Bertahan Demi Anak: Ketika Cinta Berubah Menjadi Penjara

Pernah tidak, kamu melihat seorang perempuan bertahan dalam sebuah hubungan yang jelas-jelas menyakitinya, lalu kamu bertanya dalam hati, kenapa ia tidak pergi saja? Aku pernah. Perempuan itu tinggal tidak jauh dari rumahku. Sebut saja ia Ratna.

Setiap pagi, Ratna bangun lebih awal dari siapa pun di rumahnya, menyiapkan sarapan, lalu berjualan kue untuk menambah penghasilan keluarga. Semua itu ia lakukan sendiri, termasuk menanggung satu rahasia yang sebenarnya sudah diketahui semua orang di sekitar kami, suaminya berselingkuh. Bukan sekali, bukan pula diam-diam. Tapi Ratna tetap di sana, tetap memasak, tetap melayani, dan tetap diam.

Aku sempat bertanya langsung padanya, kenapa ia bertahan. Jawabannya selalu satu, “Kasihan anak-anak.” Kalimat itu tidak diucapkan seperti alasan, tapi seperti mantra yang terus ia ulang agar dirinya sendiri percaya bahwa bertahan adalah pilihan yang benar.

Dan semakin sering aku mendengar cerita Ratna, semakin aku sadar bahwa ia bukan pengecualian. Ia adalah cerminan dari begitu banyak perempuan di sekitar kita yang terjebak dalam dilema yang sama, memilih anak di atas diri sendiri, bahkan ketika harga yang harus dibayar adalah seluruh kebahagiaan dan harga dirinya.

Kalau kamu perempuan dan pernah merasa harus bertahan demi orang lain sampai lupa caranya memikirkan diri sendiri, kamu tidak sendirian. Dan ini bukan kebetulan.

Ada pola yang sudah lama tertanam di masyarakat kita, mungkin tanpa banyak orang sadari. Sejak kecil, perempuan diajarkan bahwa tugasnya adalah menjaga keutuhan keluarga apa pun yang terjadi. Maka ketika sebuah rumah tangga retak, yang paling dulu disalahkan hampir selalu ibunya, istrinya, perempuannya. Bukan yang mengkhianati, tapi yang bertahan menanggung akibatnya.

Yang membuat situasi Ratna semakin berat, perselingkuhan suaminya tidak berhenti di situ. Suaminya pergi, lalu kembali, bukan untuk meminta maaf atau memperbaiki diri, melainkan untuk kembali menikmati kenyamanan rumah yang Ratna jaga sendirian. Ia kembali untuk dilayani, bukan untuk berubah. Dan Ratna menerimanya, karena dalam pikirannya, setidaknya anak-anak masih punya ayah yang pulang ke rumah.

Coba pikirkan sejenak, apa bedanya ini dengan eksploitasi? Bedanya cuma satu, ini terjadi di dalam rumah tangga, dibungkus kata pernikahan, sehingga tidak ada yang berani menamainya sebagai ketidakadilan.

Di sinilah aku melihat akar yang lebih dalam dari masalah ini, konstruksi sosial tentang “ibu yang baik”. Dalam banyak cerita yang kita warisi, dari dongeng, dari pelajaran agama, dari percakapan sehari-hari, ibu yang baik digambarkan sebagai ibu yang tidak pernah menyerah, yang sabar tanpa batas, yang rela berkorban apa pun demi keluarganya. Ketika seorang perempuan memilih pergi dari pernikahan yang menyakitinya, ia tidak hanya berhadapan dengan keputusan praktis. Ia berhadapan dengan seluruh sistem nilai yang tertanam dalam dirinya sejak kecil.

Ratna pernah berkata kepadaku, “Saya bukan tidak mau pergi. Saya hanya takut dibilang ibu yang egois.” Kalimat itu membuat aku terdiam. Di sana ada seorang perempuan yang tahu bahwa ia disakiti, yang tahu bahwa ia berhak atas kehidupan yang lebih baik, tapi tidak bisa bergerak, bukan karena tidak mampu, melainkan karena seluruh hidupnya ia diajarkan bahwa memilih dirinya sendiri adalah kesalahan.

Padahal, apa yang terbaik untuk anak bukanlah rumah yang utuh secara fisik namun penuh luka secara emosional. Anak-anak tidak butuh ayah dan ibu yang tinggal satu atap tapi saling menyakiti. Mereka butuh rasa aman, kehangatan, dan teladan bahwa dirinya layak diperlakukan dengan baik, sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh seorang ibu yang juga merasa layak atas dirinya sendiri.

Dari Ratna, aku jadi tahu satu hal ketidakadilan tidak selalu datang dengan cara yang keras dan kelihatan. Kadang ia hanya ada di sarapan yang tetap disiapkan untuk suami yang sudah tidak setia. Di senyum yang dipaksakan di depan anak-anak. Di air mata yang buru-buru dihapus karena takut dibilang lemah.

Dan selama kita terus percaya bahwa pengorbanan tanpa batas adalah tanda kemuliaan seorang ibu, cerita seperti Ratna akan terus berulang. Dari satu ibu, ke ibu yang lain.

Makanya, menurutku sudah saatnya kita ubah cara pandang soal ibu yang baik. Ibu yang baik bukan ibu yang tidak pernah pergi. Ibu yang baik adalah ibu yang cukup menghargai dirinya sendiri, sampai anaknya pun tahu bahwa mereka juga layak diperlakukan dengan hormat.

Perempuan berhak bahagia. Berhak memilih dirinya sendiri. Dan memilih diri sendiri bukan berarti meninggalkan anak. Kadang, justru itu cara paling jujur untuk mencintai mereka.

Referensi:

Buckley, H., & Whelan, S. (2013). Characteristics of domestic violence cases where children are on the child protection register. Child Abuse Review, 22(4), 228–240.

Bionarasi Penulis:

Fadilla Aulia merupakan mahasiswi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Padang. Ia memiliki perhatian terhadap isu kesetaraan gender dan hak-hak perempuan, serta percaya bahwa tulisan adalah cara paling sederhana untuk menyuarakan ketidakadilan yang selama ini dibungkam.

Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya