Kisah Mama Aleta Baun dari Tanah Mollo

Di tengah arus pembangunan yang sering kali diukur dari seberapa banyak sumber daya alam dapat dieksploitasi, kisah Mama Aleta Baun mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu identik dengan pengerukan gunung dan penebangan hutan.

Dari tanah Mollo di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, lahir seorang perempuan adat yang menunjukkan bahwa perlawanan dapat dilakukan tanpa kekerasan, bahkan hanya dengan selembar kain tenun dan keyakinan yang teguh terhadap tanah leluhurnya.

Mama Aleta Baun bukanlah seorang pejabat, pengusaha, ataupun tokoh politik ketika perjuangannya dimulai. Ia adalah perempuan adat Mollo yang tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkannya bahwa alam bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian dari identitas manusia. Bagi masyarakat Mollo, tanah adalah daging, air adalah darah, batu adalah tulang, dan hutan adalah rambut.

Filosofi tersebut membuat hubungan antara manusia dan alam tidak dapat dipisahkan. Ketika gunung-gunung batu marmer mulai ditambang dan hutan-hutan dibuka, masyarakat Mollo merasa bukan hanya lingkungan yang dirusak, tetapi juga tubuh dan identitas mereka sendiri.

Oleh karena itu, Mama aleta menunjukkan keberanian seorang perempuan untuk menjadi pemimpin yang melakukan perlawanan untuk mempertahankan kehidupannya beserta kehidupan seluruh masyarakat Mollo itu sendiri. Bersama perempuan-perempuan Mollo lainnya, ia mengorganisasi masyarakat dari desa ke desa untuk menyadarkan mereka tentang ancaman yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan terhadap sumber air, lahan pertanian, dan keberlangsungan budaya mereka.

Hal yang paling menarik dari perjuangan Mama Aleta adalah strategi perlawanannya. Ketika banyak gerakan sosial identik dengan demonstrasi besar atau konfrontasi langsung, perempuan-perempuan Mollo memilih duduk di sekitar are pertambangan batu-batu marmer di lokasi tambang sambil menenun kain tradisional. Sekitar 150 perempuan melakukan aksi damai tersebut selama berbulan-bulan. Mereka tidak membawa senjata, tidak merusak fasilitas, dan tidak meneriakkan ancaman.

Mereka hanya menenun. Namun justru melalui tenun itulah pesan perlawanan disampaikan dengan sangat kuat.Menurut saya, aksi menenun inilah yang merupakan symbol emansipasi yang luar biasa. Selama berabad-abad, menenun sering dianggap sebagai pekerjaan domestik perempuan yang tidak memiliki nilai politik. Mama Aleta membalik pandangan itu. Ia mengubah aktivitas yang dianggap biasa menjadi instrumen perjuangan yang mampu mengguncang kekuatan ekonomi dan politik yang lebih besar. Tenun tidak lagi hanya menghasilkan kain, tetapi juga menghasilkan kesadaran, solidaritas, dan keberanian. Apa yang selama ini dilekatkan sebagai simbol kelembutan perempuan justru berubah menjadi alat perlawanan yang efektif.

Lebih jauh lagi, perjuangan Mama Aleta juga menunjukkan bahwa perempuan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keberlanjutan lingkungan. Dalam kehidupan masyarakat Mollo, perempuan memanfaatkan hutan untuk memperoleh bahan pewarna alami tenun, tanaman obat, dan berbagai kebutuhan sehari-hari.

Oleh karena itu, ketika alam dirusak, perempuan menjadi kelompok yang merasakan dampaknya secara langsung. Tidak mengherankan apabila perempuan berada di garis depan perjuangan mempertahankan tanah Mollo. Bahkan dalam aksi protes tersebut terjadi pembalikan peran yang menarik: para perempuan berada di lokasi tambang, sementara laki-laki mengambil sebagian tugas domestik di rumah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perjuangan lingkungan sekaligus membuka ruang bagi perubahan relasi gender yang lebih setara.Tekanan yang terus-menerus dilakukan masyarakat Mollo akhirnya membuat perusahaan-perusahaan tambang menghentikan operasinya dan meninggalkan wilayah tersebut.

Kemenangan ini kemudian mengantarkan Mama Aleta Baun menerima penghargaan bergengsi Goldman Environmental Prize pada tahun 2013 sebagai pengakuan atas perjuangannya melindungi lingkungan dan hak-hak masyarakat adat.

Pada akhirnya, kisah Mama Aleta Baun bukan sekadar cerita tentang penyelamatan lingkungan di Tanah Mollo. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang perempuan yang menolak diam ketika tanah leluhurnya terancam.

Ini adalah kisah tentang bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan politik. Dan yang terpenting, ini adalah kisah tentang emansipasi perempuan yang lahir dari tindakan nyata, bukan sekadar slogan. Ketika banyak orang menganggap tenun hanyalah selembar kain, Mama Aleta membuktikan bahwa dari benang-benang itulah sebuah gerakan perlawanan dapat ditenun, dan dari tangan seorang perempuan, masa depan sebuah komunitas dapat diselamatkan.

Penulis: Naufal Rabbani, adalah seorang mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya yang memiliki minat besar didalam pendidikan dan pengembangan karya ilmiah seperti esai historis, karya tulis ilmiah, serta jurnal ilmiah.

Editor & Ilustrasi: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya