Suara motor bebek yang berhenti di depan rumah Mbak Rum setiap rabu pagi adalah rutinitas baru yang aku akrabi hampir tiga bulan ini. Menjelang pukul sepuluh, rumah Mbak Rum sudah ramai. Mungkin ada tujuh atau delapan orang berkumpul di sana. Ada Bu Sum yang tinggal di ujung gang dan Mbak Yati yang mengontrak di rumah Bu RT. Sisanya warga gang sebelah. Aku tahu wajah mereka, tapi tidak begitu mengenalnya.
“Itu, di rumah sebelah, ada acara apa ya, Bu?” Tanyaku pada Ibu awal aku tinggal di sini.
“Arisan.” Jawab Ibu singkat.
Setelah sebulan, aku baru tahu ternyata itu namanya mekar. Aku ingat, waktu itu aku beli telur di Mbak Tri, pemilik toko melijo di depan gang. Kebetulan saat aku di sana, baru saja pemilik motor bebek itu lewat. Mbak Tri memajukan kepalanya, lalu berbisik. Sangat pelan seolah yang dikatakan adalah top secret. Aku memasang telinga baik-baik. Tidak mau ketinggalan info rahasia tersebut. Di situlah aku akhirnya tahu. Mbak Rum dan kawan-kawan sedang bermufakat untuk suatu kepentingan yang penting dan mendesak, yaitu hutang. Dan pemilik motor bebek itu tentu saja petugas yang membantu urusan mereka.
Itu beberapa bulan yang lalu. Sekarang tidak perlu bisik-bisik untuk membicarakan mereka. Kami warga gang buntu sama-sama tahu sesiapa yang terlibat dengan mekar. Ya, siapa lagi kalau bukan orang-orang yang rajin datang ke rumah Mbak Rum setiap Rabu pagi.
Pagi ini seperti biasa, aku membantu Ibu menyiapkan jualannya. Panci blirik besar berisi kuah lodeh sudah tertata di atas meja. Di sebelahnya, ada panci berukuran sama berisi kuah untuk lontong mi. Lontong sudah kususun di piring oval. Aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil mageli, tahu goreng dan mi kuning. Setelah meletakkannya, aku masuk kembali ke rumah untuk mengambil bawang goreng dalam toples kecil.
Saat aku mengelap meja, kulihat Bu RT berjalan ke arahku. Alhamdulillah, dapat pennglaris. Batinku. Bu RT meletakkan piring ke atas meja, lalu duduk di kursi plastik di depannya.
“Sudah buka tho, Mbak?”
“Sampun, Bu. Sebentar, saya panggilkan Ibu.”
Baru saja aku akan beranjak, Ibu sudah datang. Di tangannya sudah ada sepanci kecil petis yang sudah dimasak. Aku memindahkan petis encer ke mangkuk, lalu membawa pancinya ke belakang.
“Mantu sampeyan ini rajin lho, Bulik.” Masih bisa kudengar suara bu RT saat aku memasuki rumah. Aku tersenyum mendengarnya. Ibu mengucap alhamdulllah, lalu mereka berdua terlibat percakapan seru yang diselingi tawa.
Baru saja aku akan menyalakan sanyo untuk cuci piring dan perkakas dapur lainnya, terdengar suara ribut-ribut di depan. Bergegas kutinggalkan dapur. Ternyata Mbak Rum sedang menangis. Ibu menenangkannya. Sedangkan Bu RT memegangi Mas No, suami Mbak Rum. Tak lama kemudian, tetanngga kanan kiri mulai berdatangan. Bapak-bapak membawa Mas No menjauh. Ibu-Ibu mengerubuti Mbak Rum. Suara Mas No masih terdengar marah. Mbak Rum juga masih terisak.
Ibu memanggil dan memintaku untuk mengambilkan minum. Ibu membawa Mbak Rum masuk rumah dan duduk di kursi. Isaknya masih terdengar. Ibu memberi isyarat agar aku duduk di dekat Mbak Rum. Setelah aku duduk, Ibu menepuk punggung Mbak Rum lalu berdiri. Kemudian Ibu menuju teras untuk melanjutkan jualannya dan aku terjebak di samping Mbak Rum. Mbak Rum masih misek-misek. Terus terang, ini pengalaman pertamaku menemani seseorang yang habis bertengkar dengan suaminya dan aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Dek Ris, aku nunut ke kamar mandi, ya.” Ujar Mbak Rum tiba-tiba setelah beberapa saat terdiam.
Aku lega. Setidaknya aku tidak perlu bingung menyusun kata untuk menghibur Mbak Rum. Aku membereskan gelas minum Mbak Rum lalu membawanya ke belakang. Kulihat pintu kamar mandi masih tertutup. Aku menyalakan sanyo, membuka kran, lalu mulai mencuci perkakas dapur. Sesekali aku melirik ke kamar mandi sambil membilas pikiranku mengenai pertengkaran tadi.
Mbak Rum adalah perempuan yang kukagumi. Dia pandai berdagang. Beberapa kali aku membeli daster dan baby doll darinya. Disamping itu, dia juga tetangga yang grapyak. Kalau diingat-ingat, sepertinya Mbak Rum adalah tetangga pertama yang ku kenal setelah aku menjadi menantu Ibu dan tinggal di sini. Entah masalah apa yang menyebabkan Nas No yang biasanya kalem, terlihat sangat marah. Aku sangat ingin tahu. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku berniat ke depan menemui Ibu.
Aku hampir selesai. Tinggal membersihkan kompor dan menyapu dapur. Kurasakan pinggangku dicolek. Refleks aku menoleh. Ternyata suamiku. Aku melotot. Sementara dia cengar-cengir sambil mengeringkan rambut.
“Lho, yang di kamar mandi tadi sampeyan?”
“Maksute?”
“Mas baru keluar dari kamar mandi? Mbak Rum mana?”
“Mbak Rum?”
Paniklah aku. Dengan suara patah-patah kuceritakan kejadian tadi. Pertengkaran Mbak Rum dan Mas No, juga Mbak Rum yang pamit ke kamar mandi. Belum selesai aku bercerita, suamiku beranjak ke bagian belakang rumah. Aku mengekorinya. Jantungku serasa berdetak habis lari maraton. Dan benar saja, pintu belakang terbuka.
Pintu belakang rumah ini memang terhubung ke gang lain. Biasanya pintu ini dipakai untuk keperluan darurat. Saat kami harus keluar rumah sementara tidak bisa lewat karena sedang ada acara di gang, kami akan lewat pintu belakang yang masuk gang lima dan langsung keluar ke jalan raya. Beberapa tetangga kami juga ada yang ikut nunut lewat, termasuk Mbak Rum. Dan hari ini, Mbak Rum benar-benar mendapatkan pintu daruratnya.
Hari itu Mbak Rum resmi menghilang. Kampung heboh. Hampir semua orang membicarakannya. Termasuk kami. Aku, suamiku, dan Ibu. Malam hari saat makan, kami rasan-rasan. Ternyata selama ini Mbak Rum banyak berhutang. Bukan hanya di mekar yang dikoordinatorinya, juga di bank-bank plecit lain. Dan tadi pagi saat pertengkaran terjadi, Mas No baru mengetahuinya. Laki-laki itu murka karena terkejut mendengar pengakuan istrinya yang berhutang kemana-mana.
Aku tidak banyak berkata. Ibu berulang kali menyayangkan Mbak Rum yang terjerat hutang. Banyak hal berkecamuk di pikiranku. Aku tidak tahu yang mereka alami. Aku tidak berada di situasi hidup mereka. Mungkin hanya itu yang bisa Mbak Rum lakukan, entahlah, aku merasa sangat kasihan dengannya.
Rabu pagi, pukul sepuluh. Suara motor honda itu berhenti di depan rumah Mbak Rum. Tapi rumah Mbak Rum sepi. Tidak ada suara ibu-ibu. Suara motor itu bagai alarm untuk menutup pintu bagi keluarga Mbak Rum yang tinggal di dalam rumah. Diam-diam.
Penulis: Luluk Ubaidah
Editor: Zidansad
Gambar: Pinterest
“
