Bau Kesabaran di Wonorejo

Tidak semua bau ikut sirna terbawa angin. Ada yang menetap seperti ingatan yang tidak diberi tempat, yang kemudian tanggal di rongga  dada, menempel di baju, di rambut, di lidah.

Wonorejo. Ketika Surabaya baru menggeliat, menguapkan deru kendaraan dan klakson yang tidak sabaran, kampung ini sudah lebih dulu terbangun. Tungku siap sedia menghidupi bara sebelum matahari datang menyapa. Panci beradu pelan dengan suasana dapur semasa ibu menanak nasi sambil mendengarkan putra-putranya berebut kamar mandi.

Aku kembali setelah delapan tahun meninggalkannya. Delapan tahun sangatlah cukup bagi kota untuk bersolek ria. Gedung-gedung mulai menjamur, jalan dilebarkan, hingga papan reklame tetap bercahaya bahkan di siang hari. Tapi, Wonorejo tetap bertahan di tempatnya. di Ujung kota. Terjepit di antara sungai yang menua, tambak yang makin menyempit, dan sisa-sisa hijau yang dipertahankan  dengan keras kepala.

Setibanya langkahku, lumpur mangrove menyambutku. Bau itu tidak sepenuhnya busuk, tidak juga wangi.
“Kalau sudah mencium bau ini,” aroma itu mengingatkanku akan apa yang dikatakan Bapak ketika mengajakku keliling kampung, “berarti kamu pulang, Nak.”

Aku berhenti di warung Bu Sri, tepat di dekat pintu masuk Eco Wisata Mangrove Wonorejo.  Warung itu seperti foto lama yang menolak pudar meja kayu panjang, bangku plastik yang  warnanya tidak seragam, etalase kaca berisi gorengan yang selalu lebih cepat habis daripada  janji pembangunan.

“Lho… ini Raka, ya?” Bu Sri menyipitkan mata sembari meraba-raba ingatan tuanya.

“Iya, Bu.”

“Pulang juga akhirnya. Kirain sudah jadi orang kota, lupa kampung!”

Setelah beberapa kali tarik-ulur candaan, aku memesan kopi hitam dan lontong balap. Dari sudut warung, jalan menuju Kebun Bibit  Wonorejo nampak masih sepi. Dulu, tempat itu adalah dunia kecil kami, tempat kami menumbuhkan waktu dan menghabiskan masa kanak-kanak. 

“Wonorejo sekarang bagaimana, Bu?” tanyaku.

Bu Sri mengaduk kopi, sendoknya berbunyi pelan. “Masih Wonorejo,” katanya. “Tapi sabarnya sudah mau habis.”

Kalimat itu jatuh bersama asap kopi yang mengepul perlahan. Masalah di kampung ini tidak datang dengan suara keras. Ia tidak mengetuk pintu dan  menyelinap. Lewat bau. Lewat lalat. Lewat batuk yang mula-mula dianggap masuk angin.

***

Peternakan ayam itu berdiri di sisi kampung, dekat tambak yang dulu hijau. Awalnya tidak  ada yang curiga. Katanya gudang pakan. Katanya sementara. Katanya sudah izin.

Pak Hasan adalah orang pertama yang berkomdentar dengan suara beratnya yang jarang dinaikkan. Seorang bapak-bapak berkepala lima dengan tangan kasar berotot kawat hasil pekerjaannya yang serabutan.

“Raka,” katanya suatu sore ketika kami duduk di tepi sungai, “kalau bau sudah masuk rumah,  itu bukan usaha. Itu penjajahan.”

Aku tertawa kecil. Kata itu terdengar berlebihan. Tapi wajah Pak Hasan tidak ikut tertawa.

“Awalnya cuma malam,” lanjutnya. “Sekarang siang juga. Anak saya batuk terus. Istri saya  tidak bisa masak tanpa terbebas dari gangguan lalat yang mengerubungi.”

Kami diam. Sungai mengalir pelan membawa sampah kota yang tidak pernah mengaku darimana asalnya.

***

Ada satu orang di Wonorejo yang tidak pernah dianggap serius, tapi selalu tahu lebih dulu apa yang akan terjadi. Mbah Wiryo. Ia tinggal di rumah kecil dekat mangrove. Rambutnya putih kusut, pakaiannya selalu berlapis  meski panas. Ia berbicara dengan nada datar yang kerap kali mengharuskan kami untuk menebak isi perkataanya. Sebatas canda, atau wara-wara bencana?

“Bau itu tanda,” katanya padaku suatu pagi, sambil menatap pohon bakau. “Kalau alam sudah  bicara, manusia biasanya telat mendengar.”

Orang-orang menyebutnya aneh. Katanya terlalu sering ngomong sendiri. Tapi tiap ada banjir  rob, tiap ada kawanaan ikan mati mengapung, Mbah Wiryo selalu sudah tahu sehari sebelumnya.

“Wonorejo ini kuat,” katanya lagi. “Tapi kuat bukan berarti kebal.”

Wonorejo bukan kampung yang suka ribut. Orang-orang di sini terbiasa mengalah. Terbiasa  menunggu. Terbiasa percaya bahwa pemerintah tahu yang terbaik.

Tapi bau ini menguji batas kesabaran.

***

Rapat RT digelar di balai kecil dekat masjid. Kursi plastik berderit, kipas angin berputar  malas, suara nyamuk ikut menyimak jalannya rapat. Sekitar dua puluh orang hadir. Ibu-ibu, bapak-bapak, beberapa pemuda.

“Ini bukan soal menolak usaha,” kata Pak Hasan sambil berdiri. “Ini soal hidup kami!”

Seorang lelaki dari pihak peternakan duduk di pojok. Kemeja rapi, sepatu bersih. Wajahnya  tenang, teramat tenang.

“Kami sudah berusaha,” katanya. “Kami juga cari makan.”

“Semua orang cari makan,” sahut Bu Sri. “Tapi bukan dengan membuat orang lain muntah.”

Isi ruangan memanas. Tapi seperti biasa, rapat berakhir tanpa keputusan. Lagi-lagi, semua akan dibicarakan lagi. Akan dikoordinasikan. Akan disampaikan.

Di Wonorejo, kata akan sering berarti tidak sekarang.

Aku sering berjalan pagi ke mangrove. Di sana, kota terasa jauh. Pohon-pohon bakau menari menikmati hembusan angin dialuni kicauan burung-burung kecil yang hinggap tanpa peduli apa yang terjadi.

Sari duduk di dermaga kayu, kakinya menjuntai. Kelas lima SD. Rambutnya dikuncir dua. “Kak,” katanya, “kalau besar nanti Wonorejo masih ada, ya?”

Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada bau.

“Kenapa tanya begitu?”
“Katanya mau dibikin macam-macam. Kata Bapak, kampung kecil gampang hilang.” Aku ingin berbohong. Tapi aku tidak bisa.

Konflik memuncak ketika Pak Hasan jatuh sakit. Sesak napas, kata dokter. Istrinya menangis  di teras rumah, dikerubungi tetangga.

“Kalau dia kenapa-kenapa…” kata Bu Sri dengan mata merah, “…jangan harap kami diam!” Mbah Wiryo berdiri di ujung kerumunan, menunduk. “Sudah saya bilang…” gumamnya. “….bau itu bukan cuma bau.”

Warga mulai bergerak. Surat dibuat. Tanda tangan dikumpulkan. Mereka mendatangi  kelurahan, kecamatan, dinas. Jawaban selalu rapi. Selalu normatif.

“Sedang diproses.”
“Menunggu kajian.”
“Harap bersabar.”
Sabar lagi, sabar lagi!

Suatu malam, listrik desa padam. Bau lebih kuat dari biasanya. Lalat seperti hujan kecil. Pak Hasan berdiri di depan rumah peternakan. Sendirian. Aku menyusul. “Pak, pulang.”

“Tidak,” katanya. “Kalau kita terus pulang, masalahnya tidak pernah pergi.” Kami berdiri lama. Tidak ada teriakan. Tidak ada kekerasan. Hanya dua orang yang lelah.

Tekanan publik akhirnya datang. Media lokal menulis. Aparat datang melihat. Peternakan  diminta berhenti sementara.

Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada kemenangan. Hanya napas panjang. Di warung Bu Sri, aku duduk lagi. Kopi masih pahit. Lontong balap masih sama. “Raka,” kata Bu Sri, “kamu nulis, kan?”

“Iya.”
“Tolong tulis kami. Jangan biarkan kami hilang.”
Mbah Wiryo mengangguk pelan di sudut warung.
“Kalau tidak ditulis,” katanya, “kampung bisa lenyap tanpa jejak.”

Wonorejo bukan kampung yang sempurna. Tidak sekadar menyimpan mangrove, kebun  bibit, dan warung kecil, melainkan didalamnya terdapat kisah anak-anak dengan pertanyaan yang masih panjang serta orang-orang yang hanya ingin hidup tanpa harus berperang melawan bau.

Di ujung kota, kesabaran memang panjang.
Tapi bukan tanpa batas.
Wonorejo mengajarkanku satu hal:
bahwa kampung tidak pernah benar-benar kecil,
yang sering mengecil hanyalah perhatian.

Penulis: Khairiah El Marwiah
Editor: Zidansad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya