Beberapa kali saya menyaksikan langsung orang-orang yang bersikap sinis kepada pria atau laki-laki yang menangis atau cengeng. Mereka berkata bahwa pria memiliki sikap yang tegas dan tangguh karena mereka ditakdirkan sebagai pemimpin, tidak boleh lemah, tidak boleh bersedih hati, bahkan mungkin tidak diperbolehkan menangis.
“Kenapa kamu menangis? Kamu itu laki-laki dan tidak boleh menangis. Jika kamu menangis, kamu benar-benar lemah seperti perempuan.”
Begitulah kalimat-kalimat yang saya dengarkan, bahkan dari keluarga saya sendiri. Dengan kata lain, kalimat tersebut telah merendahkan kaum perempuan maupun laki-laki. Perempuan dianggap si lemah, laki-laki dianggap lemah jika menangis.
Apakah benar seperti itu adanya? Atau itu akal-akalan manusia saja untuk membedakan karakter anak manusia?
Sebelum membahas lebih lanjut, apa pria atau laki-laki boleh menangis, lebih baik kita melihat berita-berita tragis yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Berapa banyak laki-laki yang berakhir bunuh diri karena stigma seperti itu?
Menurut WHO, secara global, diperkirakan ada lebih dari 700.000 orang yang meninggal dunia akibat bunuh diri setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, angka statistik menunjukkan bahwa pria sering kali menyumbangkan presentase yang signifikan dari total kasus kematian akibat bunuh diri di berbagai negara.
Lantas, semua orang harus tahu bahwa salah satu penyebap kematian tragis itu adalah kesehatan mental. Iya, benar. Salah satu penyakit yang dianggap omong kosong oleh sebagian orang karena tidak meninggalkan bekas luka. Padahal, luka-luka dari orang yang menderita kesehatan mental lebih besar di hati dan pikiran mereka.
Saya ambil salah satu contoh, keponakan laki-laki saya. Saat berbincang di ruang keluarga membahas isu-isu sensitif, apalagi yang berkaitan dengan tanggung jawab seorang pria, ibunya berkata dengan santai, “Kamu harus ingat, laki-laki tidak boleh menangis. Itu menunjukkan bahwa kamu lemah.”
Saya sontak menatap tajam kakak saya, lalu beralih kepada keponakan saya yang diam dengan raut wajah yang bisa saya simpulkan. Dengan sopan saya menyuruh kakak saya untuk tidak berkata seperti itu di kemudian hari. Lalu, untuk keponakan saya, saya beri nasihat yang benar-benar membuat hatinya lega.
“Nak, semua bayi yang lahir di dunia ini diawali dengan menangis, entah apa jenis kelamin mereka. Hanya itu bakat alami yang dimiliki oleh manusia. Entah mengapa, setelah bertumbuh kembang, manusia-manusia sering memberi batasan antara yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.”
Saya menghela napas sebentar, lalu tersenyum ke arah keponakan laki-laki saya yang kebetulan masih duduk di Kelas 2 SMP itu. Saya katakan bahwa jika ingin menangis, menangis saja, tidak ada undang-undang yang mengatur, apa laki-laki menangis atau tidak. Tidak ada yang akan mengerti diri sendiri, kecuali manusia itu sendiri.
Jika orang lain mencemooh, tertawa, bahkan menganggap remeh laki-laki menangis, abaikan saja, jangan beri panggung orang-orang nirempati seperti mereka. Satu hal yang harus ditanamkan dalam hati, manusia-manusia seperti itu tidak tahu cara pikiran kotor menggerogoti tubuh. Manusia seperti itu tidak akan pernah tahu bahwa air mata adalah salah satu obat untuk melegakan hati.
Kata-kata itu sering saya sampaikan kepada teman-teman saya yang memiliki anak laki-laki. Jangan tahan emosi anak karena berjenis kelamin laki-laki. Jika anak jatuh dan menangis, biarkan saja menangis. Jika selesai menangis, obati luka yang diperoleh anak dan nasihati dengan pendekatan tertentu, bukan memaksa, apalagi mendikte.
Jadi, untuk menjawab pertanyaan, apakah laki-laki boleh menangis? Itu sangat boleh dan dianjurkan. Pria atau laki-laki boleh mengungkapkan isi hati mereka agar tidak depresi karena tekanan hidup yang mengharuskan mereka bekerja dan bertanggung jawab. Mereka juga boleh berkeluh kesah kepada orang-orang terdekat mereka.
Tentang Penulis:
Rahayu Yun Putri atau kerap disapa Yui, merupakan alumnus Universitas Andalas. Selain menulis buku fiksi dan menjadi mentor, ia juga bergabung di beberapa komunitas relawan yang berada di Sumatra Barat, seperti Duta Damai Regional Sumatra Barat dan Pelita Padang (Pemuda Lintas Agama). Saat ini, ia aktif menulis ringan untuk mengatasi trauma yang pernah didapatkannya waktu kecil.
Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest
