Setiap Sabtu sore, ada ritual kecil yang kami (saya dan istri) lakukan untuk menandai jeda dari rutinitas. Kami meninggalkan rumah di Taman, Sidoarjo, menuju sebuah titik di peta Surabaya Timur, ke Kalirungkut. Perjalanan ini, meski hanya menempuh jarak belasan kilometer, bagi saya terasa seperti melintasi dua dimensi yang berbeda. Sepanjang senin hingga jumat, hidup kami sepenuhnya terikat pada jadwal mengajar di sekolah. Waktu kami seolah habis diukur oleh tumpukan lembar evaluasi siswa dan target kurikulum yang seringkali menguras energi batin.
Namun, bagi saya yang telah dua tahun menjadi bagian dari warga di sini melalui satu ikatan pernikahan, gerbang Kampung Mejoyo adalah batas di mana waktu seolah melambat. Apalagi ketika kalender hijriah memasuki bulan Rabiul Awal.
Di tempat asal saya, Sidoarjo, sholawat adalah denyut harian yang akrab dan kental dengan kultur religius, namun Mejoyo memberi saya kejutan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Di sini, rindu pada Sang Nabi dirawat dalam sebuah maraton spiritual bertajuk Safari Maulud. Dua belas malam tanpa jeda.
Sebagai pendatang, saya selalu merasa beruntung bisa pulang di akhir pekan untuk menjemput sisa-sajadah puji-pujian yang sudah dimulai warga sejak malam pertama hingga mencapai puncaknya di malam kedua belas.
Kampung Mejoyo memiliki jalur pintas strategis bagi siapa pun yang ingin menghindari kemacetan dari arah Rungkut menuju Tenggilis. Namun, di musim Maulid, urat nadi transportasi itu mendadak bersalin rupa. Setelah kumandang azan maghrib, jalanan kampung ditutup bagi kendaraan yang hendak lewat.
Ini bukan tentang aturan birokrasi yang kaku atau perintah RT/RW yang tertulis di papan pengumuman, melainkan sebuah budaya yang sudah mengakar dan dimaklumi bersama oleh warga maupun pengguna jalan yang melintas. Para pengendara seolah sudah hafal dengan jadwal tahunan ini; mereka melambat, lalu dengan kesadaran penuh mengambil rute memutar, memberi ruang bagi hajat besar kampung.
Suasananya sungguh magis. Lampu-lampu hias kelap-kelip melintang di atas gang, berpadu dengan umbul-umbul yang melambai ditiup angin malam Surabaya. Udara yang biasanya gerah oleh hawa panas aspal, perlahan berubah sejuk saat karpet-karpet panjang mulai dibentangkan. Di atas hamparan karpet yang menutupi jalanan itulah, warga duduk bersila menyatu dalam barisan.
Yang paling menyentuh batin saya adalah semangat para tuan rumah yang berganti setiap malamnya. Mereka tidak sekadar memberi makan, melainkan berlomba-lomba menyuguhkan hidangan terbaik yang mereka mampu sebagai bentuk takzim kepada Baginda Nabi SAW. Niatnya satu, memuliakan bulan kelahiran Sang Nabi.
Keyakinan mereka berpijak pada nilai luhur yang sering disampaikan dalam majelis, sebagaimana sahabat Abu Bakar as-Shiddiq R.A pernah berpesan bahwa ”barangsiapa menyedekahkan hartanya demi memperingati maulid Nabi, maka ia akan menjadi teman beliau di surga nanti.” Maka, hidangan yang tersaji malam itu bukan lagi sekadar suguhan fisik, melainkan perwujudan dari doa dan janji keberkahan.
Tak ada timbangan lahiriah untuk menilai apa yang dihidangkan, karena setiap sajian adalah ikhtiar maksimal dari setiap keluarga untuk memuliakan tamu-tamu Nabi. Ketulusan warga untuk mengagungkan Sang Nabi adalah bumbu yang membuat setiap santapan terasa begitu istimewa.
Salah satu sentuhan yang membuat Mejoyo berbeda adalah keberadaan Ishari (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia). Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan Nahdlatul Ulama, saya tahu bahwa Ishari adalah sebuah entitas budaya yang sangat tua dan sakral, yang lahir dari tangan para kiai sebagai sarana dakwah.
Namun melihatnya di Mejoyo, saya melihat Ishari sebagai “arsip hidup” yang tetap segar melintasi zaman. Ishari bukan sekadar hadrah biasa; seni ini adalah perpaduan antara suara vokal yang melengking syahdu dengan gerakan tubuh yang disebut keplok atau tepukan tangan.
Gerakan Ishari penuh dengan filosofi sosiologis. Keplokan tangan yang dilakukan secara massal itu membutuhkan keselarasan rasa; jika satu orang saja tidak fokus, maka ritmenya akan pecah. Di Mejoyo, keplok Ishari adalah metafora dari kampung itu sendiri: berhimpit, bersentuhan, namun harus tetap selaras.
Kelompok Ishari Mejoyo sudah memiliki tempat tersendiri di hati warga. Keplokan tangan mereka bukan sekadar bunyi. Bunyi keplok itu seolah berbicara bahwa meskipun raga terhimpit di antara gedung pencakar langit, jiwa mereka tetap merdeka dalam lantunan sholawat.
Di setiap malam Safari, pusat perhatian jamaah selalu tertuju pada sosok pemimpin majelis. Mejoyo beruntung memiliki sosok yang mumpuni dalam diri Ustad Zamam Shuyuti. Ia seorang qori nasional yang namanya sudah melegenda di Jawa Timur, bahkan pernah menjadi vokalis inti grup hadrah besar Ahbabul Musthofa. Di luar sana, di panggung-panggung megah, ribuan mata menatapnya sebagai sosok besar, namun di Mejoyo, beliau tetaplah bagian dari keluarga besar warga yang rendah hati.
Kehadiran beliau selalu memberi nyawa pada sholawat kami. Baik saat majelis menggunakan panggung atau hanya beralas karpet di depan rumah warga, Ustad Zamam hadir dengan kebersahajaan yang tulus. Suara emas beliau yang biasanya terdengar melalui sound system ribuan watt di stadion-stadion nasional, malam itu terdengar sangat jernih dan personal di telinga warga kampung.
Beliau memimpin lantunan puji-pujian bukan sebagai orang asing yang datang memberi pertunjukan, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar Mejoyo yang bersama-sama merawat rasa cinta kepada Sang Nabi. Warga menaruh hormat yang sangat dalam kepada beliau, sebuah rasa hormat yang tumbuh secara alami karena beliau tetap memilih untuk berakar dan mengabdi di kampung ini, menjadikan suaranya sebagai pengikat ukhuwah antarwarga tanpa memandang status.
Momen yang paling dinantikan adalah saat kalender memasuki hari ke-12 Rabiul Awal. Mejoyo seolah mencapai titik didih spiritualnya dalam dua puncak acara yang keduanya berpusat di Masjid Al-Ali. Masjid Al-Ali bukan sekadar bangunan megah di tengah pemukiman; bagi warga Mejoyo, masjid ini adalah jantung yang memompa kehidupan kampung.
Secara historis, Masjid Al-Ali telah lama menjadi saksi bisu transformasi Mejoyo; dari kawasan yang dulunya merupakan batas luar Surabaya yang masih didominasi lahan terbuka, hingga kini menjadi pusat pemukiman yang religius dan terdidik di tengah kepungan industri.
Puncak pertama terjadi pada malam ke-12. Seluruh rangkaian safari dari gang ke gang bermuara di Masjid Al-Ali. Di sinilah wajah “Surabaya Kota Sholawat” terpampang nyata. Panggung besar
berdiri tegak di halaman masjid dengan lampu sorot yang membelah langit malam. Jalanan di sekitar Masjid Al-Ali penuh sesak oleh ribuan manusia yang tumpah ruah. Energi yang dirasakan di sini tidak kalah besar dengan acara sholawat yang sering diadakan oleh jajaran pimpinan kota atau provinsi di pusat kota.
Namun, di tengah kemegahan panggung itu, kesederhanaan khas kampung tetap terasa. ada pemandangan lain yang tak kalah memikat di sudut-sudut kampung. Kaum perempuan Mejoyo mengadakan acara sholawat tersendiri di lokasi yang berbeda, biasanya di dekat rumah salah satu tokoh masyarakat setempat.
Di sana, suasana meriah tercipta melalui deretan perabot rumah tangga yang digantung rapi di bawah terop. Usai pembacaan Mahalul Qiyam, suasana menjadi riuh rendah penuh kegembiraan saat jamaah perempuan mulai mengambil hadiah-hadiah gantung tersebut sebagai langkah sederhana untuk memeriahkan hari kelahiran Baginda Nabi.
Puncak kedua yang paling menyentuh batin saya justru terjadi setelah keriuhan malam puncak mereda: subuh di tanggal 12 Rabiul Awal. Di saat sisa-sisa keramaian malam mulai mengendap, Mejoyo kembali ke akar paling tradisionalnya melalui ritual Ishari di Masjid Al-Ali.
Inilah saat di mana regenerasi terlihat begitu nyata. Saat Mahalul Qiyam tiba, petugas Ishari yang berbaris rapi mencerminkan estafet zaman yang indah. Di barisan paling depan, anak-anak tingkat SD bergerak dengan fasih mengikuti gerakan menari yang penuh filosofi ketundukan.
Di belakang mereka, para pemuda hingga sesepuh mengimbangi dengan kekompakan yang sempurna. Ketika suara ‘keplok’ mereka bersahut-sahutan membelah keheningan fajar Kalirungkut, saya menyadari satu hal: Mejoyo tidak akan pernah kekurangan pewaris tradisi. Di tangan lintas generasi itulah, sholawat dan Ishari akan tetap aman melintasi zaman.
Ketika majelis perlahan bubar dan jamaah mulai bangkit dari duduknya, ada sebuah pemandangan yang menyentuh kesadaran saya. Di atas karpet yang sama, saya melihat keberagaman yang luar biasa. Tidak ada lagi sekat antara warga lokal yang sudah turun-temurun menghuni Mejoyo dengan para warga perantau yang datang untuk mencari nafkah di kota ini.
Di antara kerumunan itu, saya melihat wajah-wajah teduh dari para pekerja yang menetap di hunian-hunian sekitar kampung. Mereka adalah orang-orang yang setiap harinya bekerja keras di berbagai sektor di Surabaya Timur, yang pada malam itu memilih untuk melebur dalam barisan yang sama dengan kami.
Malam itu, identitas kami menguap. Mengenakan sarung dan kopiah yang sama, warga lokal dan warga perantau duduk berdampingan tanpa sekat. Tidak ada lagi pemilik rumah atau penyewa tempat tinggal; yang ada hanyalah sesama hamba yang mencari kedamaian dalam lantunan sholawat.
Kehadiran para perantau yang memilih untuk berbaur dalam kegiatan kemasyarakatan ini menunjukkan betapa hangatnya pelukan Mejoyo. Sholawat telah menjadi bahasa persatuan yang paling jujur; sebuah ruang di mana perbedaan asal-usul luluh dalam satu irama puji-pujian. Saya dan jamaah lainnya pulang dengan langkah ringan, masing-masing menjinjing sebuah “Berkat” di tangan. Kantong plastik itu berisi hidangan hasil ketulusan tuan rumah, sebuah simbol keberkahan fisik yang dinikmati bersama oleh siapa pun yang sudi duduk bersila di sana.
Dua tahun tinggal di sini setiap akhir pekan telah memberi saya sudut pandang baru. Surabaya bukan hanya kota industri yang sibuk, ia memiliki jantung yang tetap berdetak kencang melalui lorong-lorong sempit Kampung Mejoyo.
Selama sholawat masih bergema dua belas malam berturut-turut, selama warga masih dimaklumi membuntu jalan demi memuliakan Nabi, dan selama lintas generasi Mejoyo masih fasih melakukan keplok Ishari di Masjid Al-Ali, maka Surabaya akan selalu menjadi tempat yang memiliki jiwa.
Mejoyo telah membuktikan bahwa di atas aspal Kalirungkut, cinta dan persaudaraan bisa tumbuh lebih kokoh daripada gedung mal mana pun di kota ini. Saya pulang bukan hanya membawa berkat makanan, tapi membawa berkat berupa rasa tenang yang hanya bisa ditemukan di rahim sebuah kampung bernama Mejoyo.
Penulis: Ach Nailur Rizqi, menaruh minat pada dinamika budaya kampung dan kedaulatan tradisi masyarakat lokal.
Editor: Hamimie
