Doa Cak Mo Sebelum Tidur

A l’exemple de Saturne, la revolution devore ses enfants

~Jacques Mallet du Pan (1749-1800)

            Ketika resolusi jihad masih jauh dipanggang, tak banyak yang mendengar namanya. Ketika resolusi jihad sedang terpanggang, suaranya menggema di siaran radio. Ketika massa resolusi jihad berhasil menghantam pantat sekutu dan Surabaya kembali dalam kekuasaan rakyat, ia dielu-elukan sebagai pahlawan. Tetapi dengan surutnya pergolakan perlawanan, namanya pun surut dari perhatian negara yang ia pertaruhkan.

***

            Bangunan rumah dari anyaman bambu itu sudah miring dan tak diperbaiki sejak sepuluh tahun yang lalu. Di musim hujan, lantai yang masih tanah itu sering berlumpur ketika banjir menjenguk. Sedang, di balik petak kamarnya yang sempit dan gulita, Cak Mo mengenang masa lalunya. Kenangannya menembus batas-batas gedung yang menjulang megah.

            Cak Mo mengingat dengan baik betapa dirinya terbakar saat mendengarkan siaran radio yang memekikkan takbir perlawanan resolusi jihad Bung Tomo yang revolusioner ketika itu. Ia juga ingat ketika pulang dari aksi massa 10 November 1945, ia berjalan kaki dan menyisiri lorong-lorong kampung kota yang dibokongi gedung-gedung kolonial. Dalam perjalanan pulangnya yang panjang, ia juga ditugasi memantau keadaan yang karenanya ia ditemani dua kawan gerilyanya, Cak Ji dan Cak Soe. Keduanya jauh lebih muda daripadanya. Meski demikian, mereka lebih memiliki tradisi perlawanan plus pembangkangan dengan kewaspadaan penuh yang diwarisi oleh generasinya dari Kampung Keputeran. Mereka pun jauh lebih gesit dan berenergi, meski kemiskinan sama senasib sepenanggungan. Revolusi selalu senasib dengan mereka bertiga dan kepada mereka yang segolongan. Itulah ploteriat kota.

            Malam itu, Cak Soe yang pernah lama indekos di Peneleh, menuntun jalan menyusuri bentangan kali. Cak Ji menyorongkan sebatang rokok kepada dua rekannya yang berjalan beriringan. Nyala rokok dan lelatu mereka bertiga serupa mata banaspati yang mengintai lawan di kelabu Surabaya. Lampu yang telah padam selama gejolak resolusi itu mengurung mereka dalam kegelapan. Hanya ada sisa pantulan rembulan yang menerangi pandangan mereka dalam jarak sekian meter saja. Gedung-gedung hasil konstruksi kolonial berbaris pucat dan dingin ditinggalkan pemiliknya yang lebih dahulu kembali mencari selamat ke negaranya. Sedang di beberapa titik jalan, masih tersisa bumbungan asap pembakaran sedang mengepul malu-malu sebelum benar-benar ingin lenyap.

            Ketika sampai di persimpangan jembatan, Cak Mo meminta rehat. Ia ingin memandang kobaran resolusi dari jarak tertentu seperti melihat lukisan abstrak yang tak pernah ia pahami. Dalam diam, ia merenung jauh ke dalam batinnya.

            “Kita menang, Cak!”

            “Soe! Kau mengaburkan pandanganku. Diamlah sejenak.” Kemudian Cak Mo kembali dalam renungannya yang dengan perlahan menariknya dalam kemurungan.

            Cak Ji yang berada lebih dekat melihat raut murung itu menjadi gelisah. Sebagai pemuda dengan gairah meledak-ledak, ia menjadi tak mengerti mengapa dan sebab apa Cak Mo demikian. Ia menyenggol lengan Cak Soe dan perlahan bisik, “Benar. Kita menang, Cak! Kita menang dari sekutu jancok yang ingin merebut kedaulatan arek-arek. Kita menang dengan jerih payah berdarah untuk mengambil kemerdekaan kita seutuhnya. Lalu mengapa Cak Mo murung begitu, Cak Soe?”

            “Kata sesepuh orang Jawa, pikiran orang tua lebih kompleks. Kehati-hatiannya, perhitungannya, dan pertimbangannya seringkali membuat mereka melihat dunia yang lebih gelap meski itu jauh dalam perabaan kita.” Percakapan mereka berlanjut lirih. Sedang Cak Mo, terus diam dan masih menyelami pikirannya.

            Di saat Cak Ji dan Cak Soe mengira Cak Mo sedang memperhitungkan langkah taktis pasca resolusi jihad untuk membenahi, membangun, dan menyusun negara Indonesia yang ideal, ada aroma tumpukan pekerjaan rumah dan gugatan kebutuhan hidup yang membebat kepala Cak Mo. Ada omelan istrinya yang sedang hamil tua anak kelima, yang selalu meracau membuat kepalanya hampir pecah. Ada kepadatan kampung Surabaya yang sejak asalnya memang ingin menguburkannya perlahan-lahan dalam jurang ketakberdayaan akan kemiskinan. Ada kehidupan sosialnya, yang dengan keadaan sama dalam jeratan kemiskinan, yang perlahan terus memagari diri dan menggali lubang pengasingan dari hiruk-pikuk gosip tetangga.

            “Pada masa kolonial, kita dicekik pajak. Jepang hanya memperparah. Revolusi tidak menjamin kepastian hidup, memberi perut kita kenyang, apalagi melunasi hutang dan tagihan!” Gerutu Mbok Sul terngiang-ngiang membentur pikiran Cak Mo. “Mas, Surabaya penuh dengan pemberontakan. Sejak 1920 hingga 1926 arek-arek Suroboyo penghuni kampung menggempur perusaahaan Londo dan pemerintah kota praja dengan perlawanan. Tapi hasilnya? Pangreh praja, kelas borjuis, dan kelas menengah atas yang mendapatkan tempat lebih baik. sedangkan kita? Mungkin hingga seratus tahun kemudian keadaan kita akan tetap begini jika Tuhan memberi umur panjang untuk penderitaan.” Mbok Sul yang sedang hamil tua itu terus mendesak suaminya.

            Cak Mo tak menaruh perhatian lebih pada omelan istrinya. Sebab sudah terlampau pelik pikirannya mengikuti perkembangan politik terkini. Ia tak ada energi untuk melihat masa depan Indonesia seratus tahun lagi. Meski terkadang omelan istrinya seringkali muncul tiba-tiba mengetuk kesadarannya. Dalam benaknya, kemiskinan hari ini adalah buah dari ketidakadilan hari yang lalu. Seratus tahun lagi adalah urusan anak-anaknya, arek-arek, dan siapapun yang hidupnya terkatung-katung nantinya. Ia dan istrinya hanya akan mengenang bahwa revolusi adalah darah daging kemiskinan yang akan menemani mereka ke liang kubur.

            Cak Mo tak sanggup lagi mengenang masa lalunya. Dingin malam yang merembes masuk melalui dinding annyaman bambu di musim hujan ini, meringkus linu persendiannya. Ia mengemas kedua matanya sambil pergi ke dalam tidur. Meninggalkan Cak Soe, Cak Ji, Istrinya, dan dunia revolusi untuk nyenyak sejenak.

            “Sampai jumpa di revolusi seratus tahun lagi, Istriku!” doa Cak Mo sebelum tidur.

Januari 2026

Penulis: Zaman Am
Editor: Zidansad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya