Luka Tak Ketara

Hingga saat ini, kekerasan terhadap perempuan masih menjadi salah satu permasalahan sosial yang kerap terjadi di Indonesia. Bentuk dari kekerasan ini tidak selalu berupa kekerasan fisik yang bisa dilihat secara langsung, namun juga adanya tekanan psikologis yang tentunya meninggalkan luka trauma mendalam bagi korban. Luka seperti ini sering sekali tidak bisa dilihat dan dirasakan oleh Masyarakat.

Salah satu kasus yang menyita perhatian penulis maupun publik adalah dugaan penyekapan dan penganiayaan seorang perempuan oleh pacarnya selama bertahun-tahun. Kasus tersebut menunjukkan bahwa kekerasan dapat terjadi dalam hubungan yang seharusnya menjadi tempat rasa aman, bahkan dalam kasus ini pun masih saja perempuan yang menjadi korban.

Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan realitas yang digambarkan dalam novel CANTIK ITULUKA karya Eka Kurniawan. Novel ini menceritakan berbagai bentuk ketidakadilan dan penderitaan yang dialami perempuan. Melalui alur cerita, serta pembentukan karakter tokoh-tokohnya, Eka Kurniawan mengajak pembaca-nya agar dapat memahami bagaimana relasi kuasa dapat menepatkan perempuan pada posisi yang sangat retan. Pesan tersebut masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, apalagi untuk para perempuan di Indonesia.

Menurut pandangan penulis, salah satu cara untuk mengurangi kasus kekerasan terhadap Perempuan melalui peningkatan literasi. Literasi ini tidak hanya berarti kemampuan membaca dan menulis saja, namun juga mencakup kemampuan memahami informasi serta berpikir kritis.  Dengan adanya literasi yang baik seseorang dapat mengenali tanda-tanda kekerasan sejak dini.

Masih banyak masyarakat yang menganggap tindakan mengontrol pasangan sebagai bentuk kasih sayang. Padahal, perilaku seperti membatasi pergaulan atau mengawasi secara berlebihan merupakan bentuk kekerasan psikologis. Tindakan tersebut dapat merusak kesehatan mental korban. Sayangnya, banyak orang belum menyadari hal tersebut.

Kurangnya literasi gender juga menyebabkan munculnya budaya menyalahkan korban. Ketika terjadi kasus kekerasan, Sebagian masyarakat lebih fokus mempertanyakan tindakan korban. Sikap ini membuat korban merasa takut untuk berbicara dan mencari pertolongan. Akibatnya, kasus kekerasan sering kali tidak terungkap.

Pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran Masyarakat mengenai kesetaraan gender. Sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu pengetahuan. Sekolah juga berfungsi sebagai tempat pembentukan karakter dan nilai-nilai kemanusia. Oleh karena itu, Pendidikan mengenai kesetaraan perlu diberikan sejak dini.

Melalui pendidikan, generasi muda dapat belajar untuk menghormati hak orang lain. Mereka juga dapat memahami pentingnya hubungan yang sehat dan bebas dari kekerasan. Pengetahuan tersebut akan membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman. Dengan demikian, Risiko terjadinya kekerasan dapat diminimalkan.

Selain pendidikan, media massa dan media sosial juga memiliki peran yang besar. Informasi yang disebarkan melalui media dapat meningkatkan kesadaran Masyarakat mengenai isu gender. Media dapat menjadi sarana edukasi yang efektif  digunakan secara bijak.

Di era digital saat ini, masyarakat harus mampu menyaring informasi secara kritis. Tidak semua inftormasi bisa dipercaya. Kemampuan memahami dan mengevaluasi informasi merupakan bagian penting dari literasi. Hal ini dapat membantu Masyarakat terhindar dari pandangan yang diskriminatif.

Kekerasan terhadap Perempuan bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah sosial. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban, melainkan juga oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, penyelesaianya memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Kesadaran bersama menjadi kunci utama dalam pencegahan kekerasan.

Pada akhirnya, luka yang tidak terlihat sering kali lebih sulit disembuhkan dibandingkan luka fisik. Trauma, rasa takut, dan hilangnya rasa percaya diri dapat membekas dalam waktu yang cukup lama. Melalui peningkatan literasi, Masyarakat dapat lebih memahami pentingnya menghormati sesama manusia. Dengan demikian, lingkungan yang aman dan setara dapat terwujud bagi semua orang, baik laki-laki maupun Perempuan.

Penulis: D. Niskala Kata

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya