Dapur Panjang ke Meja Kuliah

“Bisa tolong nanti kamu yang buat slide presentasinya, ya?”
“Besok ada rapat, kamu yang buat jadwalnya, ya.”
“Yang lain enggak mungkin bisa, butuh sentuhan cewek, pokoknya nanti yang nulis materi dan pertanyaan untuk debat kamu, ya. Kan, tulisan cewek biasanya yang paling bagus.”
“Nah, yang maju untuk presentasi nanti aku aja, kan, aku cowok. Kamu bagian catat mencatat aja.”
“Bendahara kamu lagi, ya. Cewek, kan, jago ngitung uang daripada cowok.”
“Ngapain daftar jadi Ketum, sih? Yang ada malah nanti emosional, lho, program kerja enggak bakal ada yang kelar.”


Kalimat-kalimat yang dilemparkan kepadaku di kampus adalah sumber keresahanku setiap saat dosen meminta para mahasiswa untuk membentuk kelompok belajar di setiap kelas. Benakku berkata bahwa mungkin, ini sesuatu yang biasa saja. Toh, hanya terjadi padaku. Namun, ternyata … hampir semua mahasiswi di kelas mengalami hal yang sama. Pengalaman buruk yang aku alami di kampus adalah hal yang dinormalisasikan oleh setiap mahasiswa yang memiliki pola pikir bahwa laki-laki harus selalu mendominasi panggung utama dan perempuan harus selalu berada di belakang layar.


Dalam buku Gendered Lives oleh Natalie Fixmer-Oraiz dan Julia T.Wood, disebutkan bahwa terdapat bentuk bias yang tersembunyi terhadap laki-laki dan perempuan di dunia pendidikan. Di banyak kampus, laki-laki cenderung diposisikan pada peran teknis atau pemimpin, sedangkan perempuan diposisikan pada peran pendukung, seperti bagian pemasaran, administrasi, atau logistik. Buku tersebut membuka mataku terhadap perihal yang ternyata memang masih terjadi hingga saat ini, yakni ketika laki-laki secara otomatis atau sukarela memegang kendali publik dengan menjadi pemimpin dalam kegiatan sekecil apapun, seperti pemimpin presentasi, sedangkan perempuan mengambil peran yang menuntut ia untuk seolah tak kasat mata, seperti hanya menjadi pencatat materi atau seseorang yang mempersiapkan materi presentasi. Membaca buku ini menciptakan pikiran dalam benakku yang berkata, “Oh, ternyata inilah bentuk nyata dari perpanjangan peran domestik ke ruang kelas”.


Pengalaman tidak mengenakan yang aku rasakan ternyata tidak berhenti di ruang itu, tetapi meluas hingga ke ranah organisasi kampus. Sadar aku bahwa jabatan ketua umum di suatu organisasi kampus yang diisi dengan perempuan ternyata masih sering membuat sebagian besar orang menyipitkan mata. Hal ini karena perempuan sering diidentifikasi sebagai sekretaris atau bendahara. Entah apa yang terlibat dalam pikiran mereka ketika rasa kenyamanan itu muncul saat mengetahui yang menjabat dua posisi tersebut adalah perempuan.

Kondisi ini sejalan dengan data lapangan dari berbagai riset organisasi mahasiswa yang mencatat bahwa mahasiswi kerap menumpuk di posisi administratif, seperti sekretaris dan bendahara hingga mencapai lebih dari 65%, tetapi representasi mereka jatuh di bawah 20% ketika menginjak posisi ketua umum atau presiden mahasiswa (Aziz dkk., 2024; Tarigan, 2026). Ironisnya, jumlah mahasiswi aktif di kampus saat ini sering kali telah menyentuh angka lebih dari 50–65% (Christi, 2025; Warta Kota, 2025).

Stereotip gender membuat mahasiswi diarahkan pada peran yang lebih pasif atau pendukung yang menunjukkan pembagian tugas di kampus bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga dibentuk oleh cara pandang gender yang tidak setara (Fibrianto, 2016). Perempuan diasosiasikan dengan sifat penurut, emosional, lemah, pendiam, rapi, bersih, artistik, ibu rumah tangga, dan berorientasi bahasa (Tyas, 2025). Stereotip peran, pembagian tugas berdasarkan jenis kelamin, serta kecenderungan posisi tertentu yang muncul dari kegiatan sekecil apapun di lingkungan mahasiswa mencerminkan bias gender.


Sungguh, muak aku selalu disuguhi perilaku-perilaku seperti itu di kampus. UNESCO telah menegaskan bahwa bias dan stereotip gender dalam pendidikan perlu dihancurkan karena hal itu memengaruhi pengalaman belajar, pilihan, dan peserta didik (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, 2022). Masalahnya bukan terletak sekadar pada siapa yang presentasi dan menjadi pemimpin atau siapa yang mencatat, melainkan bagaimana lingkungan kampus melazimkan pembagian peran berdasarkan jenis kelamin.

Ketika perempuan terus-menerus dianggap lebih pantas menjadi pendengar daripada pembicara atau pendukung daripada pengambil keputusan, kampus sebenarnya telah gagal dalam menjadi ruang yang setara. Jika kampus damba menjadi ruang belajar yang setara, perubahan harus dilakukan oleh tiap orang di lingkungan tersebut yang dimulai dari kebiasaan sehari-hari yang tampak kecil, tetapi berdampak besar. Aku dan mahasiswi lainnya tidak seharusnya dinomorduakan dalam kerja kelompok dan organisasi kampus. Kesetaraan bukan hanya perihal akses masuk ke kampus, tetapi juga perihal kesempatan yang sama untuk berbicara, memimpin, dan diakui.

Referensi

Aziz, M. H., Sari, N. P., & Lestarika, D. P. (2024). Keterwakilan perempuan dalam struktur keorganisasian mahasiswa. Jurnal Kajian Hukum Dan Kebijakan Publik, 2(1), 512-517.


Christi, T. V. (2025, September 16). Proporsi Pemimpin Perempuan di Indonesia Terus Meningkat. GoodStats. https://data.goodstats.id/statistic/proporsi-pemimpin-perempuan-di-indonesia-terus-meningkat-xPKLr
Fibrianto, A. S. (2016). Kesetaraan gender dalam lingkup organisasi mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2016. Jurnal Analisa Sosiologi, 5(1), 10-27.


Fixmer-Oraiz, N., & Wood, J. T. (2019). Gendered lives: Communication, gender, & culture (13th ed.). Cengage Learning.
Tarigan, N. E. D. B., Sitompul, L. U., & Noviani, F. (2026). Representasi perempuan dalam kepemimpinan organisasi mahasiswa: Studi pada BEM FHIS Undiksha. Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 6(2), 1-12.
Tyas, C. H. A. (2025). Pandangan mahasiswa tentang kesetaraan gender di lingkungan kampus. Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ), 3(11), 2200-2204.


United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. (2022). #HerEducationOurFuture: Challenging gender bias and stereotypes in and through education (Fact Sheet ED/GEM/MRT/2022/FS/G/1). Global Education Monitoring Report.
Warta Kota Production. (2025, Agustus 6). 63 Persen Mahasiswa Baru UI Perempuan, Rektor Ungkap 2 Faktor Kemungkinan [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=ZkoXSsYeLUc

Penulis: Afiyah Nur Kamilah adalah seseorang yang menuangkan sejumlah ide dalam bentuk tulisan di kala senggang dengan secangkir teh dan biskuit. Sejak duduk di bangku SD, ia sering berkhayal dan kerap kali memetakan imajinasinya di kertas. Dewasa ini, ia mengabadikan karyanya di salah satu platform, Wattpad, menggunakan nama patahtakruntuh.

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya