Benarkah perempuan yang sekuat ibunya menjadi idaman para laki-laki? Perempuan yang bisa mencari nafkah, sekaligus mengurus rumah tangga, anak-anak, dan suami sekaligus. Tidak boleh mengeluh meskipun jati dirinya perlahan-lahan terkikis oleh kebutuhan keluarga. Nyaris tak pernah memiliki waktu untuk diri sendiri. Tuntutan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Waktu demi waktu berlalu, bulan berganti tahun, namun tugas perempuan seakan tak kunjung usai.
Keadaan kian miris tatkala membaca komentar-komentar yang tertera pada konten Kartini tentang beban ganda tersebut. Banyak perempuan yang merasa relate. Mereka bisa melakukan segala hal seorang diri—mencari nafkah, merawat anak, memasak, dan membersihkan rumah. Namun—tentu saja—mereka tak ingin melakukan semuanya sendiri. Jikapun menikah, kartini-kartini ini ingin berbagi peran, bukan menambah tanggung jawab sendirian.
Di antara komentar yang menambah rasa prihatin tersebut, tak sedikit laki-laki tertarik untuk berkomentar. Banyak di antaranya tersinggung dengan konten demikian. Tak sedikit dari mereka membandingkan perempuan-perempuan—yang katanya mengeluh itu—dengan ibunya—yang masih bisa mencari nafkah, namun tak meninggalkan perannya di rumah tanpa mengeluh sedikitpun. Lalu, di mana peran sang ayah jika hanya ibunya yang menanggung tugas itu sendirian?
Seorang tokoh feminisme dunia, Simone de Beauvoir (2010) memposisikan perempuan sebagai “The Other” dalam masyarakat. Mereka mengalami subordinasi, stereotif, dan ketidaksetaraan dalam berbagai aspek kehidupan. Mereka dibebani peran domestik sekaligus di ruang publik. Ketidakadilan gender yang diakibatkan gender tersebut dikelompokkan menjadi marginalisasi, subordinasi, strereotif (pelabelan), kekerasan dan beban kerja. (Fakih. 1996:14-21)
Kondisi memprihatinkan tersebut juga dialami oleh perempuan-perempuan dalam novel berjudul berjudul Long Lasting and Love karya Ifa Avianty. Dia mengkritik budaya tersebut dan menyuarakan diskriminasi gender yang nyata terhadap perempuan. Uniknya, novel yang tebalnya 321 halaman ini merupakan kisah nyata yang dialami belasan perempuan. Hal ini tercantum dalam cover depannya yang didominasi warna biru dan putih. Benar-benar mewakili untaian isi hati para perempuan yang hidup dengan banyak tuntutan tak masuk akal. Melalui kisah para perempuan ini, kita bisa melihat bagaimana karya sastra ini merefleksikan realitas sosial, termasuk nilai, norma, dan ketimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat. (Damono. 1979:1)
Aku tahu, dia hanya butuh diriku untuk mengurusi segala keperluannya, mendengarkan segala puluh kesahnya, dan melayaninya di tempat tidur […] Dia sering menolak dengan alasan capek jika aku yang memulai. Tapi jika dia yang memulai, aku harus siap.[…] Dia sibuk sendirian, sementara aku tak juga mendapatkan pengurangan jatah pekerjaan rumah tangga (kami nggak punya pembantu). Dia nggak mau makan kalau aku beli masakan dan bukan masak sendiri. Sementara aku maunya muntah melulu kalau cium bau masakan yang kuracik sendiri. (Avianty. 2010:60—62)
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa perempuan berada dalam posisi yang tidak setara dalam hubungan rumah tangga. Tokoh perempuan—istri—harus memenuhi kebutuhan domestik, emosional, dan seksual laki-laki tanpa memiliki kebebasan untuk menentukan keinginannya sendiri. Hal ini sejalan dengan pemikiran Simone de Beauvoir yang menyatakan perempuan sering diposisikan sebagai The Other atau pihak yang lebih rendah dalam masyarakat. Tak hanya itu, tokoh perempuan juga dibebankan dengan tugas domestik meskipun dalam kondisi tidak nyaman. Hal ini menunjukkan adanya beban kerja perempuan yang tidak seimbang. Perempuan harus menanggung lebih dari satu peran dalam waktu bersamaan.
Kehadiran sang anak (terutama laki-laki), diharapkan akan terus menyambungkan garis nasab mereka. Jika anak perempuan yang dilahirkan, kelak ia tidak akan membawa nama belakang/family name tersebut […] Curhat teman saya berikut mungkin akan dapat memberi gambaran tentang ‘repotnya’ menjawab ekspetasi sosial sebagai akibat sistem patriarkal yang dianut oleh sebagian besar masyarakat kita. Makanya, jangan kawini perempuan mandul! (Avianty. 2010:95)
Perempuan—lagi-lagi—ditempatkan dalam posisi tidak setara bahkan sejak dalam kandungan. Anak laki-laki dianggap sebagai penerus garis keturunan keluarga. Sementara itu, anak perempuan sering dianggap kurang penting karena tidak membawa nama keluarga setelah menikah. Akibatnya, nilai anak perempuan seakan-akan menjadi lebih rendah dibandingkan anak laki-laki.
Aku kembali bersu’uzhon. Lihatlah betapa tidak adilnya perlakuan sistem sosial masyarakat kepada perempuan. Kalau dia mandul, dia harus rela dicerai atau dimadu. Huaa, aku lebih baik bunuh diri setelah membunuh suamiku dan istri barunya itu daripada aku dicerai atau dimadu. Tapi coba, bagaimana penilaian masyarakat terhadap istri yang suaminya mandul? Kan, dia nggak mungkin melakukan poliandri toh? Atau dia selingkuh biar bisa punya anak? Habislah dia dicaci maki masyarakat sekelilingnya. Kalau dia minta cerai? Dia akan dianggap sebagai istri yang tak sabar, tidak setia, dan mau enaknya saja. Hiks, sungguh tidak adil. (Avianty. 2010: 140)
Realita ini menggambarkan bagaimana budaya patriarki bekerja secara halus dan menyakitkan—bagi perempuan. Perempuan tak hanya menanggung kerinduan terhadap buah hati, namun juga luka akibat penghakiman sosial. Tekanan tersebut melahirkan rasa bersalah, rendah diri, bahkan perasaan tidak berharga. Beban psikologis ini menjadi bentuk ketidakadilan yang sering diabaikan. Masyarakat—bahkan keluar terdekat sekalipun—merasa wajar menghakimi perempuan, tetapi jarang peduli terhadap dampak emosional yang ditimbulkan. Sementara itu, laki-laki seringkali terbebas dari tekanan sosial yang sama. Padahal suami memiliki peran yang tak kalah penting dalam proses pembuahan tersebut.
Perempuan sering terpaksa menjadi kuat, bukan karena keinginan, namun tuntutan keadaan. Ia harus bekerja, mengurus rumah, melayani keluarga, bahkan memenuhi harapan sosial yang tak ada habisnya. Semua pengorbanan itu terlihat wajar, seolah memang sudah menjadi kodratnya. Padahal, kita perlu mempertanyakan, mengapa beban itu tidak pernah dibagi secara adil? Jika keadilan tidak pernah benar-benar dihadirkan, maka yang disebut perempuan ideal hanyalah cara halus untuk menormalisasi ketimpangan yang sama, dari waktu ke waktu. Tak heran, banyak perempuan modern yang tak lagi memprioritaskan pernikahan. Nyatanya, pernikahan lebih banyak merugikan mereka.
Daftar Pustaka
Avianty, Ifa. 2010. Long Lasting and Love. Jakarta: Penerbit Jendela.
Beauvoir, Simone de. 2010. The Second Sex. New York: Random House
Faqih, M. (1996). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sapardi Djoko Damono. 1979. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Ilutrasi By Junejunia – Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=149702138
Penulis: Yuyun Maulidah
Editor: Hamimie
