Teknologi saat ini semakin dekat dalam bayang-bayang hidup. Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satunya. Chatbot dan Deepfake menjadi tanda masifnya perkembangan teknologi AI. Bayangkan, mulai dari cara kita mengatur waktu, bekerja, belajar bahkan untuk sekadar berpikir, ketergantungan terhadap AI sulit untuk dilepaskan.
Anak-anak, remaja hingga dewasa tidak luput dari ketergantungan teknologi. Terutama anak muda, generasi yang tumbuh dan berkembang bersama teknologi disebut-sebut sebagai generasi paling adaptif.
Tetapi di tengah gembar-gembor kemajuan, pertanyaan baru akan bermunculan, “Apakah kreativitas manusia masih punya tempat di tengah dunia yang semakin otomatis?”.
Era teknologi saat ini bukan lagi sebatas pesan dalam bentuk tulisan atau suara yang cepat terkirim secara online. Era Chatbot dan Deepfake memberi tantangan besar bagi anak muda untuk beradaptasi tetapi juga menjadi manusia yang tetap berpikir tanpa mengandalkan mesin.
Baca juga: Alfabet Makin Cuan Berkat AI, Cloud Melesat dan Iklan Makin Canggih!
Chatbot dan AI: Apakah Kreativitas Dapat Diambil Alih?

Chatbot merupakan inovasi baru di mana pengguna dapat mencari informasi secara lengkap, runtut dan cepat tanpa perlu mencari dari berbagai sumber. Munculnya Chatbot berbasis artificial intelligence membawa dampak dan manfaat yang sangat besar. Mulai dari menulis puisi, artikel bahkan skrip film dapat dengan mudah dibuat hanya dalam hitungan detik.
Namun, di tengah kemudahan yang sangat praktis muncul sebuah kekhawatiran baru. Anak muda yang dahulu menulis dengan inspirasi alami dari pikiran, kini harus bersaing dengan mesin yang bisa menulis hanya dalam hitungan detik.
Rasa tidak percaya diri terhadap diri sendiri seringkali menghantui. Pertanyaan bergeming dalam pikiran, “Kalau AI bisa menulis, berpikir kreatif secara cepat, buat apa saya belajar bidang ini”?. Kreativitas menjadi kata yang semakin diragukan di tengah hasil serba cepat atau hasil proses sendiri.
Deepfake: Karya Visual Membantu atau Membahayakan?

Deepfake merupakan sebuah teknologi terbaru yang bisa membuat wajah tertentu atau suara manusia. Seperti biasanya, inovasi baru selalu membawa dua sisi yang menarik untuk dibahas. Pada satu sisi, deepfake dapat membawa ruang baru bagi industri kreatif untuk maju lebih awal. Misalnya sebagai alat untuk membuat iklan dengan menampilkan influencer tertentu, konten parodi bahkan film panjang.
Tetapi, di sisi lain dapat membuka batas antara karya kreatif ciptaan sendiri dan kebohongan yang menjadikannya kabur. Karya visual yang dibuat tanpa murni melibatkan manusia di dalamnya, membawa polemik baru.
Tentu sangat berbanding terbalik dengan karya yang benar-benar memiliki sentuhan humanis dalam prosesnya. Kisah unik, cerita menarik saat proses pembuatan, debat karena perbedaan pendapat menjadi satu atau dua sisi yang menarik.
Berbagai karya visual yang muncul saat ini terkadang memunculkan keraguan. Ketika karya bukan lagi kenyataan, apakah kita dapat percaya dengan apa yang kita lihat?
Bagaimana Nasib Manusia di Tengah Gempuran Teknologi AI?

Perkembangan AI yang semakin hari semakin masif, mulai dari membuat artikel, video, desain artistik, logo bahkan sebuah lagu menjadi kemudahan sekaligus kekhawatiran akan peran dan kontribusi asli manusia.
Namun, sepertinya kita tidak perlu khawatir dan cemas. Meskipun mesin bisa membuat kaya secepat kilat, meniru bentuk asli tetapi belum tentu menangkap makna. Ada satu sisi yang sulit tersentuh oleh AI hingga saat ini. Pengalaman dan kreativitas manusia yang lahir dari kehidupan, emosi dan intuisi menjadi bentuk yang belum bisa diciptakan oleh mesin.
Di tengah maraknya Chatbot dan Deepfake, kita tidak boleh menghindari teknologi tersebut, tapi tetap menggunakannya tanpa kehilangan jati diri asli. Dunia memang sudah berubah dan kita tidak dapat menghindari kehadiran teknologi. Hidup berdampingan menjadi satu-satunya opsi terbaik untuk diambil. Bukan malah bersikap anti dan malas untuk menggunakannya.
Justru kehadiran AI seperti Chatbot, Deepfake memunculkan peran dan sentuhan manusia semakin terasa. Keunikan dan kreativitas manusia yang murni muncul dari pikiran, pengalaman dan intuisi menjadi sisi keunikan sendiri yang tidak dimiliki mesin. Kreativitas bukan sekedar hasil yang tercipta dalam hitungan detik. Tetapi proses, nilai, perasaan hingga usaha menjadi sisi menarik tanpa hasil instan.
Referensi:
Khusna, I. H., & Pangestuti, S. (2019). Deepfake, a new challenge for netizen. PROMEDIA (Public Relation dan Media Komunikasi), 5(2), 1–24. https://journal.uta45jakarta.ac.id/index.php/kom/article/view/2300/1365
Susanto, L. R. A. (2024). Potential for online‑based gender violence in the misuse of artificial intelligence technology for women in social media. Jurnal Netnografi Komunikasi, 2(2), 91–104. https://netnografiikom.org/index.php/netnografi/article/view/25 https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-laptop-16094046/
