Ada sebuah istilah dalam sosiologi yang pertama kali dipopulerkan oleh Arlie Hochschild pada 1989: second shift. Ia merujuk pada kenyataan bahwa perempuan yang bekerja penuh waktu di luar rumah tetap menanggung sebagian besar pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak ketika pulang ke rumah. Lebih dari tiga dekade berlalu sejak istilah itu lahir. Perempuan kini lebih banyak mengenyam pendidikan tinggi, lebih banyak menempati posisi profesional, bahkan lebih banyak menjadi kepala keluarga. Namun second shift atau dua shift itu sendiri nyaris tidak bergerak. Beban kerja ganda bukan sekadar soal kelelahan fisik. itu adalah cerminan dari bagaimana masyarakat secara sistematis menempatkan pekerjaan domestik sebagai tanggung jawab perempuan tidak terlihat, tidak dihitung, dan tidak dihargai sembari menuntut perempuan tampil produktif dan kompetitif di ruang publik. Dua tuntutan besar itu bertabrakan setiap hari di dalam tubuh yang sama.
Seperti yang terjadi di lingkungan tempat tinggal saya ada seorang perempuan yang sudah bersuami dan ketimpangan ini mulai terjadi di saat sang suami tidak lagi bekerja dan pada akhirnya semua beban kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan anak nya diberikan kepada sang istri, bahkan setelah sang istri mengerjakan pekerjaan di luar rumah yang hanya sebatas buruh tani saat sampai di rumah pun harus mengerjakan pekerjaan domestik dan mengurus anak-anaknya dan pada saat sang istri tidak sempat untuk menyediakan makanan untuk orang rumah dikarenakan harus bekerja sebagai buruh tani dari jam 6 pagi sampai jam 17.00 sore hari dan saat itu terjadi sang suami akan marah dan mencaci-maki bahkan akan melakukan kekerasan fisik. Disini terlihat bahwa perempuan 3 kali lebih banyak pekerjaan, yang dimana harusnya sang suami bisa membantu mengerjakan pekerjaan domestik tetapi malah memilih untuk memarahi sang istri dan bahkan melakukan kekerasan fisik. Ini juga bisa terjadi karena pandangan sang suami bahwa pekerjaan domestik adalah pekerjaan perempuan, tetapi tidak ada yang menegaskan bahwa perempuan bisa mengerjakan pekerjaan di luar rumah kenapa lelaki tidak bisa mengerjakan pekerjaan domestik?.
Data dari UN Women (2020) mencatat bahwa perempuan secara global mengerjakan tiga kali lebih banyak pekerjaan perawatan dan rumah tangga tanpa bayaran dibandingkan laki-laki. Di Indonesia, survei Badan Pusat Statistik mengenai penggunaan waktu menunjukkan bahwa perempuan menghabiskan rata-rata lima jam per hari untuk kegiatan mengurus rumah tangga, sementara laki-laki hanya sekitar satu setengah jam. Selisih ini tidak mengecil meskipun perempuan juga bekerja di sektor formal. Yang lebih mengejutkan adalah bagaimana pandemi COVID-19 memperparah ketimpangan ini. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Gender, Work & Organization (2021) menemukan bahwa ketika pekerjaan berpindah ke rumah dan sekolah tutup, beban kerja perempuan melonjak secara tidak proporsional. Laki-laki memang turut mengambil peran domestik lebih banyak selama pandemi, namun peningkatan itu jauh lebih kecil dibandingkan tambahan beban yang ditanggung perempuan. Rumah, yang seharusnya menjadi ruang istirahat, berubah menjadi tempat kerja berlapis. Salah satu akar masalah terbesar adalah bahwa pekerjaan domestik tidak pernah dianggap sebagai “kerja” dalam pengertian ekonomi yang sesungguhnya. Memasak, membersihkan rumah, merawat anak yang sakit, mengingatkan jadwal sekolah, memastikan persediaan dapur tidak habis semua ini disebut “mengurus rumah,” bukan bekerja. Padahal jika dihitung dengan tarif upah pasar, nilai ekonomi pekerjaan domestik yang dilakukan perempuan Indonesia setiap tahunnya bernilai triliunan rupiah.
Ketidaktampakan ini memiliki dampak yang jauh melampaui soal penghargaan simbolis. Ketika pekerjaan domestik tidak dihitung sebagai kontribusi ekonomi, perempuan yang memilih atau terpaksa fokus mengurus rumah tangga tidak mendapatkan jaminan sosial, tidak menabung untuk pensiun, dan tidak membangun rekam jejak karier. Mereka menjadi rentan secara finansial terutama jika pernikahan berakhir atau pasangan meninggal. Selain itu, ada yang disebut mental load atau beban kognitif kerja tak kasat mata berupa perencanaan, pengorganisasian, dan pengingatan yang terus berjalan di kepala perempuan bahkan ketika ia sedang beristirahat. Siapa yang harus membawa anak ke dokter gigi bulan ini? Apakah sabun sudah hampir habis? Kapan harus bayar tagihan listrik? Penelitian dalam bidang psikologi sosial menunjukkan bahwa perempuan menanggung porsi yang jauh lebih besar dari mental ini, dan beban tak kasat mata itu memberikan dampak terhadap kelelahan kronis dan penurunan kesejahteraan psikologis.
Beban kerja ganda bukan terjadi karena perempuan lebih suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga, atau karena laki-laki secara alami tidak mampu melakukannya. Ini terjadi karena norma gender yang mengakar kuat bahwa mengurus rumah dan keluarga adalah kodrat perempuan, sementara mencari nafkah adalah tugas laki-laki. Norma ini direproduksi di dalam keluarga, diperkuat oleh media, dan kadang dilembagakan oleh kebijakan publik yang tidak sensitif gender. Kebijakan cuti melahirkan yang jauh lebih panjang dibandingkan cuti ayah, misalnya, secara tidak langsung mengirimkan pesan bahwa pengasuhan bayi adalah urusan ibu. Minimnya fasilitas penitipan anak yang terjangkau memaksa perempuan bukan laki-laki untuk mempertimbangkan ulang keputusan karier mereka. Struktur kerja yang tidak fleksibel di banyak sektor formal tidak dirancang dengan mempertimbangkan bahwa sebagian besar pekerjanya juga memiliki tanggung jawab pengasuhan di rumah. Hasilnya adalah sebuah lingkaran yang sulit diputus dan perempuan menghabiskan lebih banyak waktu untuk kerja domestik sehingga memiliki lebih sedikit waktu dan energi untuk karier, yang pada akhirnya memperkuat asumsi bahwa perempuan memang lebih cocok di ranah domestik.
Respons yang paling umum terhadap isu beban kerja ganda adalah seruan untuk “lebih menghargai ibu” atau “mengakui kerja keras perempuan.” Apresiasi itu penting, namun tidak cukup. Masalah struktural membutuhkan solusi struktural. Beban kerja domestik di dalam rumah tangga adalah titik awal yang paling konkret bukan sebagai bantuan yang diberikan laki-laki kepada perempuan, melainkan sebagai tanggung jawab bersama yang memang seharusnya dibagi secara adil. Di level kebijakan, ini berarti mendorong cuti ayah yang lebih panjang dan digunakan secara aktif, memperluas akses layanan penitipan anak bersubsidi, serta menciptakan budaya kerja yang mengakui bahwa karyawan apa pun gendernya memiliki kehidupan di luar kantor. Di level budaya, perubahan paling mendasar adalah berhenti menormalisasi beban kerja ganda sebagai pengorbanan yang “memang sudah seharusnya” dilakukan perempuan. Perempuan yang kelelahan bukan tanda keberhasilannya mengatasi tetapi itu tanda bahwa sistem gagal memberikan beban secara adil. Selama kerja domestik terus dianggap tidak jelas dan tidak bernilai, selama tanggung jawabnya terus dibebankan secara relatif kepada perempuan, maka kesetaraan gender di ruang publik akan selalu berdiri di atas pondasi yang retak. Kita tidak bisa berbicara tentang perempuan yang berdaya di luar rumah selama di dalam rumah ia masih harus berjuang sendirian.
Referensi
Hochschild, A., & Machung, A. (1989). The Second Shift: Working Families and the Revolution at Home. Viking.
UN Women. (2020). Unpaid Care and Domestic Work: Issues and Suggestions for Viet Nam. UN Women.
Yavorsky, J. E., Kamp Dush, C. M., & Schoppe-Sullivan, S. J. (2015). The Production of Inequality: The Gender Division of Labor Across the Transition to Parenthood. Journal of Marriage and Family, 77(3), 662–679.
Badan Pusat Statistik. (2021). Survei Penggunaan Waktu. BPS Indonesia.
Collins, C., Landivar, L. C., Ruppanner, L., & Scarborough, W. J. (2021). COVID-19 and the Gender Gap in Work Hours. Gender, Work & Organization, 28(S1), 101–112.
Halimathul Sa’diah adalah mahasiswi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang percaya bahwa kata-kata adalah bentuk perlawanan paling sunyi sekaligus paling kuat. Ia tertarik pada persoalan ketidaksetaraan struktural dalam kehidupan sehari-hari perempuan. Ia percaya bahwa data dan narasi perlu berjalan beriringan untuk menghadirkan perubahan yang nyata. Melalui tulisan, ia berharap dapat mengajak lebih banyak perempuan untuk berdamai dengan diri sendiri dan mempertanyakan norma yang selama ini dianggap wajar.
Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest
