Review Origin, Dan Brown: Bentrokan Agama dengan Sains [Spoiler Alert!]
Review Buku Dan Brown

“Secara historis, orang paling berbahaya di dunia adalah para fanatik pengikut Tuhan … terutama ketika tuhan-tuhan mereka terancam. Dan aku hendak melontarkan tombak menyala ke dalam sarang lebah.

— Prolog, hlm. 13

Origin: Sinopsis

Siapapun dirimu

Apa pun keyakinanmu

Semuanya akan berubah. 

Bilbao, Spanyol

Robert Langdon, profesor simbologi dan ikonologi agama Universitas Harvard, tiba di Museum Guggenheim yang super modern untuk menghadiri pengumuman besar tentang penemuan yang “akan mengubah wajah ilmu sains selamanya”. Pembawa acara malam itu adalah Edmond Kirsch, seorang miliuner dan futuris berusia empat puluh tahun.

Kirsch menjadi tokoh global yang mendunia berkat penemuan-penemuan teknologi tingkat tingginya yang mengagumkan, serta prediksi-prediksinya yang berani. Kirsch, yang juga merupakan salah satu mahasiswa Langdon di Harvard dua puluh tahun silam, dan sekarang dia akan mengungkap suatu terobosan yang mencengangkan … yang akan menjawab dua pertanyaan fundamental terkait eksistensi manusia. 

Acara yang telah diatur dengan amat cermat itu tiba-tiba mengalami kekacauan, Kirsch terbunuh. Terguncang dan menghadapi bahaya besar, Langdon terpaksa melarikan diri dari Bilbao bersama Ambra Vidal, sang direktur museum yang bekerja sama dengan Kirsch untuk menyelenggarakan acara itu. Keduanya bertolak ke Barcelona untuk mencari kata sandi teka-teki yang akan mengungkap penemuan sekaligus rahasia Kirsch. 

Menyusuri koridor-koridor gelap sejarah rahasia dan agama ekstrem, Langdon dan Vidal harus menghindari lawan yang sepertinya tahu segalanya, yang kemungkinan didukung oleh pihak Istana Kerajaan Spanyol … yang tidak akan berhenti untuk membungkam Kirsch. Di jejak yang ditandai dengan seni modern dan simbol-simbol misterius, Langdon dan Vidal mengungkap petunjuk yang pada akhirnya membawa mereka bertatap muka dengan penemuan mengejutkan Kirsch … dan kebenaran menakjubkan yang telah lama menghindari kita. 

Review Buku Origin: Mengandung Spoiler!

Tangga Sagrada Familia, yang menjadi sampul ikonik dalam buku Origin.
(Sumber: https://unsplash.com/photos/a-spiral-staircase-in-a-stone-building-QfT7bsz7tJA)

“Oke, kalau begitu, biarlah aku bertanya kepadamu: Apa dua pertanyaan fundamental yang diajukan umat manusia di sepanjang sejarah kita?”

Langdon merenungkannya. “Yah, pertanyaannya adalah: ‘Bagaimana semuanya ini bermula? Dari mana asal kita?’”

“Tepat sekali. Tetapi, pertanyaan kedua hanyalah pendukung pertanyaan pertama itu. Bukan ‘dari mana asal kita’ … melainkan ….”

“‘Kemana kita akan pergi?’”

— hlm. 64–65

Origin merupakan buku fiksi dalam serial Robert Langdon yang kelima yang kali ini mengambil latar utama di Spanyol. Sebelumnya, Brown telah menggunakan beberapa negara seperti Prancis, Vatikan, Italia, dan Amerika Serikat sebagai latar di serial Robert Langdon dari seri pertama sampai keempat. 

Disamping tokoh utama Robert Langdon, profesor dan dosen fiksi ikonologi dan simbologi Universitas Harvard, Origin lebih mengambil sudut pandang utama Edmond Kirsch, seorang filantropis miliarder, ilmuwan komputer, futuris, dan ateis yang ekstrimis. Sebelumnya, Kirsch merupakan mahasiswa Langdon di Harvard pada 20 tahun yang lalu. 

Sebelum membaca buku ini, penulis melakukan riset terlebih dahulu bahwa dengar-dengar buku ini cukup kontroversial. Memang Dan Brown selalu membuat buku-bukunya dipertentang oleh para ahli entah itu dari segi agama maupun sejarah, tetapi Origin membuat penulis begitu penasaran untuk tertarik membaca serta mengkajinya. 

Dilihat dari berbagai ulasan serta pendapat orang lain, bahwa Origin adalah fiksi yang dapat menimbulkan perpecahan kepercayaan. Bisa disebut ‘bentrokan’ antar umat beragama dengan ateisme. Edmond Kirsch mengakui bahwa manusia saat ini juga tengah mengalami evolusi, tetapi kali ini begitu cepat. Hal ini menjadi perdebatan sengit antara umat yang percaya bahwa manusia ada di tangan Tuhan dan Nabi Adam adalah manusia pertama yang diturunkan ke bumi dengan umat yang percaya bahwa Tuhan itu tidak ada dan manusia diciptakan dari sebuah teori evolusi. 

Origin diciptakan dalam berbagai point of view para tokoh, seperti dari Edmond Kirsch, Robert Langdon, Ambra Vidal, Uskup Valdespino, Laksamana Luis Ávila, Pangeran Julian, Monica Martin, dan lain-lain. 

Origin: Memamerkan Berbagai Destinasi Bersejarah Spanyol

La Sagrada Familia, Barcelona, Spanyol.
(Sumber: https://unsplash.com/photos/a-crowd-of-people-walking-in-front-of-a-castle-wlJTouPox_U)

Dan Brown menciptakan Origin begitu intens, detail, dan ambisius perihal sejarah La Piel de Toro. Membuat para pembaca kini mengetahui berbagai destinasi bersejarah Negeri Matador yang bahkan telah diakui oleh dunia. Tempat-tempat tersebut antara lain: 

  1. Perpustakaan Montserrat, Catalonia; tempat rahasia Kirsch untuk berkonsultasi dengan tiga pemuka agama (Uskup Valdespino, Syed al-Fadl, dan Rabbi Yehuda Köves) mengenai presentasi hasil penemuannya sebelum dipublikasikan di Museum Guggenheim, Bilbao. 
  1. Museum Guggenheim, Bilbao; museum seni modern dan kontemporer, lokasi diselenggarakannya presentasi hasil temuan Kirsch dan dimana Kirsch terbunuh oleh Laksamana Luis Avila. 
  1. Palacio Real, Madrid; kediaman Pangeran Julian, tunangan dari Ambra Vidal, bersama para agen Guardia Real yang siap sedia untuk menjaga sang calon raja Spanyol. 
  1. Casa Mila, Barcelona; La Pedrera (tambang batu), bangunan modern karya Antoni Gaudi yang paling tersohor dan sebagai apartemen sementara Kirsch selama dua tahun. 
  1. Sagrada Familia, Barcelona; Basilika Keluarga Suci, gereja yang saat ini masih dalam proses pembangunan yang dirancang Antoni Gaudi yang sebentar lagi akan menjadi gereja Katolik tertinggi di dunia. Gereja ikonik ini menjadi tempat utama ditemukannya kata-sandi untuk presentasi Edmond Kirsch mengenai hasil penemuannya yang berasal dari kitab The Four Zoas karya William Blake yang dipamerkan di ruang bawah tanah gereja. 
  1. Gereja Katolik Palmarian, Andalusia; merupakan gereja bagi penganut skismatik berasal dari El Palmar de Troya pada akhir 1970-an yang memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma. Mereka mengklaim sebagai penganut sejati Katolikisme. Palmarian memiliki hierarkinya sendiri termasuk paus serta serangkaian doktrin dan praktik yang unik. 

Di sini menjadi lokasi dimana Laksamana Luis Avila diundang oleh Marco, seorang terapis fisik yang juga menjadi korban serangan bom Gereja Katedral Sevilla yang menewaskan istri dan putra Laksamana Avila. Laksamana Avila bertemu dengan Paus Innocentius XIV, menjadi anggota gereja tersebut sebelum akhirnya menjalankan misi dari Sang Regent untuk membunuh Edmond Kirsch. 

  1. El Escorial, San Lorenzo de Escorial (dekat Madrid); kediaman tersembunyi Sang Raja Spanyol yang sedang sakit keras, menjadi salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Salah satu fitur utama dalam kediaman bersejarah ini yang menjadi sorotan di dalam cerita yaitu tempat pemakaman kerajaan, Pantheon of Kings. Pangeran Julian dikala usianya masih delapan tahun berkunjung ke tempat itu bersama Sang Raja. 
  1. Valle de Cuelgamuros, Sierra de Guadarrama (dekat Madrid); Valley of the Fallen, diumumkan sebagai “penebusan dosa nasional”—upaya untuk mendamaikan pihak yang menang dan yang kalah. Dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari 40.000 jiwa, korban kedua belah pihak dalam Perang Saudara Spanyol antara faksi Kiri (Republik) dan faksi Kanan (Nasionalis). Di sini juga adalah letak dimana Salib tertinggi di dunia berada. 

Dibangun pada 1940 di bawah perintah Jenderal Francisco Franco, seorang diktator Spanyol yang brutal menjunjung tinggi nasionalisme, otoritarianisme, militerisme, antiliberalisme, dan Katolikisme Nasional. Monumen itu hingga kini menuai kontroversi karena dibangun oleh tenaga kerja yang mencakup para narapidana dan tahanan politik yang menentang Franco. 

  1. Barcelona Supercomputing Center (BSC); sebelumnya merupakan sebuah gereja Katolik bernama Torre Girona Chapel yang menjadi ruang kerja utama Edmond Kirsch. Gereja itu kemudian disulap menjadi sebuah laboratorium komputer berteknologi tinggi. Kirsch telah menciptakan perangkat E-Wave, superkomputer yang kuat, yang terletak di dalam laboratorium tersebut. 

Origin: Karya Sastra sebagai Petunjuk Teka-Teki dan Perpicuan “Perang” Agama dan Sains

Di dalam Origin, Dan Brown menggunakan empat tokoh dunia sebagai rujukan yang mempengaruhi petunjuk presentasi kontroversial Edmond Kirsch yaitu Winston Churchill, Antoni Gaudi, Friedrich Nietzsche, dan William Blake. Ketiga tokoh tersebut diakui sebagai idola Kirsch, yang mana membuat Kirsch begitu bergairah serta terdorong akan menciptakan penemuan terbesarnya hingga akhirnya mampu dipublikasikan. 

  1. Winston Churchill

Salah satu tokoh yang terdapat dalam Origin adalah Winston, Artificial Intelligence canggih yang diciptakan Edmond Kirsch untuk berkomunikasi. Hal itu terinspirasi dari Winston Churchill, seorang politikus, perwira militer, dan penulis asal Britania Raya. 

Di dalam buku Origin juga terdapat salah satu kutipan dari Churchill yang dipajang di depan pintu ruang masuk lab komputer Kirsch yang terletak di Barcelona Supercomputing Center.

“Keberhasilan adalah kemampuan untuk maju dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan antusiasme.”

— Winston Churchill (hlm. 412) 

Kutipan tersebut merupakan salah satu kutipan favorit Kirsch. Winston mengklaim bahwa Kirsch berkata itu dengan tepat menggambarkan satu kemampuan terhebat dalam keteguhan komputer yang tak terbatas. 

  1. Antoni Gaudi 

Edmond Kirsch begitu mencintai segala karya Gaudi, seorang arsitek dan desainer Catalan asal Spanyol. Dijuluki sebagai bapak “arsitektur hidup” dan “desain biologis”, Gaudi telah merancang beberapa bangunan penting seperti Park Güell, Casa Mila, Casa Batllo, dan Sagrada Familia. 

Berdasarkan Origin, Kirsch menetap sementara di Spanyol dan tinggal di Casa Mila selama dua tahun. Kemudian ditemukannya petunjuk utama di Sagrada Familia dengan kitab The Four Zoas karya William Blake milik Kirsch sebagai acuannya. 

Kutipan dari Gaudi pun juga terdapat di dalam Origin. 

“Tidak ada yang diciptakan, karena semua lebih dulu tertulis di alam. 

Orisinalitas berarti kembali ke asal.”

— Antoni Gaudi (hlm. 270) 

  1. Friedrich Nietzsche 

Nietzsche adalah seorang filosof dan ateis kenamaan Jerman dari abad ke-19. Karya-karya terkenalnya seperti Thus Spoke Zarathustra (1883) dan Beyond Good and Evil (1886) menjadi acuan letak mengapa hasil penemuan Edmond Kirsch begitu meresahkan dan mengkhawatirkan para pemuka agama. 

“Tuhan telah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya.

Bagaimanakah kita menghibur diri kita, pembunuh dari segala pembunuh?”

— Nietzsche (hlm. 271)

Nietzsche tak hanya terkenal akan kritik tajamnya atas agama, tapi juga pemikiran-pemikirannya mengenai sains—terutama evolusi Darwin—yang dia yakini telah membawa umat manusia ke tepi jurang nihilisme, sebuah kesadaran bahwa kehidupan ini tidak bermakna, tidak punya tujuan yang lebih luhur, dan tidak memberikan bukti langsung akan adanya Tuhan. 

  1. William Blake 

Edmond Kirsch memiliki sebuah buku kompilasi karya dari William Blake, seorang pelukis dan penyair dari Inggris, berjudul The Complete Works of William Blake. Buku tersebut dipinjamkan oleh Sagrada Familia sebagai persyaratan donasi besar Kirsch untuk Basilika Keluarga Suci itu. Satu permintaan tambahan Kirsch adalah agar buku itu selalu dibuka pada halaman 163. Letak dimana kata-sandi untuk presentasi Kirsch ditemukan. 

Berdasarkan cerita, Kirsch mengatakan bahwa baris puisi favoritnya adalah ramalan yang diharapkannya akan terwujud, yang terdiri dari 47 huruf. 

The dark religions are departed & sweet science reigns.”

Agama-agama akan menghilang … dan sains akan berkuasa. Kalimat tersebut berada pada The Four Zoas, judul salah satu puisi profetik Blake yang paling terkenal—karya panjang yang terbagi menjadi sembilan “malam” atau bab. Tema puisi itu berpusat pada kematian agama konvensional dan dominasi sains yang tak terelakkan. 

Origin bukan hanya sebuah buku fiksi thriller ilmiah-religius dan penuh konspirasi teori khas Dan Brown, melainkan juga sebuah perjalanan intelektual dan visual melintasi lanskap Negeri Matador yang kaya budaya. Brown mengajak para pembaca merenungkan asal dan tujuan manusia, masa depan kehidupan manusia yang apakah akan mengalami evolusi berkelanjutan atau apakah manusia akan mengalami kepunahan. 

Tidak lupa Brown menyajikan fiksi selayaknya pembaca sedang berkunjung ke Spanyol. Deskripsi bangunan-bangunan yang mendetail membuat layaknya kita sebagai pembaca turut membayangkan betapa megahnya peninggalan bersejarah La Piel de Toro

“Kita harus rela membuang kehidupan yang telah kita rencanakan, demi memiliki kehidupan yang menanti kita.”

— Joseph Campbell 

Baca Juga: Review Buku Kairos, Jenny Erpenbeck: Kisah Cinta Politis Beda Usia di Balik Tembok Berlin [Spoiler Alert!]

Referensi

Brown, D. (2017). Origin. (I.D. Nimpoeno & R.A. Lasmana, Terj.). Yogyakarta: Bentang.

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya