Kawan-kawan pasti senang mendengar humor? Hal itu tentu wajar. Tapi apakah setiap narasi dalam humor dapat dibenarkan hanya karena itu humor?
Sebagai orang yang juga gemar mendengar dan membuat humor, saya tertarik untuk menengok diskursus mengenai jenis humor yang sudah lama menjadi perdebatan publik: humor pemerkosaan (rape jokes).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, humor berarti tindak (perkataan) yang lucu, percakapan yang jenaka, hasil melucu, atau penggeli hati. Ketika kita melihat makna kamusnya, humor dipahami sebagai sesuatu yang bernilai positif sehingga setiap orang yang mempermasalahkan humor akan cenderung dianggap kaku dan tidak memiliki selera humor. Ya, itu lah yang terjadi dengan orang-orang yang mempermasalahkan humor pemerkosaan.
Sebelum melangkah lebih jauh, kita mesti mengerti bahwa humor pemerkosaan kerap dipahami sebagai bagian dari konteks sosial-politik yang lebih luas, yaitu budaya pemerkosaan yang menggambarkan pikiran kolektif kita mengenai pemerkosaan yang mencakup beragam praktik budaya termasuk “situasi ketika serangan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan umum diabaikan, diremehkan, dinormalisasi, atau dijadikan lelucon”.
Mengenai jenis humor ini, pandangan dominan mengatakan bahwa humor pemerkosaan bersifat netral, hanya humor, dan, oleh karena itu, mempermasalahkan hal ini adalah sesuatu yang berlebihan. Tidak jarang sebagian orang berkomentar, “Kalau perempuan diperkosa, ujung-ujungnya ia menikmati” ketika merespons kasus pemerkosaan dengan membungkusnya sebagai candaan. Belum lagi ketika, misalnya, Saipul Jamil, terpidana kasus pencabulan anak di bawah umur, mengatakan di sebuah konten video, “Bukan pencabulan, tapi penghisapan”.
Salah satu yang mendorong kuatnya humor pemerkosaan di ruang publik kita yakni kebiasaan yang kadung tidak dibenahi secara memadai. Daming Sunusi, hakim yang sedang menjadi ujian kelayakan sebagai hakim agung (fit and proper test), pernah mengatakan pada 2013 bahwa pemerkosa dan korbannya sama-sama menikmati kejadian itu. Hal itu membuktikan bahwa ruang publik kita terus memproduksi humor menjijikan macam ini, bahkan yang paling miris adalah ketika seorang pejabat publik mengatakan pernyataan itu secara terbuka.
Perempuan selalu berada dalam posisi serba salah untuk diam atau menegur ketika menjadi objek humor pemerkosaan atau menyaksikan humor itu berlangsung pada orang lain. Hal ini menyulitkan perempuan sebagai kelompok yang paling sering dihadapkan dengan jenis humor ini.
Mengingat humor pemerkosaan dapat eksis di media dan ruang publik kita, saya memulai tulisan ini dengan pertanyaan, “Bagaimana humor pemerkosaan dapat dipahami tidak secara netral?”
Sifat Politis dan Retoris Humor
Sangat bisa dipahami ketika orang mengatakan bahwa humor tidak memiliki pengaruh sosial-politik yang signifikan. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya respons yang menolak untuk menghubungkan antara humor dan dampak nyata humor pemerkosaan. Ketika terjadi perdebatan antara Jim Norton, seorang komedian Inggris, dan Lindy West, pembuat blog beraliran feminis, mengenai humor pemerkosaan yang dilontarkan Daniel Tosh, sebagian pihak menyangkal bahwa humor bukan agresi terselubung dan memiliki kekuatan. Padahal, tiap humor, termasuk humor pemerkosaan, memiliki fungsi mempengaruhi persepsi pendengar. Fungsi ini, dalam Raul Perez dan Viveca S. Greene (2016), terletak pada upayanya untuk menggerakkan pendengar dari mode serius ke mode humor.
Menariknya, fungsi retoris humor hanya salah satu fungsi yang menempati elemen pembentuk konsepsi humor. Tindakan komunikasi macam humor juga bersifat politis dalam arti bahwa humor memiliki kemampuan untuk menyatukan dan/atau memecah belar para penutur. Greenbaum dalam Raul Perez dan Viveca S. Greene (2026), mengungkapkan bahwa aksi komedi merupakan wacana retorika yang dirancang untuk meyakinkan penonton untuk melihat dunia melalui visi komedi mereka. Humor pemerkosaan cenderung mempertunjukkan kekuasaan dan ajakan kepada orang lain untuk menertawakan hal tersebut. Tidak jarang, jenis humor macam ini memperkuat peran gender dominan antara maskulinitas agresif dan femininitas yang harus tunduk.
Humor Pemerkosaan: Dampak dan Manifestasinya
Humor pemerkosaan, menurut Jyni Verma dalam Syifa Maulida (2024), terbilang sebagai tindakan yang merendahkan, melecehkan, dan seharusnya tidak dianggap menggelitik. Pengalaman serius dan traumatis korban pemerkosaan tidak patut dijadikan bahan humor. Syifa Maulida juga menilai bahwa candaan dengan nada menyalahkan kembali korban pemerkosaan dalam bentuk humor turut mendoring pelanggengan budaya pemerkosaan, yaitu suatu budaya yang memungkinkan publik menganggap wajar kekerasan seksual dalam keseharian.
Humor seksis, tempat humor pemerkosaan termasuk di dalamnya, mencerminkan dan memperkuat sistem gender yang membagi gender secara hitam putih, yakni hanya antara laki-laki dan perempuan. Bemiller dan Schneider dalam Perez dan Greene (2016) mengungkapkan, ketika humor pemerkosaan dilontarkan di ruang publik yang melibatkan perempuan, kita mesti menghidupkan empati kita mengenai dilema ganda yang dihadapi perempuan: menertawakan humor tersebut atau menyatakan kekecewaan atas isi lelucon tersebut. Jika ia tertawa, ia ikut bertanggung jawab atas penghinaan terhadap kelompoknya sendiri, sementara jika ia menolak tertawa, ia terluka dalam interaksi sosial. Bemiller dan Schneider juga menambahkan pandangannya mengenai dampak humor seksis. Jenis humor semacam ini akan memperkuat dan mewajarkan ketidaksetaraan gender dan sikap sosial-politik yang merendahkan perempuan.
Mengingat tidak sedikit manifestasi dari sistem gender yang memisahkan secara tajam laki-laki dan perempuan, humor seksis telah melembaga ke beragam institusi, salah satunya insitusi media. Walaupun tempat penelitian berfokus di Inggris dengan rentang waktu penelitian antara 2012 hingga 2017, temuan Sharon Lockyer dan Heather Savigny (2020) dalam artikelnya yang menganalisis wacana media mengenai humor pemerkosaan tetap relevan. Penelitian ini menemukan bahwa berbeda dari humor rasis atau homofobia yang tidak akan disalin ulang secara utuh di media, humor pemerkosaan menemui kenyataan yang berbeda. Humor pemerkosaan, dalam wacananya di media, masih sebagian besar dibingkai dengan cara yang memperkuat maskulinitas patriarki (kulit putih) dan relasi kekuasaan gender yang ada. Liputan berita tentang humor pemerkosaan, menurut penelitian ini, sedang melakukan pekerjaan ideologis mereka untuk memperkuat relasi kekuasaan berbasis gender, alih-alih menantang struktur hierarkis yang ada. Media bisa dapat berubah menjadi monster: memperkuat dan mewajarkan kekerasan seksual laki-laki terhadap perempuan.
Selain media, komedi sebagai aktivitas budaya juga turut mewajarkan humor pemerkosaan. Perez dan Greene menemukan bahwa pembingkaian dominan terhadap humor pemerkosaan memperkuat ideologi patriarki dan pasar bebas serta menyangkal dampak dunia nyata dari humor macam ini, terutama ketika komedia atau penonton membela humor tersebut sebagai hiburan yang tidak berbahaya. Ideologi patriarki bekerja dengan memperkuat struktur dominasi antara laki-laki dan perempuan yang tampak dari narasi merendahkan perempuan dalam humornya. Sementara itu, pasar bebas di sini merujuk pada keadaan bahwa semua humor semestinya diperbolehkan. Biarkan audiens yang memutuskan, alih-alih masyarakat.
Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan merefleksikan apa yang layak menjadi prinsip moral bagi kehidupan bersama kita. Jika kehidupan bersama diatur oleh prinsip serba-boleh yang, dalam hal ini, berada dalam bentuk memperbolehkan semua jenis humor, kita akan kehilangan pengetahuan yang memadai mengenai apa yang mendorong, memicu, dan/atau menyebabkan fenomena sosial-politik yang meminggirkan perempuan. Menimbang hal di atas, saya menganggap bahwa humor pemerkosaan selain memperkuat ideologi yang meminggirkan perempuan, cenderung menggambarkan kekeliruan kita membangun masyarakat yang berdasarkan prinsip kebaikan umum yang menuntut setiap orang diperlakukan secara adil, baik sebagai individu maupun kelompok sosial-politik.
Rujukan
BBC. (2013). Indonesia anger as judge jokes victims ‘enjoy rape’. Diakses pada 3 Juli 2026 dari bbc.com. https://www.bbc.com/news/world-asia-21039561
Haryadi, S. K. (2021). Sakdiyah Ma’ruf dan Bagaimana Melawan Candaan Seksis. Diakses pada 3 Juli 2026 dari magdalene.co. https://magdalene.co/story/sakdiyah-maruf-dan-bagaimana-melawan-candaan-seksis/
Lockyer S. dan Savigny, H. (2020). Rape jokes aren’t funny: the mainstreaming of rape jokes in contemporary newspaper discourse. Feminist Media Studies, 20(3), 434-449. https://doi.org/10.1080/14680777.2019.1577285
Maulida, S. (2024). Dear Gen Z, Kamu Enggak Tambah Keren Saat Lontarkan ‘Rape Jokes’. Diakses pada 3 Juli 2026 dari magdalene.co. https://magdalene.co/story/lelucon-ivan-gunawan-dan-saipul-jamil-rape-jokes/
Perez R. dan Greene, V. S. (2016). Debating rape jokes vs rape culture: framing and counter framing misogynistic comedy. SOCIAL SEMIOTICS, 26(3), 265-282. http://dx.doi.org/10.1080/10350330.2015.1134823
Bionarasi
Galih Ernowo Widianto, masih belajar soal kemanusiaan. Suka membaca dan menulis. Sedang menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa. Dapat dijumpai di Instagram @galih.ernowo.
Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest
