Saya masih ingat betul bagaimana ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat aman bagi saya untuk bertumbuh, justru menjadi tempat pertama saya belajar bahwa menjadi perempuan yang vokal ada harganya. Waktu itu, orang-orang berusaha meyakinkan saya jika itu hanyalah sebuah “konflik pertemanan biasa”—label yang nyaman, yang membuat semua orang bisa terus berjalan tanpa perlu mempertanyakan apa pun. Tapi sejak awal, saya menolak untuk mempercayai hal tersebut.
Setelah merenungkannya, saya semakin yakin bahwa itu bukan sekadar konflik pertemanan. Itu adalah misogini yang bekerja diam-diam, dan ruang kelas adalah inkubator pertamanya—tempat kebencian sistemik terhadap perempuan tumbuh subur, sementara orang dewasa di sekitarnya memilih untuk menutup mata.
Saya percaya pengalaman ini bukan milik saya sendirian. Ketika seorang siswi menunjukkan kapasitasnya untuk tampil dominan, vokal, dan memimpin, yang biasa kami dapatkan bukanlah apresiasi dari lingkungan sekitar, melainkan mlaah sebuah resistensi: intimidasi psikologis, eksploitasi relasi kuasa, hingga kekerasan verbal seksual. Saya menyaksikan sendiri bagaimana hambatan yang saya hadapi bukan lagi tentang kompetisi intelektual yang sehat, tapi juga upaya sistematis untuk meruntuhkan martabat kemanusiaan saya—yang dimana semua itu dilakukan murni karena saya adalah seorang perempuan.
Saya juga melihat pola yang menurut saya jarang diakui secara terbuka, konflik di dalam kelompok kelas sering kali dipicu oleh ketidaknyamanan sosiologis ketika struktur patriarki tradisional terganggu. Ketika seorang siswi punya kompetensi yang menonjol, sebagian lingkungan sebaya yang merasa terancam—atau, saya menduga, sekadar merasa insecure—memilih menggunakan relasi kuasa untuk menundukkan posisi perempuan tersebut. Atau paling tidak, melakukan sesuatu untuk memuaskan diri mereka bahwa pada akhirnya tetap mereka yang lebih baik dibandingkan perempuan tersebut.
Saya sendiri pernah mengalami bentuk paling nyata dari ketimpangan ini dalam bentuk sebuah eksploitasi kerja dalam kepengurusan atau tugas kelompok. Posisi formal kepemimpinan dipegang oleh pihak lain, tapi beban kerja secara taktis dan intelektual dilemparkan sepenuhnya kepada saya, untuk kemudian hasilnya diklaim sepihak. Bagi saya, ini adalah pola pembagian kerja berbasis gender yang diadopsi secara keliru oleh remaja—perempuan ditempatkan pada ruang ini juga masih dibatasi hanya pada peran “domestik” saja, kami tetap ada di tempat dimana kami bekerja keras di balik layar secara sunyi, sementara haknya atas suara dan otoritas dirampas. Dan ketika saya menolak untuk terus dieksploitasi dan memilih untuk mengambil alih kendali kepemimpinan, saya justru dianggap membangkang atau egois dan ini adalah sesuatu yang harus dihukum.
Puncak dari upaya penundukan itu, menurut pengalaman saya, sering kali sangat brutal. mereka menggunakan makian verbal yang menyerang seksualitas dan organ reproduksi perempuan. Dalam ingatan saya, serangan itu bermanifestasi nyata dalam bentuk pelebelan seksual yang merendahkan (sexual shaming) melalui sebutan-sebutan peyoratif, hingga objektifikasi vulgar yang menyasar anatomi tubuh serta organ reproduksi perempuan secara spesifik.
Saya melihat ini sebagai bentuk policing—cara masyarakat (dalam hal ini lingkungan sebaya) menghukum perempuan yang dianggap melanggar norma peran tradisionalnya. Ketika seorang laki-laki dikritik, serangan biasanya tertuju pada tindakan atau logikanya. Namun ketika saya, sebagai perempuan yang memimpin, dikritik, serangan yang saya terima justru berusaha mereduksi eksistensi saya sebatas komoditas seksual dan inferioritas biologis.
Saya yakin ini bukan kebetulan. Penghinaan verbal seksual ini bagi mereka berfungsi sebagai sebuah alat kontrol sosial yang mereka ekspektasikan bisa mereka gunakan untuk mematikan karakter korban, membuatnya merasa malu dan kotor, hingga akhirnya memilih mundur serta bungkam. Saya membaca ini sebagai upaya menegaskan kembali bahwa tempat perempuan berada di bawah, dan tidak berhak memegang otoritas.
Namun yang paling menyakitkan bagi saya bukanlah agresi dari pelaku utama, melainkan keheningan kolektif dari orang-orang di sekitar saya kala itu. Saya masih bertanya-tanya sampai sekarang, mengapa begitu banyak orang memilih diam? Fenomena ini pertama kali dijelaskan lewat teori Bystander Effect oleh Latané dan Darley (1968) semakin banyak orang yang menyaksikan suatu ketidakadilan, semakin kecil tanggung jawab yang dirasakan tiap individu untuk bertindak.
Saya menemukan penjelasan yang lebih menenangkan sekaligus menohok dalam sebuah studi terbaru di MDPI (2025). Keengganan remaja bertindak sebagai bystander ternyata bukan semata ketidakpedulian, melainkan didorong oleh dua hambatan psikologis konkret—ketakutan akan risiko pribadi, dan ketidakpastian soal efektivitas intervensi mereka sendiri. Ini membuat saya sedikit lebih memaafkan teman-teman yang memilih diam saat itu. Tapi sintesis riset dalam Frontiers in Education (2025) juga memberi saya harapan bahwa intervensi bystander bersifat transformatif dan mampu menantang budaya diam ketika diterapkan secara konsisten di sekolah—artinya, keheningan yang terjadi pada saat itu bukanlah takdir yang tidak bisa diubah.
Saya juga menduga adanya faktor lain yang membuat murid perempuan lain memilih bungkam, yaitu Internalized Misogyny. Institusi sosial sering kali secara tidak sadar mendidik perempuan untuk memandang perempuan lain sebagai kompetitor dalam sistem patriarki (Bearman, Korobov, & Thorne, 2009). Saya melihat sendiri bagaimana siswi lain memilih menjauh dari saya karena takut terasosiasi, atau bahkan—secara keliru menganggap bahwa saya yang “terlalu menonjol” memang layak mendapatkan konsekuensi sosial itu. Bagi saya, keheningan massal semacam ini mengirimkan sinyal berbahaya kepada pelaku bahwa tindakan mereka valid dan direstui lingkungan.
Saya sadar bibit misogini ini bukan cuma pengalaman personal saya—ini membuktikan adanya lubang besar dalam penanaman nilai kesetaraan di sistem pendidikan kita. UNGEI (2024) mencatat bahwa lebih dari 115 juta anak dan remaja di dunia mengalami kekerasan berbasis gender di lingkungan sekolah setiap tahunnya, dengan anak perempuan secara konsisten menjadi kelompok yang paling terdampak. Bagi saya, ini menegaskan satu hal, apa yang terjadi di ruang kelas saya bukanlah sebuah insiden yang terisolasi, melainkan sudah menjadi gejala dari krisis sistemik yang jauh lebih besar.
Saya percaya remaja yang merasa berhak memaki organ seksual temannya, dan lingkungan yang menganggap itu hal biasa, adalah produk dari paparan Toxic Masculinity yang tidak pernah didekonstruksi oleh sekolah. Tapi saya juga optimis karena dari tinjauan sistematis di BMC Public Health (2025) atas 12 program intervensi menunjukkan bahwa program berbasis sekolah dan komunitas yang menyasar remaja laki-laki secara khusus terbukti signifikan menurunkan perilaku maupun pengalaman kekerasan berbasis gender pascaintervensi. Artinya, sekolah sebenarnya punya pilihan untuk tidak lagi gagap dan menutup mata terhadap kekerasan gender dengan dalih “konflik pertemanan biasa”—dan saya percaya pilihan itu memungkinkan.
Bagi saya, bibit misogini di lingkungan sekolah adalah bom waktu yang jika dibiarkan akan melahirkan generasi yang menormalisasi kekerasan terhadap perempuan. Saya membayarnya dengan mahal—diintimidasi dan dilecehkan hanya karena ingin menjadi kompeten dan berdaulat di ruang kelas saya sendiri. Tapi saya menolak menjadikan pengalaman ini cerita kekalahan. Keberhasilan saya untuk terus bertumbuh, menolak patah oleh pembunuhan karakter, dan hari ini berani menyuarakannya ke ruang publik, adalah kemenangan yang saya anggap mutlak. Saya berharap ruang kelas segera disembuhkan dari budaya permisif atas misogini, agar tidak ada lagi siswi di masa depan yang hak kepemimpinannya dirampas dan martabat kemanusiaannya dinilai sebatas umpatan seksual yang usang.
Daftar Pustaka
Bearman, S., Korobov, N., & Thorne, A. (2009). The fabric of internalized sexism. Journal of Integrated Social Sciences, 1(1), 10–47. https://jiss.org/documents/volume_1/issue_1/JISS_2009_1-1_10-47_Fabric_of_Internalized_Sexism.pdf
Development and validation of the Adolescent Bystander Intervention Barrier Perception Scale in school bullying. (2025). MDPI. https://www.mdpi.com/2076-328X/16/1/55
Interventions for adolescent school boys and young men to reduce gender-based violence in low- and middle-income countries: A systematic review. (2025). BMC Public Health. https://link.springer.com/article/10.1186/s12889-025-25184-9
Latané, B., & Darley, J. M. (1968). Group inhibition of bystander intervention in emergencies. Journal of Personality and Social Psychology, 10(3), 215–221. (Ringkasan gratis: https://www.simplypsychology.org/bystander-effect.html)
A research synthesis of effective programs to address gender-based violence in the school context. (2025). Frontiers in Education. https://www.frontiersin.org/journals/education/articles/10.3389/feduc.2025.1593176/full
UNGEI. (2024). School-related gender-based violence. United Nations Girls’ Education Initiative. https://www.ungei.org/what-we-do/overview/school-related-gender-based-violence
Bionarasi
Saya Habibah Fakhria Mufidah, seorang mahasiswa Akuntansi Universitas Airlangga yang telah lama terusik oleh isu kesetaraan gender dan aktif menuangkannya lewat tulisan. Sempat menyimpan keresahannya secara sunyi, tetapi akhir-akhir ini saya mulai berani menyuarakan isu tersebut ke ruang publik melalui karya kreatif dan pementasan.
Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest
