gimana ceritanya Mbak jadi balon Dolly?”

“Diajak temanku sedesa yang udah setahun di Dolly. Katanya gampang cari uang. Apalagi untuk gadis manis sepertiku. Niatku cuma ngumpulin modal, eh keterusan sampai Dolly dibubarkan. Pokoknya hidupku gak kalah nyesek dibanding sinetron putus cinta, Pak. He..he…he…,” ujar Lena menghibur diri.

“Terus adikmu sekarang di mana, Mbak? Udah kerja?”

“Dia nganggur saja di kampung, Pak. Karena dia cowok, lumayan bisa bantu-bantu nukang dan garap sawah sempit warisan orang tua kami. Cuma tamatan SMA. Sulit kerja,” jawab Lena.

“Wah, seandainya aku pengusaha besar, aku akan rekrut Mbak dan adik Mbak jadi pegawai,” seloroh si petugas.

“Seandainya aku presiden, aku akan angkat Bapak jadi menteri perindustrian. He…he…he.. Kok jadi halu gini ya kita?” komentar Lena.

Tiba-tiba suara dari sentral komando terdengar. “Kijang Dua, Kijang Dua. Posisi di mana?”

Si petugas segera mengangkat gagang telepon. “Halo, di sini Kijang Dua. Posisi di dekat stadion. Ada perintah apa, Ndan?”

“Segera menuju kawasan pelabuhan. Ada kebut-kebutan liar. Dikopi, Kijang Dua?”

“Dikopi. Siap. Delapan enam,” seru si petugas sembari menyalakan mesin mobilnya.

“Kapan-kapan ngobrol lagi, ya Mbak. Jangan kaget kalau nanti aku datang pas hari libur. Pakai motor. Kita jalan-jalan nanti,” pesan si lelaki. Seulas senyum ranum menghias wajahnya.

Baru kali ini Marlena kebingungan menafsir arti senyuman pria. Apakah senyuman pria berseragam itu senyuman nakal atau senyuman tulus penuh simpati?

Di bawah pijar lampu, seekor kupu-kupu malam mengepakkan sayap-sayapnya. Tetiba kupu-kupu itu oleng dan terjatuh tepat di kepala Marlena.

Lena memegang lembut si kupu-kupu. “Duh, kasihan. Capek terbang, ya sayang?”

Dari kejauhan, kembali terdengar sayup suara radio. Kali ini suara merdu penyanyi wanita yang masih muda.

Bun, hidup berjalan seperti bajing…” ** Tetiba radio itu mati. Habis baterai. Tapi Marlena sudah tahu apa bunyian lirik yang belum tuntas itu. Hidup ini keras, memang.

Si kupu-kupu di tangan Marlena kembali mengepakkan sayap-sayapnya nan layu. Biarpun susah-payah, ia terbang lagi menembus malam gigil nan sunyi.

*  Lirik lagu “Si Pelanggan” (Silampukau, 2017)

** Lirik lagu “Bertaut” (Nadin Amizah, 2020).

Bobby Steven. Pemerhati wong cilik dan dunianya yang abu-abu. Paderi dan musafir yang melanglang dari Jogja, Surabaya, sampai pelosok Borneo. Bersama rekan-rekan membersamai Taman Baca Inspirasiana di NTT dan Boyolali. Ia bisa dijumpai melalui Instagram: @bobbystevenmsf.

Editor & Ilustrator: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya