Kesetaraan gender dalam keluarga dapat diwujudkan melalui pembagian tanggung jawab rumah tangga yang adil. Dalam praktiknya, pembagian tugas di rumah masih sering dipengaruhi oleh kebiasaan yang berkembang di masyarakat, sehingga belum memberikan kesempatan yang sama untuk setiap anggota keluarga.
Salah satu bentuk penerapan kesetaraan gender dalam keluarga adalah pembagian tanggung jawab rumah secara adil. Pekerjaan seperti membersihkan rumah, memasak, mencuci, merapikan ruangan, merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilakukan berdasarkan kesepakatan, kemampuan, dan kondisi masing-masing anggota keluarga. Pendekatan ini tidak hanya membantu menyelesaikan pekerjaan rumah secara efektif, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab, kerja sama, dan saling menghargai.
Namun, dalam praktiknya masih terdapat keluarga yang pembagian tugasnya dipengaruhi kebiasaan yang telah berkembang sejak lama. Adanya praktek patriarki yang sering terjadi dilingkungan kita membuat orang-orang berfikir bahwa tugas rumah itu hanya tugas perempuan saja,dan laki-laki hanya bertugas untuk mencari nafkah saja.Kondisi tersebut dapat menyebabkan pembagian tanggung jawab menjadi kurang seimbang dan membatasi kesempatan sebagian anggota keluarga untuk belajar, bekerja, beristirahat, maupun mengembangkan potensi diri. Oleh karena itu, diperlukan perubahan cara pandang bahwa pekerjaan rumah merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dikerjakan oleh setiap anggota keluarga sesuai dengan kemampuan dan kesepakatan.
Esai ini bertujuan untuk membahas pentingnya pembagian tanggung jawab di rumah sebagai salah satu bentuk penerapan kesetaraan gender dalam keluarga. Melalui pembahasan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bahwa pembagian peran yang adil tidak hanya menciptakan keluarga yang harmonis, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang menjunjung tinggi nilai keadilan, kerja sama, dan saling menghormati.
Rumah adalah tempat awal kita belajar, bertumbuh dan berkembang . Disini kita pertama kali belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan dan kerjasama.Karena dalam kehidupan sehari-hari kita memiliki tugas dan tanggung jawab sendiri seperti mencari nafkah, membersihkan rumah, mencuci dan memasak.Seharusnya kita dapat membagi tanggung jawab tersebut dengan adil,bukan sesuai jenis kelamin tetapi sesuai dengan kemampuan, waktu dan kondisi masing-masing.Tanggung jawab yang adil dirumah ini sangat penting, karena kita sering melihat adanya ketidaksetaraan dalam pembagian tugas ini.Dapat kita lihat disuatu rumah yang sering kali melakukan tugas rumah tangga seperti memasak, mencuci piring, mencuci baju,dan beres-beres itu adalah perempuan.
Ketimpangan dalam pembagian tugas rumah tangga muncul tanpa kita sadari. Ia sudah ada sejak zaman dahulu sebelum kita sampai pada masa modern saat ini.
Ketidakseimbangan dalam pembagian tugas rumah tangga memiliki dampak yang luas dan nyata. Pertama, dari segi kesehatan. Beban ganda yang ditanggung perempuan terbukti berkontribusi pada tingkat stres yang lebih tinggi, kelelahan kronis, dan risiko gangguan kesehatan mental. Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Social Science & Medicine menunjukkan korelasi kuat antara beban kerja domestik yang tidak proporsional dengan tingkat depresi pada perempuan (Bird, 1999).
Kedua, ketimpangan ini memengaruhi karir dan potensi ekonomi perempuan. Ketika harus membagi energi antara pekerjaan kantor dan urusan rumah, perempuan sering kali kesulitan untuk mengejar promosi, mengembangkan keterampilan, atau bahkan sekadar beristirahat dengan cukup. Ini menciptakan siklus yang merugikan: perempuan berpenghasilan lebih rendah, maka dianggap wajar jika ia yang lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah.
Ketiga, ketimpangan ini berdampak pada kualitas hubungan pasangan. Penelitian oleh Frisco dan Williams (2003) dalam Journal of Family Issues menemukan bahwa persepsi ketidakadilan dalam pembagian tugas rumah tangga menjadi salah satu faktor utama ketidakpuasan pernikahan dan meningkatnya risiko perceraian.
Tapi sebenarnya tugas itu bukan hanya tugas perempuan.Oleh karena itu kita harus menerapkan sistem pembagian tugas yang adil dirumah agar kita dapat sama-sama meringankan semua pekerjaan dan tugas yang ada.Pembagian tugas dan tanggung jawab yang adil ini bukan berarti setiap orang harus melakukan pekerjaan yang sama, tetapi setiap orang memiliki kesempatan sesuai dengan kemampuannya dan saling membantu ketika dibutuhkan.
Saya memiliki pengalaman sendiri disalah satu keluarga disekitar tempat tinggal saya.Dimana keluarga tersebut sering menerapkan pembagian tugas rumah yang adil .Semua pekerjaan rumah yang ada itu biasanya dikerjakan oleh anggota keluarga tanpa ada nya ketimpangan.
Seperti ada satu orang yang mencuci baju nanti yang lain juga ikut membantu mencuci dan menjemur pakaian tersebut.Contoh lainnya ketika ada salah satunya yang sedang memasak yang lain juga ikut membantu, walaupun itu sekedar membantu menyiapkan bahan dan alat masaknya ataupun membantu mencucikan alat-alat yang digunakan.Saya melihat dengan adanya kerjasama tersebut kehidupan dalam rumah tangga dapat lebih harmonis dan bahagia.
Pembagian tugas dan tanggung jawab yang adil dirumah sangat penting.Tugas rumah tidak hanya dikerjakan oleh satu orang saja tetapi harus dikerjakan secara bersama-sama dan saling tolong menolong.Karena hal ini dapat meringankan pekerjaan dan juga dapat menciptakan kehidupan sehari-hari yang tentram dan damai.
Dan dengan adanya kerjasama sama ini kita dapat menanamkan kebiasaan saling tolong menolong, kerjasama, keadilan dan bahkan juga dapat memulai untuk mewujudkan kesetaraan gender.
Referensi
Atikah, A. M. (2023). Peran orang tua dalam menerapkan pembagian tugas berbasis gender pada anak di Daerah Cipare. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Non Formal, 1, 87–95
Imamia, Q., & Jannah, S. (2024). Peran gender dalam pembagian tugas rumah tangga perspektif konseling feminis di Desa Polagan Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang. Jurnal Misykat, 9(1).
Dempsey, K., & Critchley, C. (2010). Declining Dependence on Wives’ Domestic Labour: Australian Couples from 1986 to 2005.Journal of Marriage and Family.
Bird, C. E. (1999). Gender, Household Labor, and Psychological Distress.Journal of Health and Social Behavior.
Frisco, M. L., & Williams, K. (2003). Perceived Housework Equity, Marital Happiness, and Divorce in Dual-Earner Households.Journal of Family Issues.
Duvander, A. Z., & Johansson, M. (2012). What are the effects of reforms promoting fathers’ parental leave use?Journal of European Social Policy.
Penulis: Hidayatul Annava, mahasiswi Universitas Negeri Padang di Fakultas Ilmu Sosial Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Perempuan kelahiran 2006 adalah seseorang yang melihat adanya kesetaraan gender dalam salah satu keluarganya. Ia yakin bahwa perubahan itu dapat dimulai dari hal-hal kecil seperti dari keluarga.
Editor: Hamimie
