Kampung Prapat Kurung Tegal tidak pernah benar-benar sunyi. Sejak pagi, kendaraan besar menuju kawasan pelabuhan melintas tanpa jeda dan benar-benar berhenti, meninggalkan suara berat, serta debu yang beterbangan di udara. Debu itu menempel di atap rumah, di jemuran, bahkan masuk ke paru-paru kami. Malam hari pun tak pernah sepenuhnya tenang, karena aktivitas industri terus bergerak tanpa mengenal waktu.
Aku lahir dan tumbuh di sini, sebuah kampung yang kini terhimpit dari berbagai arah. Di sekeliling kami berdiri kawasan penyimpanan energi, terminal peti kemas, rel kereta api, serta gedung-gedung perkantoran yang selalu terang. Dari kejauhan, tempat-tempat itu tampak modern dan tertata rapi. Dari dalam gang sempit kami, yang terasa hanya bising, debu, serta getaran.
Namaku Lana, dua puluh dua tahun, aku seorang pemuda yang belum benar benar pergi ke mana-mana. Setiap pagi aku menyapu halaman kecil di depan rumah, meski tahu debu akan kembali beberapa jam kemudian. Menyapu bukan lagi soal membersihkan, melainkan kebiasaan agar aku merasa masih memiliki kendali. Di kampung ini, kendali adalah sesuatu yang cukup langka.
Kereta api melintas beberapa kali sehari dengan suara panjang yang membisingkan telinga. Getarannya terasa sampai ke lantai rumah, tanpa peduli apakah itu pagi, siang, sore, atau malam. Gelas dan piring di rak beradu pelan, seolah ikut mengeluh. Anak-anak berhenti bermain sejenak setiap kali kereta lewat, lalu kembali berlarian seperti tak terjadi apa-apa.
Jalan raya di sekitar kampung terus ditinggikan demi kelancaran kendaraan industri. Aspal naik sedikit demi sedikit setiap tahun, sementara rumah kami tetap berada di ketinggian yang sama. Akibatnya, kampung ini terasa makin tenggelam dari waktu ke waktu. Saat hujan deras, air datang dan menetap lebih lama dari yang kami harapkan.
Banjir pun kini menjadi peristiwa yang nyaris biasa. Gang-gang sempit berubah menjadi aliran air keruh yang membawa lumpur dan sampah. Perabot dipindahkan seadanya, anak-anak dipangku agar tidak bermain air. Kami belajar menerima genangan sebagai bagian dari musim hujan yang tak bisa ditawar.
Ayah bekerja sebagai buruh angkut di kawasan pelabuhan. Pendengarannya perlahan berkurang akibat bertahun tahun terpapar kebisingan mesin dan kendaraan berat. Tubuhnya cepat lelah, namun setiap pagi ia tetap berangkat sebelum matahari terbit. Upah harian itulah yang menjaga dapur kami tetap mengepul.
Ekonomi kampung berjalan di tempat. Warung-warung kecil kehilangan pembeli karena pekerja lebih memilih makan di dalam kawasan industri yang berpagar. Anak-anak muda seusiaku banyak melamar kerja ke gedung-gedung tinggi dan perushaan di sekitar kampung. Sebagian diterima sebagai tenaga kontrak, sebagian besar pulang tanpa kabar.
Aku pernah berdiri lama di depan pagar sebuah kawasan logistik. Map lamaran kugenggam sambil menunggu dipanggil oleh petugas keamanan. Tidak ada wawancara, hanya permintaan meninggalkan berkas. Sejak hari itu aku paham, tinggal dekat tidak selalu berarti memiliki kesempatan sedikit pun.
Kampung kami juga terasa terpojok dalam urusan yang lebih mendasar yaitu pendidikan. Untuk mencapai sekolah negeri yang dianggap baik, jaraknya terlalu jauh dari kampung kami. Dalam sistem zonasi kota Surabaya, jarak menjadi penentu utama, dan di situlah kami selalu kalah.
Anak-anak kampung yang ingin bersekolah di sekolah negeri harus menerima kenyataan bahwa mereka berada di luar jangkauan. Banyak orang tua mengeluh pelan, bukan karena tidak ingin menyekolahkan anaknya, tetapi karena pilihan mereka semakin sempit. Sekolah swasta membutuhkan biaya yang tidak semua keluarga mampu. Anak-anak yang seharusnya punya kesempatan yang sama, justru tersingkir oleh peta dan jarak. Bagi kami, sistem itu terasa adil di atas kertas, tapi sangat merugikan dalam kenyataan.
Malam hari, kampung kami diterangi dua jenis cahaya. Lampu rumah warga yang redup dan lampu kawasan industri yang kuning menyilaukan. Cahaya dari luar kampung selalu lebih dominan, menutupi gelap kami sendiri. Dalam terang itu, kampung kami justru terasa makin tak terlihat.
Suatu sore, beberapa relawan membuka lapak baca kecil di balai RW. Anak-anak duduk di tikar, membuka buku di tengah suara truk dan kereta yang masih terdengar dari kejauhan. Aku ikut membantu mengatur rak dan membacakan cerita. Di sana, kampung terasa sedikit lebih lapang.
Sejak hari itu aku rutin menemani anak-anak membaca dan menulis cerita pendek. Mereka menulis tentang banjir, debu, dan suara kereta, tapi juga tentang mimpi-mimpi kecil mereka. Tidak ada yang muluk, hanya ingin hidup lebih tenang dan tidak selalu terganggu. Dari mereka, aku belajar berharap dengan ukuran sederhana.
Sering kali aku bertanya pada diri sendiri, apakah kami benar-benar hidup di kota yang sama dengan gedung gedung tinggi di sekitar kampung. Mereka berbicara tentang kemajuan, efisiensi, dan pertumbuhan, sementara kami berbicara tentang tidur yang terganggu dan air yang naik pelan-pelan. Perbedaan itu terasa cukup nyata, meski jaraknya hanya beberapa langkah kaki saja.
Sebagai pemuda kampung, aku tumbuh dengan perasaan serba tanggung. Terlalu dekat dengan hiruk-pikuk industri untuk hidup tenang, tapi terlalu jauh dari pusat keputusan untuk ikut menentukan arah. Kami sering disebut sebagai bagian dari kota, tetapi jarang diajak bicara tentang perubahan yang terjadi. Di titik itu, aku sadar bahwa diam bukan pilihan yang sepenuhnya aman untuk kehidupan kedepan.
Aku tidak bermimpi besar tentang memindahkan kampung atau menghentikan semua kebisingan ini. Harapanku cukup sederhana, kampung ini diakui sebagai ruang hidup, bukan sekadar sisa lahan di antara proyek-proyek besar. Jika suatu hari suara kami didengar, mungkin perubahan kecil bisa terjadi. Dan bagiku, harapan kecil seperti itu sudah cukup untuk membuatku tetap tinggal dan bertahan.
Penulis: Maulana Habib P.A, lahir dan tumbuh di kampung kota tepatnya di tengah kawasan industri dan pelabuhan di Surabaya. Pengalaman hidup berdampingan dengan debu, kebisingan, dan keterbatasan ruang membuat saya menulis untuk menyuarakan kehidupan sehari-hari warga kampung yang kerap terabaikan. Melalui tulisan, saya mencoba merekam cerita sederhana tentang bertahan, berharap, dan mencari ruang hidup yang lebih layak.
Editor: Azkal Azkia Nurrohmat
Foto: Unsplash.com/Traworld Official
