Shift Kedua Tak Pernah Usai

Perempuan acap kali digambarkan sebagai sosok yang mampu menanggung segalanya. Bagi perempuan pekerja, tuntutan untuk membantu perekonomian keluarga tidaklah cukup. Sebab ketika pulang kerumah, ia tetap dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan domestik, merawat anak, bahkan memastikan suami untuk merasa nyaman. Dua dunia ini dijalani bersamaan, seolah-olah perempuan memiliki tenaga yang tak kunjung habis. Inilah yang dinamakan beban ganda, shift kedua yang tak pernah usai.

Beban ganda menjadi salah satu tekanan mental yang sehari-hari membayangi perempuan pekerja. Belum lagi, adanya ketimpangan apresiasi dan standar ganda membuat perempuan kian terpasung dalam ekspektasi yang mencekik. Lihat saja, laki-laki yang mengurus anak serta merta dihujani pujian sebagai “suami idaman” atau “ayah yang hebat”. Sementara kontribusi perempuan dalam mengurus anak dianggap angin lalu dengan dalih “oh, itu kan sudah menjadi kewajibannya”.

Dibalik beban ganda, ada sistem yang tumbuh subur bernama patriarki. Patriarki menanamkan keyakinan bahwa perempuan memang harus bisa segalanya. Ia harus menjadi ibu yang baik, istri yang patuh, sekaligus pekerja yang produktif. Jika ia gagal di salah satu peran, maka ia dianggap tidak layak. Padahal, tidak ada manusia yang bisa sempurna di semua panggung.

Di satu sisi, perempuan didesak untuk mandiri secara ekonomi, namun di saat yang sama, jerih payahnya di ranah domestik justru tidak divalidasi. Bahkan, sering dijadikan bahan kritik, seperti masakannya dibandingkan dengan masakan ibu mertua, hingga caranya mengurus rumah yang terus dipersoalkan. Kritik kecil ini adalah bentuk kontrol emosional yang memperkuat beban ganda.

Selain itu, keberadaan stigma sosial semakin mendegradasi posisi perempuan. Perempuan yang bekerja dianggap kurang mengurus rumah. Perempuan yang fokus di rumah dianggap tidak produktif. Apa pun pilihannya, perempuan tetap disalahkan. Stigma ini membuat banyak perempuan merasa bersalah atas hal-hal yang sebenarnya manusiawi. Beban ganda juga menciptakan fenomena gunung es.

Dari luar, perempuan bisa saja tampak menjalani semua peran dengan baik. Namun di bawah permukaan, ada kelelahan emosional dan trauma yang terus menumpuk. Dunia luar hanya melihat puncak gunung es, sementara luka yang sesungguhnya tersembunyi jauh di bawah permukaan. Banyak perempuan memilih diam, karena stigma masyarakat lebih kejam daripada luka yang mereka alami di rumah. Sesungguhnya, tidak ada yang wajar dari kerja tanpa henti yang tidak pernah dihargai. Tekanan berlapis yang hadir setiap hari bukan hanya memicu kelelahan fisik, melainkan kerap berujung pada hilangnya identitas personal mereka.

Tulisan tentang beban ganda ini mengungkap sebuah ketidakadilan struktural yang nyata, jauh melampaui sekadar keluhan atas rutinitas harian yang pernah dialami oleh penulis sendiri. Fenomena ini menjadi bukti betapa kuatnya cengkeraman patriarki yang memaksa perempuan terus-menerus membuktikan kelayakannya, bahkan di dalam rumah mereka sendiri. Kita harus menyadari bahwa kasih sayang sejati tumbuh dari pengakuan dan kesetaraan, bukan dari kontrol atau penghakiman sepihak.

Oleh karena itu, hidup yang merdeka wajib mencakup kebebasan perempuan dari belenggu beban ganda yang timpang. Menghargai setiap kontribusi domestik, membagi peran secara adil, dan menghentikan kritik yang meruntuhkan mental adalah langkah menuju rumah tangga yang aman. Perempuan tidak semestinya menghabiskan hidupnya hanya untuk diuji oleh standar masyarakat. Ia memiliki hak penuh atas dirinya sendiri.

Penulis: Noviani Puspita Sari

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya