Kampus sering disebut sebagai ruang paling demokratis. Tempat di mana latar belakang, kelas sosial, dan jenis kelamin seharusnya tidak lagi menentukan siapa yang layak mengerjakan apa. Namun, jika kita mau sedikit lebih jeli melihat ke sekeliling, kita akan menemukan bahwa asumsi-asumsi lama tentang gender ternyata belum sepenuhnya pergi. Ia masih bersembunyi dalam hal-hal yang dianggap biasa termasuk dalam pembagian kerja orang-orang yang setiap hari menjaga kebersihan kampus kita.
Di kampus tempat saya belajar, ada sesuatu yang menarik perhatian saya dari keseharian yang berlangsung begitu saja tanpa banyak dipertanyakan. Para petugas kebersihan baik laki-laki maupun perempuan menjalankan tugas mereka dengan tekun. Namun, jika diperhatikan lebih cermat, terdapat pola yang konsisten: petugas laki-laki mengerjakan bagian luar gedung seperti menyapu taman, merapikan pohon, dan mengangkut sampah, sementara petugas perempuan mengerjakan bagian dalam gedung menyapu lantai, mengepel, dan membersihkan toilet.
Pada pandangan pertama, mungkin ini tampak seperti pembagian kerja yang logis atau efisien. Tapi pertanyaannya adalah: logis berdasarkan apa? Efisien untuk siapa? Apakah ada alasan teknis yang membuat perempuan lebih cocok membersihkan lantai dalam ruangan, dan laki-laki lebih cocok menyapu halaman? Atau ini hanyalah cerminan dari asumsi lama yang sudah kita normalisasi begitu dalam sehingga kita tidak lagi mempertanyakannya?
Stereotip gender adalah keyakinan yang sudah mengakar tentang bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya bersikap, bekerja, dan berperan. Dalam konteks pekerjaan, stereotip ini sering kali mengasosiasikan perempuan dengan pekerjaan domestik membersihkan, merawat, mengurus dan laki-laki dengan pekerjaan yang dianggap lebih “berat” atau berhubungan dengan ruang publik. Pola yang terjadi di kampus saya adalah bentuk nyata dari stereotip tersebut.
Yang membuatnya lebih rumit adalah bahwa stereotip ini tidak selalu datang dari kebijakan yang tertulis atau niat yang disengaja. Ia lebih sering hadir sebagai kebiasaan yang diturunkan “memang sudah begitu dari dulu” dan diterima begitu saja tanpa pertanyaan. Padahal, kebiasaan yang tidak dipertanyakan adalah tempat di mana ketidakadilan paling mudah bersembunyi.
Seseorang mungkin berargumen: “Toh mereka tetap bekerja dan mendapat upah yang sama.” Tapi persoalannya bukan hanya soal upah. Ketika sebuah institusi apalagi institusi pendidikan secara sistematis menempatkan perempuan dalam pekerjaan yang dikaitkan dengan ruang privat dan domestik, ia sedang mengirimkan pesan, baik disadari atau tidak: bahwa ada pekerjaan yang “lebih cocok” untuk perempuan, dan ada yang “lebih cocok” untuk laki-laki.
Pesan semacam ini, meskipun tampak kecil, memiliki dampak kumulatif. Bagi mahasiswa yang setiap hari melihat pola ini, ia dapat memperkuat keyakinan bahwa pembagian peran berdasarkan gender adalah hal yang wajar dan alamiah. Kampus yang semestinya menjadi ruang untuk menantang nilai-nilai yang usang, justru secara tidak langsung mereproduksi nilai-nilai tersebut.
Banyak kampus kini ramai membicarakan kesetaraan gender dalam seminar, dalam kebijakan tertulis, dalam kurikulum. Namun kesetaraan gender bukan hanya soal apa yang kita ucapkan atau tuliskan. Ia juga soal bagaimana kita mengorganisasi kehidupan sehari-hari di institusi kita. Kesetaraan yang hanya hadir di atas kertas, sementara praktik di lapangan masih mereproduksi stereotip lama, adalah kesetaraan yang belum selesai.
Langkah konkret yang bisa diambil sebenarnya tidak selalu rumit. Misalnya, pembagian tugas petugas kebersihan dapat dilakukan secara rotasi tanpa mempertimbangkan jenis kelamin sebagai faktor penentu. Siapa pun laki-laki maupun perempuan dapat mengerjakan tugas di dalam maupun di luar gedung. Kemampuan dan kemauan, bukan gender, yang seharusnya menjadi dasar penugasan.
Perubahan besar selalu dimulai dari perhatian terhadap hal-hal kecil. Stereotip gender di kampus bukan hanya soal petugas kebersihan ia juga hadir dalam siapa yang dipilih menjadi ketua kelompok, dalam asumsi tentang siapa yang “lebih cocok” mengambil jurusan tertentu, dalam cara kita bereaksi ketika perempuan berbicara tegas atau laki-laki mengakui kelemahan. Semua itu adalah bagian dari satu sistem yang sama.
Kesadaran adalah langkah pertama. Ketika kita mulai mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita anggap “sudah begitu adanya”, kita sedang membuka ruang untuk perubahan. Dan perubahan itu bisa dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan kita termasuk kampus tempat kita belajar setiap harinya.
Penulis: Nadienza Darwin merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang. Ia memiliki ketertarikan pada isu-isu keadilan sosial, kesetaraan gender, dan pendidikan nilai dalam kehidupan bermasyarakat. Artikel ini ditulis berdasarkan pengamatan terhadap dinamika kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus sebagai bentuk refleksi atas pentingnya membangun kesadaran akan kesetaraan gender.
Editor: Hamimie
