Pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengasuh anak, merawat anggota keluarga yang sakit, mengatur kebutuhan rumah tangga adalah fondasi yang menopang kehidupan semua orang di dalam rumah itu. Tanpa Perempuan atau ibu, rumah tidak akan berfungsi. Namun anehnya, pekerjaan yang begitu vital ini justru paling sering dianggap remeh, tidak dianggap sebagai kontribusi ekonomi, dan dibebankan secara sepihak kepada perempuan, khususnya ibu.
Seperti yang saya lihat, saya punya seorang tante lulusan yang sebenarnya cukup baik untuk bekerja sebagai pegawai. Namun, suaminya melarangnya bekerja di luar rumah. Sebagai gantinya, ia harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga sendirian dari pagi hingga malam seperti memasak, membersihkan rumah, mengurus anak-anak, tanpa ada bantuan sedikit pun dari suaminya.
Selain itu, suaminya adalah seorang kepala sekolah dasar, sosok yang sehari-hari dipercaya mendidik anak orang lain, tapi di rumahnya sendiri ia bahkan menolak sekadar mengantar atau menjemput anaknya. Lebih parah lagi, ia juga melarang anak-anaknya membantu pekerjaan rumah, sehingga seluruh beban itu hanya jatuh ke satu orang. Suatu hari, tante saya tidak tahan lagi dengan situasi seperti itu. Ia pergi dari rumah dan bermalam di sebuah masjid. Ketika ditanya mengapa ia melakukan itu, jawabannya sederhana “Saya lelah menanggung semua sendirian, sementara satu-satunya cara yang saya minta bantuan dari suami dan anak-anaknya justru dilarang”.
Kisah tante saya bukan kasus yang berdiri sendiri. Ia adalah cermin dari pola yang terjadi di banyak rumah tangga, di mana pekerjaan rumah dianggap sebagai kewajiban perempuan seorang diri, sementara laki-laki di rumah yang sama bebas dari tanggung jawab itu, bahkan ketika ia mampu dan punya waktu untuk membantu.
Hal seperti ini tidak terjadi begitu saja.
Dari kecil, banyak anak perempuan diajari membantu ibunya di dapur, sedangkan anak laki-laki dibiarkan bermain atau belajar hal lain. Lama kelamaan, pembagian ini menjadi semacam kewajaran bahawa perempuan memang “sudah seharusnya” mengurus rumah, sementara laki-laki cukup “membantu” sesekali, dan bantuan itu pun sering dianggap sebagai kebaikan hati, bukan tanggung jawab bersama. Cara berpikir seperti ini diwariskan dari generasi ke generasi, dipertegas oleh sinetron, iklan, bahkan nasihat-nasihat yang terdengar sepele seperti “perempuan itu harus pintar masak supaya nanti jadi istri yang baik.”
Akibatnya, banyak ibu menjalani dua pekerjaan sekaligus. Ada yang bekerja di luar rumah dari pagi hingga sore, kemudian pulang untuk langsung mengerjakan seluruh urusan domestik tanpa ada waktu istirahat. Ada pula yang memilih atau merasa tidak punya pilihan lain selain berhenti bekerja demi mengurus rumah tangga, namun tetap tidak dianggap setara dengan pekerjaan yang menghasilkan uang. Keduanya sama-sama melelahkan, dan keduanya sama-sama jarang diakui sebagai kerja yang bernilai.
Beban ini bukan hanya soal lelah fisik saja. Ada juga beban mental yang sering disebut sebagai “mental load”, yaitu keharusan untuk selalu mengingat dan merencanakan segala hal kecil dalam rumah tangga: kapan persediaan beras menipis, kapan anak harus imunisasi, kapan tagihan listrik jatuh tempo, apa menu makan malam besok. Pekerjaan berpikir ini biasanya tidak terlihat, tidak pernah masuk dalam daftar tugas yang dibagi rata, tapi terus berjalan di kepala seorang ibu, bahkan saat ia sedang melakukan hal lain.
Pada kasus tante saya, beban ini diperparah karena ia tidak pernah diberi kesempatan untuk melepaskan sebagian tugas itu kepada siapa pun, bahkan kepada anak-anaknya sendiri yang sebenarnya sudah cukup besar untuk membantu. Ketika satu orang dipaksa menanggung seluruh perencanaan dan pelaksanaan rumah tangga tanpa henti, yang terjadi bukan hanya kelelahan fisik, melainkan keletihan batin yang lama-lama tidak lagi bisa ditahan yang akhirnya membuat tante saya memilih pergi dari rumah, meski hanya untuk semalam.
Yang membuat situasi ini lebih rumit adalah bagaimana masyarakat sering menganggap mengasuh anak dan mengurus rumah sebagai bagian dari kewajiban perempuan, bukan sebagai tugas yang biasa dan seharusnya dibagi.
Ketika seorang ayah mengurus anak, ia sering mendapatkan pujian sebagai sosok yang “peduli”. Sedangkan ketika seorang ibu melakukan hal yang sama, itu dianggap biasa saja, bahkan dianggap kewajiban yang tidak perlu diapresiasi. Standar ganda semacam ini memperlihatkan bahwa masalah ini bukan pada siapa yang lebih mampu mengurus rumah, melainkan pada cara masyarakat memandang peran gender itu sendiri.
Dalam kasus yang saya lihat, standar ganda ini terlihat jelas. Suaminya, sebagai kepala sekolah, tentu dihormati di lingkungan kerjanya karena dianggap punya tanggung jawab dan wibawa dalam mendidik. Namun di rumahnya sendiri, tanggung jawab itu seakan menghilang begitu saja. Ia merasa tidak perlu terlibat dalam mengasuh anak-anaknya sendiri, bahkan melarang anak-anaknya untuk membantu ibu mereka, seolah pekerjaan rumah adalah hal yang harus sepenuhnya ditanggung satu orang saja. Tidak ada yang mempertanyakan posisinya sebagai kepala keluarga yang lepas tangan, karena masyarakat sudah terlalu lama menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar selama si istri “masih bisa mengerjakan semuanya.” Padahal kemampuan untuk terus bertahan bukan berarti seseorang tidak merasa terbebani.
Pembagian kerja domestik yang tidak setara juga punya konsekuensi nyata bagi kehidupan perempuan secara lebih luas. Waktu dan energi yang habis untuk mengurus rumah membuat banyak perempuan kesulitan mengembangkan karier, melanjutkan pendidikan, atau bahkan sekadar memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Pada akhirnya, ketimpangan yang terlihat sepele di dalam rumah ini ikut menyumbang pada ketimpangan yang lebih besar di ranah publik, termasuk dalam hal kesempatan kerja dan posisi kepemimpinan.
Ada bagian lain yang sering terlupakan dari persoalan ini, yaitu ketergantungan ekonomi yang muncul ketika seorang perempuan dilarang bekerja. Tante saya, misalnya, sebenarnya punya bekal pendidikan yang cukup untuk mandiri secara finansial. Namun karena dilarang bekerja oleh suaminya, ia menjadi sepenuhnya bergantung secara ekonomi kepada orang yang sama yang juga tidak mau membantu pekerjaan rumah.
Ketergantungan semacam ini membuat posisi tawar perempuan dalam rumah tangga menjadi sangat lemah. Ia tidak punya penghasilan sendiri untuk diandalkan jika suatu saat memutuskan pergi, tidak punya jaringan sosial di luar rumah yang bisa membantunya, dan pada akhirnya hanya punya sedikit pilihan selain terus bertahan, sampai titik di mana bertahan pun rasanya sudah tidak mungkin lagi, seperti malam ketika ia memilih tidur di masjid daripada di rumahnya sendiri.
Padahal, rumah tangga sejatinya adalah ruang bersama yang dihuni dan dimanfaatkan oleh semua anggota keluarga, sehingga sudah sepatutnya pengelolaannya pun menjadi tanggung jawab bersama. Pembagian tugas yang lebih adil tidak harus dimulai dari hal besar. Ia bisa dimulai dari percakapan sederhana di rumah tentang siapa mengerjakan apa, dari ayah yang mau belajar memasak bukan karena terpaksa, dari anak laki-laki yang diajari mencuci piring sama seperti anak perempuan, dan dari kebiasaan untuk berhenti menyebut keterlibatan laki-laki dalam urusan rumah sebagai “membantu”, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawabnya sendiri.
Mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung lama tentu tidak mudah, dan tidak bisa selesai hanya dengan satu generasi. Namun perubahan kecil di tingkat rumah tangga, jika dilakukan secara konsisten, lama-lama akan membentuk pemahaman baru tentang apa artinya menjadi keluarga. Ibu tidak seharusnya menjadi satu-satunya pihak yang menanggung keberlangsungan rumah tangga. Ia berhak untuk beristirahat, berkembang, dan dihargai bukan hanya karena telah “mengabdi”, tetapi karena pekerjaan yang ia lakukan memang benar-benar pekerjaan yang sudah sepantasnya dibagi rata.
Saya masih ingat bagaimana keluarga akhirnya mempertemukan tante saya dengan suaminya setelah malam itu, dan bagaimana semua orang lebih banyak membahas soal “mengapa ia pergi tanpa pamit” daripada “mengapa ia sampai merasa harus pergi.” Pertanyaan yang kedua jauh lebih penting, tetapi justru paling sering dihindari. Kita cenderung lebih cepat menyalahkan perempuan yang akhirnya menyerah, daripada mempertanyakan sistem yang membuatnya sampai pada titik itu. Padahal, jika dari awal tugas rumah tangga dipandang sebagai tanggung jawab bersama, mungkin tidak akan ada satu titik jenuh yang harus dibayar dengan semalaman tidur di masjid.
Daftar Pustaka
Hochschild, A. R., & Machung, A. (2012). The Second Shift: Working Families and the Revolution at Home. Penguin Books.
Komnas Perempuan. (2021). Catatan Tahunan tentang Kekerasan terhadap Perempuan dan Beban Kerja Domestik. Jakarta: Komnas Perempuan.
Daminger, A. (2019). “The Cognitive Dimension of Household Labor.” American Sociological Review, 84(4), 609–633.
Penulis: Ifna Suhaimah, mahasiswi S1 diUniversitas Negeri Padang, Fakultas Ilmu Sosial dengan Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Perempuan kelahiran 2006 adalah seseorang yang tumbuh melihat orang sekitarnya mengerjakan hampir seluruh urusan rumah tangga sendirian, dan kini tertarik menulis tentang ketimpangan peran gender dalam kehidupan sehari-hari. Ia percaya bahwa perubahan besar sering dimulai dari percakapan kecil di rumah.
Editor: Hamimie
