Bahaya Oversharing di Media Sosial: Saat Cerita Pribadi Menjadi Ancaman Privasi
Oversharing

Seringkali kita melihat orang membagikan cerita di media sosial. Tapi saat dibaca kita bisa secara mudah mengenali kepribadian bahkan privasi orang tersebut. Meskipun di era keterbukaan informasi berbagi cerita menjadi suatu hal yang wajar, tapi terkadang seseorang malah terlewat batas yang mengarah kepada oversharing dimana sebaiknya orang lain tidak boleh sampai mengetahuinya.

Memang berbagi dianggap sebagai bentuk ekspresi yang sehat. Media sosial yang semakin tumbuh memberi ruang yang luas untuk penggunanya berbagi, melihat, mendengarkan dan mengakui. Namun sayangnya, banyak yang tidak menyadari kalau mereka terlalu oversharing atau banyak berbagi informasi mulai dari emosi, lokasi, sampai konflik personal.

Sebenarnya, apakah setiap cerita baik suka dan duka dalam hidup kita layak untuk dijadikan konsumsi publik?

Oversharing di Media Sosial: Ketika Cerita Pribadi Tak Lagi Aman

Berbagi cerita memak tak ada salahnya, tetapi jika berlebihan sepatutnya selalu waspada. Oversharing menjadi istilah tepat untuk menggambarkan situasi ini. Oversharing merupakan keadaan dimana seseorang membagiakn informasi pribadi dengan cara yang berlebihan dan cenderung terbuka saat menggunakan media digital.

Mulai dari curhat atau bercerita masalah keluarga, membagikan lokasi secara real time kepada orang yang tak dikenal, bercerita buruk tentang pasangan yang sebenarnya menjadi privasi, atau hubungan yang toxic baik dalam lingkup keluarga atau pekerjaan. Semua hal menjadi bahan hangat untuk diceritakan.

Media sosial menjadi tempat favorit bagi mereka untuk berkeluh kesah. Batasan antara kondisi yang sebenarnya ranah privat ataupun ranah publik menjadi pandangan yang kabur. Cerita yang awalnya dibagikan untuk mendapatkan simpati dengan sesama pengguna malah dapat menjadi boomerang suatu saat nanti.

Ancaman Nyata dari Oversharing

Informasi yang sepatutnya orang lain tidak melihat meskipun hanya setitik tetapi diumbar seluas-luasnya dapat membuat manfaat bagi orang yang tak bertanggungjawab. Hilangnya privasi hanya memberi peluang tindak kejahatan digital semakin terbuka lebar. Tindakan kriminal terjadi bukan hanya adanya niat belaka, tetapi kesempatan yang terbuka menjadi pemicu utama.

Data-data yang seharusnya tidak terumbar oleh publik suatu waktu menjadi senjata yang mengancam. Berbagai resiko seperti manipulasi dan pemerasan bukan tidak mungkin menjadi rangkaian pengancam keamanan digital. 

Dampaknya tidak main-main, situasi emosional jangka panjang turut menjadi perhatian. Jika potensi kejahatan tersebut terjadi tentu sangat merugikan. Niat awal bercerita ingin menyelesaikan masalah tetapi malah menimbulkan potensi masalah baru.

Mengapa Kita Sering Tak Sadar Sudah Oversharing?

oversharing

Media sosial saat ini bukan lagi sebagai alat mencari dan mengikuti trend baru. Tetapi menjadi parameter baru unthk validasi sosial. Mencari engagement seperti likes, comment dan share menjadi cara untuk mendapatkan validasi sosial. Memang saat mendapatkan banyak perhatian dari teman online mulai dari ratusan notifikasi likes, comment hingga share yang muncul setiap menit terasa menyenangkan. Di sisi lain, rasa aman tercipta setelah berbagi cerita karena hanya beranggapan hanya teman atau followers yang dikenal yang dapat melihat.

Padahal, dunia digital punha lingkup yang sangat luas. Meskipun lingkup pertemanan divital hanya sebatas teman sekolah, kampus atau pekerjaan bercerita melebihi ranah privasi malah membuat kita harus ekstra waspada. Hanya dalam hitungan detik siapapun bisa membagikan, menyimpan dan yang paling bahaya adalah memanipulasi isi konten atau cerita yang dibagikan.

Dari situasi ini seharusnya kita bisa lebih sadar akan pentingnya edukasi privasi digital. Bukan karena seseorang berbagi cerita konfliknya dan banjir engangement bikin kita ikut jejak mereka. Berbagi konten atau cerita yang terlewat batas privasi malah bikin keterbukaan yang berlebihan.

Mari Refleksi: Saring dan Bijak sebelum Berbagi, Bukan Berhenti Berbagi

Meskipun bercerita di era keterbukaan dapat mendatangkan ancaman tetapi jika kita mengubah perspektif justru membawa hal positif. Media sosial bukan berarti musuh. Namun kita perlu sadar kalau tidak semua kejadian dan cerita harus dibagikan ke publik.

Ada cara untuk tetap jujur tanpa membocorkan segalanya. Boleh sekali untuk bercerita dan meminta pendapat orang lain, tetapi harus menyadari batasan. Di tengah dunia yang haus akan cerita, kita berhak memilah dan memilih mana yang layak dipublikasikan dan mana yang lebih baik disimpan untuk diri sendiri atau berbagi dengan orang terdekat.

Referensi:
Akhtar, H. (2020). Oversharing behavior in social media: A threat or opportunity? Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 25(2), 257–270.

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya