Aku lahir di Kota Pahlawan, tepatnya di daerah Wonorejo. Aku tumbuh besar di dalam gang sempit dengan rumah-rumah yang berbaris rapat, seolah saling menjaga rahasia satu sama lain. Namun, tolong jangan jauh-jauh mencariku ke rimbunnya Rungkut; aku adalah anak Wonorejo Surabaya Pusat, daerah Kedungdoro yang detak jantungnya tak pernah berhenti berdenyut.
Kini, aku berdiri di bawah langit kota industri terbesar se-Asia. Tempat di mana cerobong-cerobong raksasa menggantikan pepohonan dan deru mesin menjadi musik sehari-hari yang monoton. Merantau ke tanah orang membuatku menyadari satu hal yang paling hakiki: rindu itu seperti petis, makin lama disimpan di pojok ingatan, makin kuat dan pekat aromanya.
Akar Pekerja Keras dan Aroma Susu Petemon
Aku dibesarkan dari keluarga menengah ke bawah, tapi jiwa kami bukanlah pemalas yang menunggu nasib jatuh dari langit. ayah dan ibu adalah petarung sejati; mereka penjual apa saja demi menyambung nyawa dan memastikan anak-anaknya tetap bersekolah.
Aku paling ingat ritual pagi ayah. Sebelum matahari benar-benar tegak, beliau sudah berada di daerah Petemon untuk mengambil pasokan susu sapi segar. Susu itu murni, tanpa tambahan air setetes pun. ayah menjualnya per gelas dalam bentuk STMJ (Susu, Telor, Madu, Jahe) dengan gerobak susunya.
“Yah.. gak kesel tah mlaku-mlaku muter-muter gerobak ngene iki?” tanyaku suatu sore sambil menempelkan telapak tangan pada kayu gerobak yang kasar.
Ayah hanya terkekeh, tangannya yang legam karena matahari mengacak rambutku. “Lha nek gak muter, susune gak dadi sekolahmu, Le. Sing penting halal, kudu tlaten. Urip iku koyok gerobak iki, nek gak didorong yo gak bakal mlaku.”
Sebelum aku berangkat sekolah, ibu menyisihkan satu gelas khusus untukku. Aku merengut karena tidak suka aroma murni susu sapi.
“Diombe Le susune, cik kuat awakmu sekolah sampek awan,” ujar Ibu sambil menyodorkan gelas hangat.
“Susu maneh, Bu? Gak enak ambune, koyok sapi…”
Ibu tertawa lepas, lalu dengan cekatan memasukkan bubuk perasa stroberi ke dalam gelasku. “Halah, kakean polah kon iku. Iki wes tak keki stroberi, wes wangi, wes enak. Cepet diombe, selak telat mlaku nang Arjuno!”
Ritual Pagi: Ayo Budal!
Setelah susu stroberi itu tandas, ritual berikutnya adalah menjemput dunia. Meski sekolahku adalah yang paling jauh di Kedungdoro, aku tidak pernah berjalan sendirian. Kami, anak anak satu gang, punya tradisi tak tertulis untuk saling menjemput.
“Le! Ayo budal! Selak kawanen, telat engkok!” teriak Slamet dari depan gang rumahku. Suaranya lantang, beradu dengan suara sapu lidi Ibu-ibu di pagi hari.
Aku segera menyampirkan tas dan bergabung dengan gerombolan bocah berseragam. Kami berjalan kaki menyusuri labirin Wonorejo. Dari Wonorejo satu, kami mampir ke depan rumah Cak Ri di Wonorejo dua, lalu menjemput yang lain.
“Sekolahmu adoh nang Kedungdoro kono jek kober mlaku bareng kene, Le?” tanya Cak Ri sambil membetulkan letak dasinya. Aku tertawa sambil terus melangkah. “Lha yo opo, nek gak mlaku bareng awakmu kabeh, garing rasane. Adoh gak keroso nek kakean ngguyu!”
Sesampainya di depan gerbang sekolah teman-teman yang berada di sekitar Wonorejo, kami pun harus berpisah. “Aku sekolah sek yo, engkok awan moleh sekolah ayo main siang hari maneh!” seruku lantang sambil melambaikan tangan kepada mereka.
Cak Ri dan teman-teman yang lain tertawa lebar melihatku yang masih harus berjuang lebih jauh. “Iyo Le, ati-ati kon! Selak kawanen lho, ojo lali nggolek gandengan nek nyebrang!” balas Cak Ri sambil tertawa renyah yang diikuti sorakan teman-teman lainnya.
Setelah mereka masuk ke sekolah masing-masing, aku sendirian melanjutkan perjuangan. Aku melangkah tegap menyusuri Gang Wonorejo 1 yang mulai ramai, lalu dengan penuh kewaspadaan aku menyeberang jalan besar masuk ke Jalan Tegalsari. Tak berhenti di situ, kakiku terus melangkah hingga menyeberang sekali lagi menuju Kedungdoro. Panas Surabaya mulai terasa menyengat, tapi bayangan janji main siang nanti membuat langkahku tetap ringan.
Gundu dan Bola: Stadion di Depan Gang
Sepulang sekolah, siang hari yang terik tak menghalangi semangat kami. Sebelum seragam sempat dilepas, kami biasanya sudah berkumpul di depan teras rumah warga yang beralas semen rata. Permainan favorit kami adalah gundu atau kelereng.
“Ayo, pasang siji-siji! Sopo sing nembak dhisik iki?” teriak Slamet sambil mengocok kelereng di kantong celananya. Kami berjongkok melingkari lubang kecil di tanah. “Kene lho, deloken carane nembak! Ctek! Menang maneh aku!” seruku kegirangan saat gundu lawan terpental.
Namun, kegembiraan kami di siang bolong itu sering pecah saat seorang ibu tetangga membuka pintu dengan wajah merah padam karena tidurnya terganggu. “Woi! Gak iso
meneng tah?! Wong kene iki kabeh kepingin turu awan, awakmu kabeh malah bengak bengok koyok nang pasar! Bubar, bubar! Golek panggon liyo!” teriaknya sambil mengacungkan sapu lidi.
Jika gundu dilarang, kami pindah ke depan gang untuk bermain bola plastik. Sandal jepit jadi gawang, dan gang sempit jadi Stadion Gelora 10 November.
DUAK! Bola plastik kami menghantam ember jemuran tetangga.
“Woi! Gak duwe bapak tah?! Wong liwat kangelan, jemuran teles kabeh keno bal! Bubar gak?!” teriak seorang ibu dengan daster batik. Kami hanya bisa cengengesan sambil lari kocar-kacir. “Sepuntene, Bu! Bal-balane pancen enak nang kene!” teriak Slamet sambil tetap menggiring bola menjauh.
Insiden Layangan dan Tiang Listrik
Saat musim angin tiba, langit Wonorejo penuh warna-warni layangan. Satu kejadian paling gila adalah saat aku dan Cak Ri bermain di dekat tiang listrik tua.
“Tarik, Le! Ulur terus! Menang iki kene!” teriak Cak Ri semangat. Tapi angin liar Surabaya membuat layangan kami nyangkut di kabel listrik. Kami menarik benang sekuat tenaga.
Tiba-tiba… KRAK! Tiang kayu penyangga yang sudah tua itu patah di bagian atas! Percikan api muncul kebiruan, dan seketika listrik satu blok padam.
“Mlayu, Le! Engkok diamuk wong sak kampung!” bisik Cak Ri pucat pasi. Kami lari tunggang langgang saat mendengar tetangga berteriak dari kejauhan: “Woi! Sopo sing nggarai mati lampu iki?!”
Setelah suara “Amin” terakhir diucapkan di langgar saat mengaji sore, petualangan malam dimulai. Kami biasanya patungan membeli petasan korek dan memasukkannya ke dalam kaleng biskuit kosong agar suaranya menggema hebat.
DOR!
Ledakan itu memantul di dinding gang yang rapat. Seketika jendela-jendela kayu terbuka lebar. “Ya Allah! Jantungen aku, Le! Sopo sing nyumet mercon iku?!” teriak seorang Ibu dengan napas tersengal. “He, ati-ati kenek tanganmu engkok! Putul tanganmu baru kapok kon!” Kami tertawa nakal sambil lari menghindari asap belerang. Kami tidak akan berhenti sampai ada yang menangis kaget, ada ibu-ibu yang marah besar, atau sampai stok petasan kami benar-benar habis. Hahaha!
Jiwa dagang Ayah ternyata mengalir deras padaku. Saat musim Ceng Beng tiba, jalanan Kedungdoro sampai Kupang tak pernah tidur. Wangi kembang kuburan merebak dari pagi
hingga pagi lagi, harum mawar dan melati bercampur aroma hio. Di saat itulah, aku bergabung dengan Bulek di pinggir jalan.
“Cik… Cik… bunganya Cik! Cantik-cantik, tasih seger!” teriakku lantang setiap kali ada kendaraan melambat.
Bulek menyenggol lenganku sambil tersenyum lebar. “Pinter kon, Le. Golek duwek iku ancene kudu wani mbengok, gak oleh isin. Nek isin, luwe wetengmu engkok.”
Penutup: Langkah Kaki di Arjuno
Surabaya selalu punya cara untuk membuatku ingin pulang. Sejak SMP hingga SMK, aku harus berjalan kaki menembus gang panjang menuju Jalan Arjuno untuk menunggu bis kota di bawah terik matahari yang membakar kulit.
Kini, di tengah hiruk pikuk pabrik dan asap industri, aku sering tertegun di jendela kos. Meskipun dulu hidup kami pas-pasan dan sering dimarahi ibu-ibu gang karena main bola atau petasan, Surabaya selalu punya cara untuk membuatku rindu. Karena di sana, di antara wangi kembang kuburan, gerobak susu Ayah, gurihnya susu stroberi Ibu, riuh tawa teman-teman saat budal sekolah, dan ledakan petis Lontong Balap Arjuno, separuh jiwaku tertinggal dan menetap selamanya. Di Wonorejo.
_
Penulis: Hafizha Nabilah Zhafarina
Editor: Azkal Azkia Nurrohmat
Foto: Unsplash.com/Ej Yao
