Menonton program Focus on Hong Kong Short Films di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025 terasa seperti membuka kumpulan catatan pribadi yang tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca ramai-ramai. Keempat film yang diputar pada Selasa (02/12) tidak hadir untuk menjelaskan Hong Kong secara gamblang. Mereka justru menghadirkan kota itu lewat ruang-ruang kecil: keluarga, rumah, kamar hotel, dapur, dan ingatan yang belum sepenuhnya pulih.
Sebagai penonton, saya tidak merasa sedang “diajak memahami” sebuah kota, melainkan diajak merasakan kondisi batin manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Film-film ini singkat, namun memberi jeda—ruang untuk menoleh ke dalam diri sendiri.
Keempat film dalam program ini hadir dengan pendekatan yang berbeda, namun sama-sama bergerak di wilayah yang intim dan personal. Berikut sinopsis beserta ulasan singkat masing-masing film yang diputar dalam program Focus on Hong Kong Short Films di JAFF 2025.
Al Niente
Disutradarai oleh Lo Lam
Sinopsis:
Usai keluar dari sekolah musik, Ling yang ceria kembali ke Hong Kong untuk merawat ayahnya yang menderita demensia dan mencoba memberinya terapi musik. Kakaknya, Munn, yang selama ini menjadi pengasuh dan penopang keluarga, tidak menyetujui usaha ini. Saat memainkan lagu piano yang dulu diajarkan sang ayah, Ling melihat secercah perubahan, harap kecil di tengah keputusasaan. Namun, rasa iri dan konflik yang terpendam akhirnya meledak, membuka kembali trauma keluarga lama. Akankah musik menyelamatkan mereka? Sebuah drama keluarga menyentuh yang dibintangi LAW Kar-ying, Kate Yeung, dan Rachel Leung.
Al Niente membuka program dengan drama keluarga yang terasa paling dekat secara emosional. Bagi saya, film ini bekerja pelan namun menghimpit, terutama lewat momen-momen kecil ketika ingatan sang ayah runtuh dan peran antar anggota keluarga menjadi kabur. Kekeliruan mengenali Ling bukan sekadar pemicu konflik, tetapi juga penanda rapuhnya identitas dan kasih sayang dalam keluarga. Lo Lam tidak menjejalkan emosi berlebihan; justru kesederhanaan itulah yang membuat film ini terasa menyentuh dan jujur.
In the Midst of the Ocean
Disutradarai oleh Stephenie Kay
Sinopsis:
Seorang fotografer mode muda yang menjadi penyendiri setelah kematian ibunya menyewakan sebuah kamar di rumahnya kepada seorang aktris muda yang sedang merintis karir. Kehadiran sang aktris secara tak terduga membangkitkan kembali kenangan lama tentang mendiang ibunya.
Film ini bergerak dengan ritme yang hening, nyaris tanpa gejolak. Menontonnya, saya merasa seperti memasuki rumah yang penuh kenangan, namun tidak pernah benar-benar dibicarakan. Stephenie Kay membiarkan kehilangan hadir lewat jarak, keheningan, dan kehadiran orang asing yang tidak dimaksudkan untuk menetap. In the Midst of the Ocean terasa seperti jeda napas di tengah program—sunyi, lembut, dan perlahan menyusup.
The Apple of My Eye
Disutradarai oleh Ivan Cheung

Sinopsis:
Di dalam sebuah kamar hotel, seorang gadis terbaring di samping gadis lain. Ia kemudian berjalan ke kamar mandi dan tampak berbicara dengan seseorang. Apakah ia sedang mengalami gangguan mental, atau ada konspirasi lain?
Sejak awal, The Apple of My Eye menempatkan saya dalam posisi tidak nyaman—dan film ini tampaknya memang menginginkan itu. Menghadirkan nuansa layaknya bergenre horror namun Ivan Cheung menolak memberi kepastian, membiarkan penonton terus bertanya tentang apa yang nyata dan apa yang hanya persepsi. Kamar hotel menjadi ruang ambigu: privat sekaligus asing. Ketika film berakhir, yang tertinggal bukan jawaban, melainkan kegelisahan yang justru membuatnya membekas.
Tomatoes are Poisonous
Disutradarai oleh Ivan Cheung

Sinopsis:
Kisah ini tentang tomat dan hasrat. Pada abad ke-17, tomat dianggap beracun di seluruh Eropa. Baru setelah seorang pelukis Prancis berani menantang maut, dunia akhirnya dapat merasakan kenikmatan tomat. Setelah dua belas jam penuh kecemasan dan ketakutan, sang pelukis tidak hanya selamat, tetapi juga menemukan kelezatan tomat yang membangkitkan selera makannya. Suatu malam, seorang wanita menyiapkan hidangan pasta dengan saus tomat merah yang menggugah, menanti dengan cemas dan penuh harapan kembalinya seorang pria.
Sebagai penutup program, film ini terasa paling alegoris dan reflektif. Bernuansa sinematik hitam putih dan membawa unsur “tomat” yang kita jumpai sehari-hari, menjadi metafora tentang hasrat, ketakutan, dan keberanian untuk mencicipi sesuatu yang selama ini dihindari. Saya membaca penantian sang perempuan sebagai bentuk kecemasan yang sangat manusiawi—tentang menunggu, berharap, dan bersiap menerima kemungkinan apa pun. Ivan Cheung menutup program dengan nada yang tenang, namun sarat makna.
Keempat film dalam Focus on Hong Kong Short Films tidak berusaha meninggalkan kesan besar. Mereka hadir sebagai fragmen—potongan perasaan, ingatan, dan situasi yang terasa akrab, namun sulit dijelaskan sepenuhnya. Hong Kong muncul bukan sebagai latar kota yang dominan, melainkan sebagai ruang batin yang dihuni oleh para karakternya.
Sebagai penonton, saya keluar setelah pemutaran ini dengan perasaan bahwa film-film pendek tersebut tidak meminta untuk dipahami secara utuh. Mereka hanya ingin dirasakan, lalu dibiarkan tinggal—pelan-pelan—di dalam kepala.
Baca Juga: Rhapsody dan Realisme: Menyusuri Dua Dunia Ann Hui di JAFF 2025
Referensi
- 20th JAFF Film Festival “Transfiguration” Festival Catalogue
- https://jaff-filmfest.org/al-niente/
- https://jaff-filmfest.org/%e5%9c%a8%e6%b5%b7%e4%b8%ad%e5%bf%83-in-the-midst-of-the-ocean/
- https://jaff-filmfest.org/the-apple-of-my-eye/
- https://jaff-filmfest.org/tomatoes-are-poisonous/
