Perempuan saat ini semakin banyak berkontribusi di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pemerintahan, bisnis, hingga sektor industri. Namun, di balik meningkatnya partisipasi perempuan di dunia kerja, masih banyak yang harus menghadapi beban kerja ganda (double burden). Mereka tidak hanya dituntut menjalankan pekerjaan profesional, tetapi juga tetap memikul tanggung jawab utama dalam mengurus rumah tangga dan keluarga.
Fenomena ini masih menjadi persoalan yang nyata di Indonesia. Meskipun perempuan telah bekerja penuh waktu, masyarakat sering kali masih menganggap bahwa pekerjaan domestik seperti memasak, membersihkan rumah, mengasuh anak, dan merawat anggota keluarga merupakan tanggung jawab utama perempuan. Akibatnya, banyak perempuan harus bekerja lebih lama dibandingkan laki-laki karena menjalankan dua peran sekaligus.
Menurut berbagai penelitian, beban kerja ganda dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Dari sisi fisik, perempuan lebih rentan mengalami kelelahan karena waktu istirahat yang terbatas. Dari sisi psikologis, tekanan untuk memenuhi tuntutan pekerjaan sekaligus keluarga dapat memicu stres, kecemasan, hingga kelelahan emosional (burnout). Bahkan, sebagian perempuan mengalami rasa bersalah ketika merasa tidak mampu menjalankan salah satu perannya secara maksimal.
Selain berdampak pada kesehatan, beban kerja ganda juga memengaruhi perkembangan karier perempuan. Kesempatan mengikuti pelatihan, promosi jabatan, atau pendidikan lanjutan sering kali terhambat karena keterbatasan waktu dan tanggung jawab domestik. Kondisi ini membuat kesenjangan gender di dunia kerja masih sulit dihilangkan meskipun kesempatan kerja bagi perempuan semakin terbuka.
Menurut saya, permasalahan ini bukan semata-mata tanggung jawab perempuan, melainkan tanggung jawab bersama dalam keluarga dan masyarakat. Pembagian tugas rumah tangga yang lebih adil antara suami dan istri perlu dibangun agar perempuan tidak menanggung seluruh pekerjaan domestik sendirian. Selain itu, perusahaan juga perlu menciptakan lingkungan kerja yang lebih ramah keluarga, misalnya melalui kebijakan jam kerja yang fleksibel, cuti orang tua, serta du kungan terhadap keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance).
Di sisi lain, perubahan pola pikir masyarakat juga sangat penting. Sudah saatnya pekerjaan rumah tangga dipandang sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas perempuan. Dengan adanya dukungan dari keluarga, lingkungan kerja, dan kebijakan pemerintah, perempuan dapat mengembangkan potensi dirinya tanpa harus mengorbankan kesehatan maupun kesejahteraan keluarganya.
Pada akhirnya, mengurangi beban kerja ganda bukan hanya memberikan manfaat bagi perempuan, tetapi juga bagi keluarga, dunia kerja, dan masyarakat secara keseluruhan. Ketika perempuan memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang tanpa dibebani tanggung jawab yang tidak seimbang, produktivitas dan kualitas hidup semua pihak akan ikut meningkat.
Referensi
Hochschild, A., & Machung, A. (2012). The Second Shift: Working Families and the Revolution at Home. Penguin Books.
Puspitawati, H. (2013). Gender dan Keluarga: Konsep dan Realita di Indonesia. IPB Press.
Greenhaus, J. H., & Beutell, N. J. (1985). Sources of Conflict Between Work and Family Roles. Academy of Management Review.
Penulis: Naila Rosmeiyanti
Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest
