Pendahuluan
Kesetaraan gender merupakan salah satu isu yang terus diperjuangkan dalam berbagai aspek kehidupan. Saat ini perempuan memiliki kesempatan yang semakin luas untuk memperoleh pendidikan tinggi, berkarier, dan berpartisipasi dalam berbagai bidang pekerjaan. Perubahan tersebut menunjukkan adanya kemajuan dalam upaya mewujudkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Namun, di balik kemajuan tersebut, masih terdapat berbagai bentuk ketidakadilan gender yang sering kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh masyarakat.
Salah satu bentuk ketidakadilan gender yang masih banyak ditemukan adalah beban ganda yang dialami oleh perempuan pekerja. Perempuan yang telah berpartisipasi dalam dunia kerja sering kali tetap dibebani tanggung jawab utama dalam mengurus rumah tangga. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesempatan yang semakin terbuka bagi perempuan untuk bekerja belum sepenuhnya diikuti oleh perubahan dalam pembagian peran domestik di dalam keluarga. Fenomena tersebut menarik untuk dikaji karena mencerminkan bagaimana konstruksi sosial mengenai peran gender masih memengaruhi kehidupan masyarakat hingga saat ini.
Deskripsi Fenomena
Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering menjumpai perempuan yang bekerja di luar rumah tetapi tetap menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap pekerjaan domestik. Mereka harus bangun lebih awal untuk menyiapkan kebutuhan keluarga, bekerja sepanjang hari, kemudian melanjutkan aktivitas rumah tangga setelah pulang bekerja. Tidak jarang perempuan juga menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam mengasuh anak, mendampingi proses belajar anak, serta memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi.
Di sisi lain, ketika seorang laki-laki membantu pekerjaan rumah tangga, tindakan tersebut sering kali dipandang sebagai bentuk bantuan atau kepedulian. Sebaliknya, apabila pekerjaan rumah tangga tidak terselesaikan dengan baik, perempuan lebih sering
menjadi pihak yang disalahkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga.
Jika dicermati lebih lanjut, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketimpangan dalam pembagian tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Meskipun perempuan telah berkontribusi dalam sektor publik melalui pekerjaan yang mereka lakukan, tanggung jawab domestik masih dilekatkan hampir sepenuhnya kepada mereka. Oleh karena itu, fenomena ini dapat dipahami sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender yang masih terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Identifikasi Bentuk Ketidakadilan Gender
Berdasarkan fenomena tersebut, terdapat beberapa bentuk ketidakadilan gender yang dapat diidentifikasi. Bentuk yang paling terlihat adalah beban ganda (double burden), yaitu kondisi ketika perempuan harus menjalankan peran sebagai pekerja di sektor publik sekaligus sebagai penanggung jawab utama pekerjaan domestik. Utami dan Mukdin (2025) menjelaskan bahwa perempuan pekerja masih menghadapi tuntutan untuk menjalankan peran publik dan domestik secara bersamaan sehingga mereka memiliki beban kerja yang lebih besar dibandingkan laki-laki.
Selain beban ganda, fenomena tersebut juga menunjukkan adanya subordinasi terhadap perempuan. Dalam banyak keluarga, pekerjaan rumah tangga masih dipandang sebagai tanggung jawab utama perempuan, sedangkan keterlibatan laki-laki sering dianggap sebagai bantuan. Khodijah dan Yuliana (2025) menjelaskan bahwa konstruksi patriarki menempatkan perempuan pada posisi yang lebih dekat dengan ranah domestik sehingga pembagian peran dalam keluarga menjadi tidak seimbang.
Di samping itu, fenomena ini juga tidak terlepas dari stereotip gender yang berkembang di masyarakat. Perempuan sering dianggap lebih cocok mengurus rumah dan anak, sedangkan laki-laki diposisikan sebagai pencari nafkah utama. Stereotip tersebut menyebabkan pembagian tugas dalam keluarga tidak didasarkan pada kesepakatan atau kemampuan masing-masing individu, melainkan berdasarkan anggapan sosial yang telah mengakar dalam masyarakat.
Dengan demikian, fenomena beban ganda perempuan tidak hanya berkaitan dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan perempuan, tetapi juga menunjukkan adanya subordinasi dan stereotip gender yang masih bertahan dalam kehidupan sosial.
Analisis Faktor Penyebab
Berbagai bentuk ketidakadilan gender tersebut tentu tidak muncul begitu saja. Salah satu faktor utama yang menyebabkan munculnya beban ganda perempuan adalah budaya patriarki yang masih kuat dalam masyarakat. Budaya patriarki menempatkan laki-laki sebagai pihak yang dominan, sedangkan perempuan lebih sering dikaitkan dengan peran domestik. Utami dan Mukdin (2025) menjelaskan bahwa budaya patriarki berperan dalam mempertahankan anggapan bahwa pekerjaan rumah tangga merupakan tanggung jawab perempuan meskipun mereka juga bekerja di luar rumah.
Selain budaya patriarki, konstruksi sosial gender juga berkontribusi dalam mempertahankan kondisi tersebut. Sejak kecil, anak perempuan dan anak laki-laki sering memperoleh perlakuan yang berbeda. Anak perempuan lebih sering diajarkan untuk membantu pekerjaan rumah tangga, sedangkan anak laki-laki tidak selalu mendapatkan tuntutan yang sama. Akibatnya, masyarakat tumbuh dengan keyakinan bahwa pekerjaan domestik merupakan tugas perempuan. Pandangan tersebut kemudian terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah meningkatnya kebutuhan ekonomi keluarga. Saat ini banyak perempuan yang memilih bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia kerja tidak selalu diikuti oleh perubahan pola pikir mengenai pembagian tugas di rumah. Masna (2025) menjelaskan bahwa perempuan pekerja sering kali harus menjalankan pekerjaan produktif dan pekerjaan domestik secara bersamaan sehingga mereka menghadapi tekanan yang lebih besar dibandingkan laki-laki.
Jika dianalisis menggunakan perspektif feminisme sosialis, fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan budaya patriarki, tetapi juga dengan sistem sosial dan ekonomi yang memanfaatkan tenaga perempuan dalam dua ranah sekaligus. Perempuan didorong untuk aktif dalam dunia kerja dan berkontribusi terhadap perekonomian keluarga, tetapi pada saat yang sama tetap dibebani tanggung jawab utama dalam pekerjaan domestik.
Sundari, Mandasini, dan Nastiti (2026) menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan adanya relasi kuasa yang menyebabkan perempuan mengalami beban kerja yang lebih besar karena harus memenuhi tuntutan di sektor publik maupun domestik.
Dengan demikian, beban ganda yang dialami perempuan bukan hanya persoalan individu atau keluarga semata, melainkan persoalan sosial yang berkaitan dengan budaya, konstruksi gender, dan sistem yang berkembang dalam masyarakat.
Refleksi Kritis
Berdasarkan fenomena dan berbagai kajian yang telah dipaparkan, saya memandang bahwa beban ganda perempuan merupakan salah satu bukti bahwa kesetaraan gender belum sepenuhnya terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun perempuan telah memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk berpendidikan dan bekerja, masih terdapat ekspektasi sosial yang menempatkan mereka sebagai penanggung jawab utama rumah tangga.
Dalam lingkungan sekitar saya, kondisi tersebut sering kali dianggap sebagai hal yang biasa sehingga jarang dipertanyakan. Padahal, jika dicermati lebih dalam, beban ganda dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi perempuan, baik secara fisik maupun psikologis. Perempuan berisiko mengalami kelelahan, stres, serta memiliki waktu yang lebih terbatas untuk mengembangkan potensi dirinya. Situasi ini menunjukkan bahwa ketidakadilan gender tidak selalu muncul dalam bentuk diskriminasi yang terlihat jelas, tetapi juga dapat hadir melalui pembagian peran yang dianggap normal oleh masyarakat.
Menurut pandangan saya, pekerjaan rumah tangga seharusnya menjadi tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga. Pembagian tugas perlu didasarkan pada kesepakatan, kemampuan, dan kondisi masing-masing individu, bukan semata-mata berdasarkan jenis kelamin. Oleh karena itu, perubahan pola pikir mengenai peran gender perlu dimulai dari lingkungan keluarga melalui pendidikan yang menanamkan nilai kesetaraan sejak dini.
Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut dapat diketahui bahwa fenomena beban ganda perempuan pekerja merupakan salah satu bentuk ketidakadilan gender yang masih banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ketidakadilan tersebut terlihat melalui adanya beban ganda, subordinasi, dan stereotip gender yang menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama pekerjaan domestik meskipun mereka juga berpartisipasi dalam dunia kerja.
Fenomena tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti budaya patriarki, konstruksi sosial gender, dan tuntutan ekonomi. Jika dianalisis menggunakan perspektif feminisme sosialis, beban ganda perempuan tidak hanya merupakan persoalan individu, tetapi juga berkaitan dengan struktur sosial yang masih melanggengkan ketimpangan gender. Oleh karena itu, diperlukan perubahan pola pikir dan pembagian peran yang lebih setara agar tercipta kehidupan yang lebih adil bagi perempuan maupun laki-laki.
Daftar Pustaka
Huda, K., & Renggani, L. A. (2021). Perempuan kapuk dalam ekspektasi budaya patriarki: Sebuah analisis beban ganda gender. Kafa’ah: Journal of Gender Studies, 11(2).
Khodijah, D. N., & Yuliana, N. (2025). Konstruksi patriarki dalam pembagian peran gender dan beban ganda perempuan dalam komunikasi sosial. Brand Communication, 5(1).
Maghfiro, R. A., & Sadewo. (2025). Pengalaman perempuan dalam menghadapi budaya patriarki. Paradigma, 14(1), 121–130.
Masna. (2025). Kapitalisme dan patriarki: Perbandingan beban ganda perempuan pekerja formal dan informal Kota Magelang. Jurnal Studi Gender dan Anak, 12(2).
Nazhifah, S. N., Fatmariza, F., Montessori, M., & Dewi, S. F. (2025). Rekonstruksi gender: Upaya perempuan melakukan transformasi terhadap patriarki. Journal of Education, Cultural and Politics, 5(1), 107–115.
Utami, M. A. F., & Mukdin, K. (2025). Beban ganda perempuan dalam cengkeraman budaya patriarki. Takammul: Jurnal Studi Gender dan Islam Serta Perlindungan Anak, 14(2), 13–27.
Penulis: Nanda Zilviana Zulfa
Editor: Hamimie
