Matahari di Surabaya itu tidak pernah sungkan. Bukanlah pemalu seperti mentari pegunungan yang kadang bersembunyi di balik kabut. Di sini, di kota ini, matahari seolah punya dendam pribadi pada aspal dan genteng rumah. Menyengat, membakar, dan memaksa keringat menjadi seragam wajib bagi siapa saja yang mengaku Arek Suroboyo.
Tapi bagiku, panas itu adalah pelukan.
Aku tumbuh di sebuah kampung yang nyempil di balik gedung-gedung tinggi yang mulai memadati pusat kota. Orang luar mungkin menyebutnya daerah kumuh yang dipadati penduduk. Tapi bagi kami, ini adalah labirin kehidupan. Gang senggol adalah yang paling terkenal disini. Sebuah gang yang ketika dua motor berpapasan, spionnya pasti bersenggolan. Di setiap meternya sudah kupenuhi dengan langkah-langkah yang menghantarkanku sampai sejauh ini.
Rumahku tidak luas. Dindingnya berhimpitan dengan tembok tetangga. Begitu rapatnya, sampai-sampai telingaku selalu bisa dibuat peka oleh dengkuran Pak Mat –tetangga rumah sebelah kiri– saat malam mulai berdialog dengan sunyi. Begitupun di kanan rumah, aroma sambal goreng teri buatan Bu Yati tidak pernah gagal memadati hidungku setelah menyusup melalui celah ventilasi saat pagi buta. Privasi adalah konsep mewah yang tidak kami kenal, dan anehnya, kami tidak pernah benar-benar menginginkannya.
Masa kecilku beraroma petis dan oli bekas. Ayahku seorang buruh di sebuah bengkel bubut tak jauh dari Jembatan Merah. Tangannya kasar, kapalan, dan selalu berbau logam bercampur solar. Tapi tangan kasar itulah yang selalu mengusap lembut kepalaku saat beliau pulang kerja, membawa bungkusan nasi bebek atau sekadar martabak telur yang dibelinya di pinggir jalan.
“Sinau sing pinter, Le. Ojo koyok Bapak,” (Belajar yang pintar, Nak. Jangan seperti Bapak), ucapnya selalu. Kalimat standar bapak-bapak di kampung kami. Kepala keluarga tangguh yang punggungnya legam terbakar matahari pelabuhan atau pabrik, yang menaruh harapan dan doa kepada kami, anak-anaknya.
Sebelum fajar menyingsing, kehidupan sudah bermula di kampung kami. Suara “klontang-klonteng” penjual air bersih yang mendorong gerobak jeriken adalah alarm alami. Lalu disusul teriakan, “Tahuuu… Tahuuu…” dari pedagang keliling. Rutinitasku sebagai anak laki-laki di sana sederhana, namun penuh warna. Sore hari adalah waktu sakral. Bukan sembarangan menikmati tenggelamnya matahari, tapi ikut menenggelamkannya secara perlahan dengan bola sepak kami.
Lapangan kami bukanlah rumput hijau standar FIFA yang mulus dan terampil mengalirkan bola, melainkan paving block keras di ujung gang yang permukaannya tidak rata. Gawangnya adalah dua pasang sandal jepit berjarak dua meter. Tidak ada offside, tidak perlu wasit, tertunda sejenak jika ada motor yang mau lewat, dan akan benar-benar selesai kala adzan Maghrib berkumandang. Aku ingat betul rasanya jatuh di atas paving itu. Lutut berdarah adalah medali kehormatan. Jika aku pulang dengan kaki lecet, Ibu akan memarahiku sambil mengoleskan obat merah.
“Koen iki lho, dolan terus! Deloken iku sikilmu, bundas kabeh!” (Kamu ini lho, main terus! Lihat itu kakimu, babak belur semua!). Mulutnya menangkap semua kata yang berada di kepalanya. Begitu lembut tangannya saat bercengkerama dengan lukaku. Tapi ia tidak akan berhenti mengomel dengan kecepatan tinggi khas emak-emak Surabaya sebelum kehabisan kata-kata.
Tapi semenit kemudian, beliau akan bertanya, “Wes mangan durung? Iku onok lodeh nang meja.” (Sudah makan belum? Itu ada sayur lodeh di meja).
Itulah cinta versi Surabaya yang keras di luar, lembut di dalam. Kami tidak terbiasa dengan kata-kata manis yang mendayu-dayu. Bahkan umpatan legendaris “Jancuk” pun bisa memiliki makna yang mendalam bagi kami. Jika diucapkan dengan nada tinggi dan mata melotot, itu ajakan berkelahi. Tapi jika diucapkan sambil tertawa dan menepuk bahu teman, itu adalah tanda persaudaraan paling akrab yang tak bisa digantikan oleh kata “Sahabat”.
Salah satu elemen paling realistis dari hidup di kampung Surabaya adalah budaya “Cangkruk“.
Warkop adalah parlemen kami. Di sana, segala masalah dunia dibahas. Mulai dari performa Persebaya yang sedang naik turun, harga cabai yang meroket, sampai konspirasi politik nasional, semua dikupas tuntas oleh bapak-bapak yang hanya tamatan SD atau SMP. Saling bersahutan ditemani segelas kopi giras yang ampasnya bisa digunakan untuk membatik rokok. Sebagai anak kecil, aku sering disuruh Ayah ke Warkop Cak Dul di pojok gang.
“Tumbasno rokok, ambek kopi, Le,” kata Ayah.
Di Warkop itu, aku belajar tentang egalitarianisme. Di bangku kayu yang panjang, tukang becak duduk bersebelahan dengan pegawai kelurahan. Tidak ada sekat. Semua tertawa dengan lelucon yang sama, semua menghisap asap yang sama. Cak Dul, pemilik warkop yang selalu memakai kaos kutang putih dan handuk kecil di leher adalah moderator handal. Ia tahu kapan harus menengahi ragam perdebatan sebelum berubah menjadi tawuran kecil.
Dan bicara soal bola, tidak lengkap rasanya membicarakan Surabaya tanpa menyebut Bonek.
Aku ingat pertama kali diajak paman mbonek ke Tambaksari. Itu bukan sekadar menonton pertandingan, disana aku menemukan momen bersatunya aliran emosional Bonek Mania. Ribuan orang berbaju hijau, bernyanyi satu suara. Aroma keringat, asap flare, dan gemuruh nyanyian “Emosi Jiwaku” membuat bulu kudukku berdiri.
Di sana aku melihat sisi lain kota ini. Orang-orang yang sehari-harinya mungkin hidup susah, terhimpit utang, atau dikejar target pekerjaan, tiba-tiba memiliki satu tujuan, satu kebanggaan. Menurutku, persebaya adalah simbol perlawanan orang kecil bahwa kami punya suara, kami punya kebanggaan yang tidak bisa dibeli.
Namun, ada sisi melankolis dari kampungku yang sering luput dari pandangan orang. Yakni tentang gotong royong yang bukan sekadar slogan buku PPKn.
Suatu hari, Pak Mat, tetangga sebelahu yang aku ceritakan tadi, meninggal dunia mendadak karena serangan jantung. Saat itu pukul dua dini hari. Dalam hitungan menit setelah tangisan Bu Mat pecah, seluruh gang bangun.
Tanpa ada yang mengomando, bapak-bapak langsung mengeluarkan kursi-kursi plastik, memasang tenda terop, dan menyiapkan pemandian jenazah. Ibu-ibu, dengan daster dan rambut masih acak-acakan, langsung menuju dapur Bu Mat, membawa beras, gula, dan kopi dari rumah masing- masing.
Tidak ada yang bertanya, “Siapa yang bayar?”. Semua bergerak otomatis. [u1]
Aku, yang saat itu sudah duduk di bangku SMA, ikut mengangkat keranda. Di momen itu aku sadar, kekayaan orang Surabaya bukan terletak pada gedung-gedung tinggi di Jalan Tunjungan atau mal-mal megah di Surabaya Barat. Kekayaan kami adalah tetangga.
Kami mungkin berisik. Kami mungkin bicara dengan nada yang terdengar seperti orang mengajak bertengkar bagi telinga orang Solo atau Jogja. Tapi jika melihat ada orang yang jatuh, tangan- tangan kasar kami tidak akan segan terulur kepadanya bahkan sebelum ia sempat meminta tolong.
Kini, aku berdiri di depan rumah kecilku. Sudah lama aku merantau, bekerja di ibu kota dengan segala kemewahan semu dan individualitasnya yang tinggi. Aku pulang karena rindu. Rindu pada Tugu Pahlawan, Patung Suro dan Boyo, dan rindu pada semua atmosfer yang turut membesarkanku.
Aku berjalan menyusuri gang. Pandanganku menyapu setiap sudut yang bisa terjangkau. Di balik pagar besi, tatapanku tertuju pada wanita tua sedang memilah beras di depan rumahnya. Benar, ternyata Bu Yati. Rambutnya sudah memutih semua.
“Bu Yati?” sapaku pelan.
la menyipitkan mata, menatapku dari balik kacamata tebalnya. Lalu wajahnya cerah seketika.
“Ya Allah! Iki arek ganteng sing biyen senengane nyolong pelemku, ta?” (Ya Allah! Ini anak ganteng yang dulu sukanya mencuri manggaku ya?).
Aku tertawa, mencium tangannya. “Inggih, Bu. Pangapunten, nggih,” (lya, Bu. Maaf ya).
“Mbuuuuh! Wes dadi wong sukses saiki, lali karo kampung,” (Halah! Sudah jadi orang sukses sekarang, lupa sama kampung), godanya dengan nada ketus yang dibuat-buat, tapi matanya berkaca-kaca.
Sejurus kemudian, ia menyuruhku mendekat, memaksaku duduk, dan dalam sekejap, segelas teh manis panas dan sepiring pisang goreng sudah tersaji. Kami mengobrol, bukan tentang saham atau politik, tapi tentang siapa yang baru menikah, siapa yang sakit, dan warung mana yang rujak cingurnya masih enak.
Aku sadar, kampung ini tidak pernah berubah, meskipun zaman memaksanya berlari. Di balik tembok-tembok beton yang mengurung gang ini, jantung Surabaya masih berdetak dengan irama yang sama. Irama kehidupan yang jujur dan apa adanya,.
Surabaya mengajarkanku bahwa hidup itu seperti Rujak Cingur. Ada manis gula merah, rasa pedas dari cabai, sensasi khas cingur yang kenyal, dan aroma menyengat dari petis yang berpadu menjadi satu. Jika dipisahkan, mungkin rasanya aburd, tapi jika diulek pada cobek yang sama, ia menciptakan harmoni rasa yang bikin ketagihan
Begitu juga hidup di sini. Ada kerasnya perjuangan, ada pedasnya omongan tetangga, tapi ada manisnya persaudaraan yang tak akan kutemukan di tempat lain. Aku menyeruput teh manis buatan Bu Yati. Panas, manis, dan kental. Sama seperti kenanganku tentang kota ini. Aku adalah anak kampung Surabaya. Dan sejauh apapun kakiku melangkah, di sinilah, di antara gang sempit dan suara bising knalpot ini, jiwaku akan selalu pulang.
Penulis: Jovi Fernando Setiawan
Editor: Zidansad
Gambar: Pinterest
