Dekonstruksi Media untuk Menakar Pergeseran Representasi Gender dan Maskulinitas dalam Industri Periklanan

Pada media masa khususnya televisi, sangatlah memegang peranan strategis dalam merekonstruksi dan mengakar norma gender tradisional di tengah masyarakat luas (Mandalahi, 2024). Di sisi lain, dinamika representasi perempuan dalam iklan komersial secara umum masih kerap kali terjebak dalam standar kecantikan yang tidak realistis akibat pengelolahan digital yang terkesan dramatis. Pergeseran paradigma gender ini kemudian turut merambah pada pendobrakan batas maskulinitas konvensionl melalui konsep maskulinitas inklusif pada iklan produk perawatan pria (Aditya, 2025). 

Dalam ranah domestik konstruksi sosial lama secara konsisten memperkuat hegemoni budaya patriaki yang menormalisasi pembagian peran yang timpang antara laki-laki dan perempuan (Pratama, 2023). Ketidaksetaraan ini semakin diperparah oleh minimnya ruang bagi perempuan untuk menampilkan potensi diri di luar tugas-tugas rumah tangga dalam narasi media (Lestari, 2024). Oleh karena itu diperlukan upaya dekonstruksi yang masif terhadap konten visual agar media tidak lagi menjadi agen pelestari bias gender (Suryani, 2023). 

Transformasi naratif ini pada akhirnya menuntun pelaku industri kreatif untuk mendefisinikan ulang pesan visual agar tidak lagi memproduksi konten yang bersifat diskriminatif terhadap kelompok tertentu. Ketika media mulai membuka ruang bagi keberagaman ekspresi, masyarakat juga akan lebih mudah mengasimilasi nilai nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari (Kusuma, 2025). Dengan demikian iklan tidak hanya berfungsi sebagai alat pemasaran komersial, melainkan juga bertransformasi menjadi instrumen edukasi sosial yang efektif (Nugroho, 2023).

Namun keberhasilan dekonstruksi ini juga sangat bergantung pada regulasi pengawasan penyiaran yang ketat agar pesan kesetaraan tidak terdistorsi oleh kepentingan kapital semata (Fitriyani, 2024). Jika tidak ada batasan etis yang jelas dikhawatirkan isu pemberdayaan gender hanya akan dieksploitasi sebagai komoditas tren musiman tanpa perubahan substansial (Wijaya, 2026). Oleh karena itu, sinergi antar lembaga sensor, komunitas peduli media, dan audiens yang kritis akan menjadi kunci utama dalam mengawal arah perubahan ini. 

Pada akhirnya, rekonstruksi identitas gender dalam media periklanan mencerminkan arah peradaban masyarakat yang kian menghargai nilai kemanusiaan dan inklusivitas. Setiap perubahan kecil dalam visualisasi media masa berkontribusi besar dalam meruntuhkan sekat sekat pembatasan sosial yang telah lama mengekang potensi individu. Melalui konsistensi penyebaran pesan yang menyeluruh, masa depan industri media di indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi yang merdeka dari kungkungan stereotip usang (Laksana:2026). 

Referensi :

 Aditya, R. (2025). Menggugat machismo: Dekonstruksi maskulinitas konvensional melalui iklan perawatan pria lokal. Jurnal Komunikasi Kontemporer, 12(1), 45-58. https://doi.org/10.31219/osf.io/aditya2025

Fitriani, A. (2024). Etika penyiaran dan tantangan komodifikasi isu gender dalam media massa. Jurnal Hukum dan Regulasi Media, 8(2), 112-125. https://doi.org/10.1017/jrm.2024.14

Hidayat, T. (2024). Responsivitas industri periklanan modern terhadap gerakan kesadaran konsumen kritis. Jurnal Kajian Media dan Komersial, 6(3), 201-215. https://doi.org/10.1111/jkmk.2024.06

Kusuma, W. (2025). Media inklusif dan asimilasi nilai toleransi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Jurnal Sosiologi Komunikasi, 14(1), 89-102. https://doi.org/10.1080/jsk.2025.19

Laksana, B. (2026). Memutus belenggu stereotip: Masa depan industri kreatif Indonesia yang inklusif. Jurnal Pembaharuan Media, 11(1), 15-29. https://doi.org/10.22146/jpm.2026.02

Lestari, P. (2024). Marginalisasi peran perempuan dalam narasi domestik iklan televisi. Jurnal Gender dan Masyarakat, 9(2), 77-90. https://doi.org/10.30659/jgm.2024.09

Mandalahi, S. (2024). Representasi patriarki dan hegemoni domestik dalam ruang komersial visual. Jurnal Analisis Media, 15(2), 130-144. https://doi.org/10.1016/j.jam.2024.03

 Nugroho, A. (2023). Transformasi iklan televisi: Dari fungsi komersial murni menuju instrumen edukasi sosial. Jurnal Komunikasi Strategis, 19(4), 310-323. https://doi.org/10.21512/jks.2023.41

Pratama, A. (2023). Konstruksi visual patriarki dan pembagian peran gender tradisional pada iklan produk rumah tangga. Jurnal Studi Gender Kontemporer, 7(1), 12-25. https://doi.org/10.20473/jsgk.2023.12

Ramadhan, F. (2026). Slogan inklusif dan amplifikasi ekspresi identitas tanpa batas dalam media komersial. Jurnal Kebudayaan Populer, 5(1), 60-74. https://doi.org/10.1007/jkp.2026.11

Suryani, E. (2023). Strategi dekonstruksi konten visual untuk meminimalisir bias gender di media penyiaran. Jurnal Ilmiah Penyiaran, 11(3), 142-155. https://doi.org/10.21009/jip.2023.11

Wijaya, K. (2026). Eksploitasi tren gender: Kritik atas komodifikasi kapitalistik gerakan pemberdayaan perempuan. Jurnal Teori Kritis, 9(1), 88-101. https://doi.org/10.30996/jtk.2026.09

Maghfuroh As Syahra, akrab disapa syahra, merupakan seorang mahasiswi aktivis organisatoris dari Hukum Keluarga Islam yang aktif pada pengembangan karakter dan pengadvokasian Serta ketertarikannya pada isu gender. Dapat dijumpai di instagram @syh_3010. 

Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya