Saya masih ingat ketika pertama kali ingin mengikuti kegiatan pendakian. Saat itu saya sangat antusias karena sejak lama saya menyukai alam terbuka. Saya sudah mencari informasi tentang jalur pendakian, menyiapkan perlengkapan, bahkan mulai berlatih fisik agar lebih siap. Namun, semangat itu langsung berubah ketika saya mendengar komentar yang sampai sekarang masih saya ingat: “Kamu perempuan, nanti malah jadi beban.” Kalimat itu bukan datang dari orang yang membenci saya. Justru sebaliknya, kalimat itu disampaikan oleh orang-orang terdekat yang mengaku khawatir dan peduli terhadap saya. Karena itulah saya merasa bingung. Di satu sisi saya tahu mereka menyayangi saya, tetapi di sisi lain saya merasa kemampuan saya dinilai hanya berdasarkan jenis kelamin.
Saat mendengar ucapan tersebut, saya mulai mempertanyakan diri sendiri. Apakah benar saya tidak cukup kuat? Apakah perempuan memang tidak cocok melakukan kegiatan yang menuntut fisik seperti mendaki gunung? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat membuat saya ragu untuk melangkah. Seiring waktu, saya menyadari bahwa anggapan tersebut tidak hanya saya alami sendiri. Banyak perempuan sering dianggap lebih lemah, lebih rentan, dan lebih membutuhkan bantuan dibandingkan laki-laki. Dalam berbagai situasi, perempuan sering diasumsikan akan menjadi pihak yang merepotkan atau memperlambat kelompok. Padahal kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya, melainkan oleh kesiapan, pengalaman, latihan, dan kemauan untuk belajar.
Pengalaman saya di alam terbuka justru menunjukkan hal yang berbeda. Saya bertemu banyak perempuan yang mampu membawa perlengkapan sendiri, bertahan dalam cuaca yang sulit, dan menyelesaikan perjalanan dengan baik. Bahkan beberapa di antaranya memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dibandingkan sebagian laki-laki yang saya temui. Dari situ saya belajar bahwa stereotip sering kali membuat kita melihat seseorang sebelum benar-benar mengenalnya.
Hal yang menurut saya paling sulit adalah ketika pembatasan terhadap perempuan dibungkus dengan alasan perhatian. Kalimat seperti “Kami hanya khawatir” atau “Kami hanya ingin melindungi kamu” sering terdengar wajar. Namun, tanpa disadari, cara berpikir seperti ini dapat membuat perempuan merasa bahwa mereka tidak mampu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa banyak perempuan tumbuh dengan berbagai ekspektasi sosial yang membatasi ruang geraknya. Perempuan sering diharapkan untuk berhati-hati, tidak mengambil risiko, dan tidak terlalu jauh keluar dari zona yang dianggap aman. Padahal setiap orang berhak mencoba, belajar, gagal, dan berkembang tanpa dibatasi oleh stereotip gender.
Saya tidak menulis pengalaman ini untuk menyalahkan siapa pun. Saya memahami bahwa banyak orang menyampaikan pandangan tersebut karena mereka juga tumbuh dalam lingkungan yang menganggapnya sebagai sesuatu yang normal. Namun, menurut saya sudah saatnya kita mulai mempertanyakan anggapan-anggapan lama yang tidak lagi relevan.
Dari pengalaman sederhana sebagai perempuan yang ingin mendaki gunung, saya belajar satu hal penting: perempuan bukan beban. Perempuan memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan, menghadapi tantangan, dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Yang dibutuhkan bukanlah pembatasan, melainkan kesempatan dan kepercayaan.
Saya berharap semakin banyak perempuan yang berani mencoba hal-hal yang mereka sukai tanpa harus merasa takut dianggap tidak pantas atau tidak mampu. Alam terbuka tidak memilih siapa yang boleh datang berdasarkan gender. Gunung tidak bertanya apakah seseorang laki-laki atau perempuan. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk melangkah, kemauan untuk belajar, dan keyakinan bahwa setiap orang berhak mengambil ruang yang sama.
Penulis: Aida Amelia Putri, mahasiswi Universitas Negeri Padang, yang memiliki ketertarikan pada isu perempuan, kesetaraan gender, dan alam terbuka. Ia gemar menulis pengalaman pribadi yang berkaitan dengan tantangan sosial yang dihadapi perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui tulisannya, ia berharap semakin banyak perempuan berani mencoba, percaya pada kemampuan diri sendiri, dan tidak lagi dibatasi oleh stereotip gender.
Editor: Hamimie
