Antara Ego, Eko, dan Sistem: Konservatif Sekeras itu?

Pengelanaan Literasi Kelestarian Lingkungan

Kedalaman kajian sejatinya sudah sering dilakukan, kalian kenal Dandhy Dwi Laksono? Atau program Indonesia Biru di kanal youtube Watchdoc? Jika familiar dengan itu, mungkin perenungan secara mendalam atas apa yang diperbuat pihak otoritas dan koleganya dirasa berat sebelah secara humanis maupun ekologi.

Uraian berdasar data atau observasi lapangan yang dianalisis, sebagai penguat argumen-argumen mengenai ketimpangan industri yang dipaksakan tanpa pertimbangan horizon. Tim Indonesia biru yang mengelilingi wilayah Indonesia selama 1 tahun yang dimulai dari Januari sampai Desember 2015 mendatangi berbagai daerah yang terkena dampak atau bahkan memiliki solusi untuk menyelesaikan permasalahan kelestarian lingkungan dengan cara tradisional dan adat.

Film dokumenter Asimetris yang diunggah adalah sebuah gambaran penanaman Sawit yang masif di Borneo Kalimantan, yang mengakibatkan polusi udara dari hasil pembakaran lahan untuk membuka lahan Sawit. Land clearing yang besar membuat banyak penduduk sekitar terkena dispnea (sesak nafas). Kerugian sosial hasil dari pembukaan lahan sebuah bukti nyata masifnya konstruksi industri perkebunan Sawit.

Beranjak dari Kalimantan, daerah Timur masuk daftar terkena dampak Industri ketahanan pangan. Lewat judul Mahuzes Dandhy Laksono dan Suparta Arz menguraikan masyarakat Papua menahan hutan setempat sebagai pemasok bahan pokok makanan yang dialihkan fungsi sebagai lahan food estate.

Namun, alih fungsi hutan menjadi perkebunan Sawit dan sawah irigasi melalui program pemerintah Merauke Intergrated Food and Energy Estate (MIFEE) mengakibatkan masyarakat kehilangan hutan untuk mencari bahan makanan yang mereka konsumsi.

Di atas tanah seluas 1.2 juta ha yang dibangun untuk food estate adalah sebuah keganjilan bagi mereka, karena setiap daerah memiliki ciri khas dan keunikan sendiri terhadap konsumsi pangan yang tidak dapat diseragamkan.

Berbeda dengan program keseragaman pangan yang diusung oleh pemerintah. Salah satu daerah di Sukabumi punya siasat dalam produksi tanaman pangan untuk satu kampung. Perkampungan Cipta Gelar berpendapat, beras ibarat sebuah kehidupan, saking berharga kesakralan proses penanaman tetap dijaga sampai kini. Upacara ngaseuk (musim tanam) yang dilakukan 1 kali setahun dapat menghidupi 29.000 jiwa penduduk di kesepuhan Cipta Gelar.

Padi di dalam leuit (tempat menyimpan) tersimpan cukup untuk pesediaan 1-2 tahun dan terus ter replenishment setiap musim panen. Kiranya, film dokumenter Indonesia biru jadi representasi kerukunan manusia dan alam terjalin dengan erat tanpa ada perusakan yang menimbulkan pincang sebelah antara keduanya. Lalu bagaimana etika yang harus dibangun dalam menjaga rantai ketersalingan?

Menahan Ego Berlebih Untuk Rantai Ekologi

Indonesia sebagai negara agraria yang pernah diduduki oleh Belanda banyak menganut sistem dan mereplika konsep itu di zaman krisis lingkungan. Seiring berjalan waktu, replikalisasi keluar dari relevansi geografis Indonesia. Terlupakannya bagian etika lingkungan dalam sistem, menghilangkan prinsip transisi dan antroposentris manusia. Transisional sebuah perpindahan tergantungnya manusia dengan alam yang membutuhkan perangkat bantu agar bisa merasakan kebermanfaatan alam.

Dilain sisi, struktur ekologi yang mencatumkan bahwa manusia dianugrahi akal dan budi dalam mengolah rantai lingkungan biasa disebut sikap antroposentris. Namun, sangat disayangkan perangkat dan anugrah malah menyimpang dari jalan niscaya.

Ekspansi berlebih berhasil mencipta terputusnya rantai ketersalingan. Akal harus didahului dan dipergunakan sebagai pelacak hawa nafsu dapat dibawa ke arah positif tanpa menimbulkan ego. Nafsu seyogyanya sebagai pemacu kemajuan bukan peninggi keserakahan. Akal manusia mempunyai peran penting dalam verifikasi pertimbangan keputusan yang berhubungan dengan pemanfaataan alam tanpa merugikan satu sama lain. Dari rumit pendaluan akal yang disampaikan, langkah seperti apa untuk menciptakan akal dan ego yang selaras?

Inklusifitas Pengetahuan di Taraf Pendidikan

Penerapan akal sebagai verifikasi nafsu bisa dilakukan dengan inklusifitas pengetahuan humanis, tenologis, dan agamis. Dengan inklusifitas akdemisi yang tersedia di kurikulum dan sistem kolaborasi antar ilmu pengetahuan, dapat menciptakan kolaborasi efektif. Karena, sinkronisasi cabang ilmu tersebut membentuk pemahaman yang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang dan memiliki relevansi manusia menempati puncak pada struktur ekologi.

Konservatif Bukan Kecaman

Beredar pernyataan konservasi adalah sebuah bentuk ekstrem dalam kepedulian lingkungan. Sebab, eksplorasi dan konservasi alam adalah dua hal yang beriringan yang harus dijaga parameternya Untuk mencapai keselarasan antar dua komponen itu, perlu adanya nalar, self-control, dan analisis mendalam. Sehingga ekspansi atau eksplorasi tidak menuai gelombang protes akibat kerugian yang dialami pihak tertentu. Petimbanang keputusan mengharuskan pengamatan cermat dari segi sosial, ekonomi, teknologi, tradisi dan ekologi.

Baca Juga: Raja Ampat atau Raja Tambang? Ancaman Kerusakan Alam di Balik Keindahan Surga Bawah Laut

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya