Suatu sore di angkot, seorang ibu duduk di sebelah saya sambil menatap saya dari ujung rambut sampai sepatu. Tanpa basa-basi ia berkata, “Kok makin kurus sih, lagi sakit ya?” Saya tersenyum kikuk, menjawab seadanya, lalu menunduk dan diam sepanjang sisa perjalanan. Pertanyaan itu sederhana bagi yang mengucapkannya, mungkin hanya dianggap sebagai sapaan ramah ala orang Indonesia. Namun bagi saya, kalimat itu menempel lama, membuat saya mengecek cermin lebih sering dari biasanya pada hari-hari setelahnya.
Pengalaman semacam ini bukan kejadian langka. Tubuh perempuan, sejak dulu, sering diposisikan sebagai milik bersama: boleh dikomentari siapa saja, kapan saja, di mana saja. “Kok gendutan?”, “Kapan nikah?”, “Kok belum hamil juga?”, “Mukanya kusam, kurang tidur ya?” — kalimat-kalimat ini terasa ringan diucapkan, tetapi menumpuk menjadi beban yang berat ditanggung. Tidak sedikit perempuan yang akhirnya menyusun standar hidupnya bukan dari apa yang ia inginkan, melainkan dari apa yang tidak ingin lagi didengar orang lain.
Yang membuat fenomena ini sulit dilawan adalah kemasannya yang terlihat baik hati. Orang-orang yang berkomentar tentang tubuh perempuan jarang merasa sedang menyerang. Mereka mengira sedang berbasa-basi, menunjukkan perhatian, atau bahkan memberi nasihat. Seorang tante mungkin benar-benar khawatir ketika berkata “kok kurusan, makan dong yang banyak”. Seorang kolega mungkin merasa sedang memuji ketika berucap “sekarang langsingan ya, jadi makin cantik”. Niat baik ini justru yang membuat komentar tentang tubuh terus dilanggengkan: sulit menolaknya tanpa dicap sensitif atau tidak bisa menerima perhatian.
Padahal, di balik kepedulian yang dibungkus basa-basi itu, ada asumsi yang jarang dipertanyakan: bahwa tubuh perempuan adalah ranah publik yang sah untuk dinilai, diukur, dan dikomentari oleh siapa pun. Asumsi ini tidak muncul begitu saja. Ia dibentuk oleh budaya yang sejak kecil mengajarkan perempuan untuk selalu “tampil baik”, sementara nilai dirinya kerap diukur dari penampilan fisik ketimbang pemikiran, karya, atau kontribusinya. Saat standar itu menjadi tolok ukur sosial, wajar jika orang-orang merasa berhak menegur ketika seseorang dianggap “keluar jalur” dari standar tersebut, entah karena terlalu kurus, terlalu berisi, kulitnya kurang cerah, atau belum menikah di usia tertentu.
Saya pernah menanyakan kepada beberapa teman perempuan, apakah mereka pernah merasa terganggu dengan komentar semacam ini. Hampir semua menjawab pernah, namun jawaban berikutnya yang lebih menarik perhatian saya: mereka mengaku jarang menyuarakan rasa terganggu itu secara langsung. Sebagian khawatir dianggap berlebihan. Sebagian lain merasa tidak enak karena yang berkomentar adalah keluarga atau orang yang lebih tua. Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam: bukan hanya komentar itu sendiri yang melukai, tetapi juga budaya yang membuat perempuan merasa tidak punya hak untuk menolaknya.
Dampak dari komentar-komentar ini tidak selalu terlihat. Tidak ada luka fisik yang bisa difoto, tidak ada memar yang bisa diobati dengan plester. Namun dampaknya nyata dalam bentuk lain: kecemasan menjelang acara keluarga karena membayangkan pertanyaan tentang berat badan atau status pernikahan, kebiasaan membandingkan diri dengan standar kecantikan yang sempit, hingga relasi yang tidak sehat dengan makanan dan tubuh sendiri. Sejumlah riset di bidang psikologi sosial juga menunjukkan bahwa komentar negatif tentang tubuh, sekalipun disampaikan dengan nada bercanda, berkaitan dengan menurunnya rasa percaya diri dan meningkatnya risiko gangguan citra tubuh, terutama pada perempuan muda.
Pertanyaannya kemudian, apa yang bisa dilakukan? Saya tidak ingin menutup esai ini dengan seruan agar semua orang berhenti total berkomentar tentang penampilan satu sama lain, karena itu mustahil dan barangkali juga tidak perlu. Yang lebih realistis adalah mengajak kita semua, perempuan maupun laki-laki, untuk mulai mempertanyakan kebiasaan ini sebelum mengucapkannya. Apakah komentar ini benar-benar perlu? Apakah ini informasi yang diminta? Apakah ini akan membuat orang yang mendengarnya merasa lebih baik, atau justru semakin merasa diawasi?
Bagi perempuan yang menerima komentar semacam ini, saya juga belajar bahwa diam bukan satu-satunya pilihan. Kalimat sederhana seperti “aku nggak nyaman dibahas soal berat badan” atau “aku lebih suka ngobrol soal hal lain” bisa menjadi cara halus namun tegas untuk menggeser batas yang selama ini dianggap wajar. Mengubah kebiasaan sosial memang tidak terjadi dalam sehari, tetapi setiap kali seseorang berani menyebutkan ketidaknyamanannya, ruang itu sedikit demi sedikit menjadi lebih aman bagi perempuan lain yang datang setelahnya.
Saya membayangkan masa depan ketika obrolan tentang tubuh perempuan tidak lagi menjadi topik pembuka percakapan, ketika ibu di angkot tadi mungkin akan bertanya “lagi sibuk apa sekarang?” ketimbang “kok makin kurus?” Bukan karena kepeduliannya hilang, melainkan karena ia memilih cara lain untuk menunjukkannya, cara yang tidak menjadikan tubuh sebagai satu-satunya hal yang patut dibahas dari seorang perempuan. Tubuh boleh terlihat oleh siapa saja, tetapi penilaian terhadapnya seharusnya tetap menjadi milik perempuan itu sendiri.
Referensi
Fardouly, J., & Vartanian, L. R. (2016). Social media and body image concerns: Current research and future directions. Current Opinion in Psychology, 9, 1–6.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan. Diakses dari laman resmi Komnas Perempuan.
Rakhmani, I. (2021). Gender, media, and the politics of representation in Indonesia. Dalam kajian media dan gender kontemporer di Indonesia.
Bionarasi Singkat
Aprillya Neza adalah mahasiswi Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan yang gemar menulis tentang isu perempuan dan kesetaraan gender. Ia percaya bahwa tulisan bisa menjadi ruang aman untuk bersuara. Dapat dijumpai di Instagram @aprillya neza
Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest
